full screen background image

Ada Apa Dibalik Penutupan Klinik Edelweis Gunung Gede Pangrango?

Lapan6online.com – Jakarta : Para Pendaki  Gunung Gede Pangrango mengeluhkan penutupan Klinik Edelweis di Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP,red) Jawa Barat, yang di berlakukan sejak 24 Oktober 2017. Padahal sebelumya klinik tersebut secara resmi di tanggal 6 Juli 2017 dan di apresiasi oleh Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup.

Ketua Umum Pencinta Alam dan Panjat Tebing Indonesia (Perpaguti,red) Ade Subardan mengatakan, dengan adanya klinik tersebut calon pendaki dapat mengurus surat keterangan kesehatan dengan cermat. Karena hal itu juga telah dibuat peraturan yang tertuang dalam Surat Edaran SE.860/BBTNGGP/Kabidtek/Tek. P2/07. 2017 yang diterbitkan tanggal 6 Juli 2017.

Menurut Ade, Klinik tersebut sangat membantu para pendaki, da nada dampak positif bagi masyarakat sekitar,”Jujur saya katakan, dengan adanya Klinik di lingkungan TNGP sangat membantu pendaki, begitu juga dengan masyarakat sekitar dan paling tidak bisa meminimalisir berbagai kecelakaan dalam pendakian. Sebab klinik itu dekat dan cepat tanggap. Makanya saya juga apresiasi kepada Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Adison yang berani mendatangani surat ijin oprasional klinik saat itu,” ungkapnya kepada Wartawan, Kamis (2/10/2017).
Lebih lanjut Ade menambahkan, dengan adanya klinik di lingkungan TNGP, calon pendaki bisa mengurus surat kesehatan. Dari pada di tempat lain yang belum tentu keabsahanya dibenarkan. Surat kesrhatan itu penting sebagai salah satu dokumen persyaratan untuk melakukan pendakian dari jauh-jauh hari.

“Saat ini ada keganjilan dari surat edaran yang di terima para pendaki. Kepala balai memberhentikan klinik dengan berbagai alasan dan pertimbangan. Tapi disisi lain mendorong koperasl Edelweis menjadi pengelelola kelinik dengan segera mengurus ijin. Kan Koperasi juga sudah berijin dan Kepala Balai mengijinkan waktu itu. Bahkan Bu Menteri juga udah mengaprwsiasi, ko di stop tapi mau di oprasionalkan lagi. Maksudnya apa??,” ucap Ade penuh tanya.

Menurutnya, selama ini surat keterangan sehat itu para pendaki dari jauh hari sudah dibuat sebelum pendakian. Pas hari pendakian itu sudah tak sehat tapi dipaksakan naik. Itu sering terjadi. Surat kesehatan itu jadi tak update lagi. Selain itu, pemeriksaan kesehatan sebelum pendakian juga bisa memastikan calon pendaki yang tengah menstruasi.

“Pasalnya, pihak BBTNGGP seringkali menemukan pendaki wanita yang tak sehat ketika mendaki saat masa menstruasi. Contohnya pendaki wanita yang sudah dewasa, haid, tetep akan naik. Bagi yang naik sedang haid, 90 persen itu kena masalah. Saat mens itu keluar darah kotor terus menerus, yang bisa mengurangi daya tahan tubuh. Itu bisa mengakibatkan pingsan. Itu sering kecolong. Sekarang tak bisa lagi, kita screening,” tambahnya.

Lewat kebijakan sebelumnya, kata Ade, pengelolaan surat keterangan kesehatan untuk mendapatkan kepastian kondisi kesehatan calon pendaki. Klinik Edelweis tersebut sangat membantu banget. “Jadi saya harap tak perlu lah di tutup, biatkan oprasional sebagaimana mestinya. kalaupun harus buat ijin sendiri ya sambil betjalan,” pungkasnya. Red




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *