full screen background image


Oknum Guru SD Di Kalbar Aniaya Siswa Terancam Dipenjara

Lapan6online.com – Kapuas Hulu/KALBAR : Terkait kasus penganiayaan yang dilakukan oleh salah satu oknum guru kepada beberapa murid SDN 2 Riam Panjang, Kecamatan Pengkadan, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat beberapa bulan lalu, resmi menjadi tahanan Kejaksaan Negeri Kapuas Hulu.

Kejadian tersebut pada 23 Februari 2017 sekitar pukul 12.05 WIB, dengan alasan karena yang bersangkutan tidak terima anaknya diperas oleh keempat siswa yang kebetulan juga merupakan siswa SDN 2 Riam Panjang, Kecamatan Pengkadan, Kapuas Hulu.

“Tersangka berinisial BB, salah satu oknum guru resmi kita tahan di Rutan Putussibau pada hari Selasa (9/5/17) setelah dari pihak penyidik Polres Kapuas Hulu menyerahkan berkas pemeriksaan kepada Kejaksaan Negeri Kapuas Hulu,” kata Kepala Kajari Kapuas Hulu melalui Kasi Pidana Umum Mugiono Kurniawan.

Menurutnya, “Dasar kita melakukan penahan terhadap TSK (tersangka,red) adalah setelah hasil pemeriksaan dari penyidik sudah masuk tahap dua dan secara materil formil sudah memenuhi syarat untuk dilakukan penahanan, “ jelasnya kepada wartawan dikantornya, Rabu (10/5/17).

Lebih lanjut Mugiono menambahkan bahwa,”Kita lakukan penahanan karena sudah memenuhi syarat dua alat bukti yaitu beberapa keterangan para saksi dan hasil visum para korban, walaupun TSK tidak mengakui telah melakukan penganiayaan,” tambah Mugiono.

Setelah ini berkas hasil penyidikan tersebut akan kami limpahkan kepada pihak Pengadilan Negeri Putussibau. “Biasanya paling lama sekitar seminggu berkas diserahkan ke Pengadilan, baru ada jadwal persidangannya,” jelasnya.

Dalam kasus ini tersangka dikenakan UU RI nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak dengan ancaman kurungan 3,6 tahun dan Pasal 351 Ayat 1 KUHP dengan ancaman kurungan 2,8 tahun, ungkapnya.

“Kita tunggu saja jadwal sidangnya dari pengadilan karena berkasnya sudah lengkap untuk kita serahkan,” pungkasnya.

Wakil Bupati Minta Tindak Tegas Pelaku Aniaya Siswa
Sementara itu Wakil Bupati Kapuas Antonius L Ain Pamero menegaskan agar oknum guru yang melakukan penganiayaan kepada beberapa murid harus mendapat tindakan dan sanksi tegas.

“Bukan saya tidak tahu ada oknum guru yang melakukan penganiayaan kepada beberapa muridnya, itu harus ditindak tegas,” tegas Antonius di hadapan kepala SD dan SMP se-Kapuas Hulu di Putussibau, Kapuas Hulu.

Selain itu Antonius juga membeberkan ada beberapa guru yang tidak melaksanakan tugas, padahal menurutnya Kapuas Hulu masih banyak kekurangan guru.  “Saya pernah mengunjungi beberapa sekolah yang tidak ada kepala sekolah tidak berada di tempat,” tutur Antonius.

Dalam hal ini Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kapuas Hulu, Petrus Kusnadi menegaskan pihaknya sudah mengirimkan tim dalam menindaklanjuti oknum guru yang melakukan penganiayaan kepada muridnya. “Kita akan cek apakah pelaku itu dalam keadaan normal, karena kekerasan terhadap murid jika bisa dihindari,” jelas Kusnadi.

Pelaku yang diduga menganiaya beberapa murid itu berinisial BB yang bertugas di SDN 16 Buak Maung Kecamatan Pengkadan. Pelaku melakukan penganiayaan kepada empat orang siswa SDN 2 Riam Panjang Kecamatan Pengakadan.

Sementara itu, secara terpisah Ayang Suhana salah satu orang tua korban mengatakan bahwa menyerahkan semua proses ini kepada pihak penegak hukum yang ada, baik Polisi, Jaksa dan Pengadilan nantinya.

Dirinya juga mengungkapkan,”Kalau awalnya dulu kami dari orang tua korban tidak mau sampai lari ke proses hukum dan diselesaikan secara kekeluargaan. Tapi karena BB tidak mau mengakui kesalahannya dan disalahkan, walaupun anak kami sudah disakitinya sampai salah satu korban tidak mau bersekolah lagi di SD tersebut karena trauma, akhirnya mau tidak mau kami lanjutkan keproses hukum yang berlaku. Sebenarnya kami tidak mau sampai sidang segala karena pasti banyak biaya yang harus dikeluarkan, sebab kami merupakan orang yang tidak mampu yang keseharian kami sebagai petani dan penoreh karet,” ungkapnya.

Bahkan Ayang kasus ini menjadi pelajaran berharga para guru di Republik ini, “Saya berharap kepada penegak hukum bisa adil dalam memberi keputusannya. Jangan karena kami orang yang tidak mampu atau tidak ada pengacara nantinya lalu dianggap kalah. Kami juga berserah kepada Allah, sebab hukum Allah tetap berlaku nantinya, “ harap Ayang. Rajali