full screen background image

Apes! Cagub NTT yang Diusung PDIP dan PKB Terjaring OTT KPK

Lapan6online.com : Calon Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diusung PDIP Marianus Sae, terjaring operasi tangkap tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Saat ditangkap KPK, status Maranus Sae adalah Bupati Ngada, NTT. Dia diduga menerima suap sebesar Rp4,1 miliar untuk memuluskan proyek senilai Rp54 miliar.

Juru Bicara KPK Febri Diansyah menyatakan, Marianus ditangkap bersama satu orang lainnya di wilayah NTT. Saat ini keduanya tengah menjalani serangkaian pemeriksaan dari penyidik KPK.
Febri juga menjelaskan, tim penindakan KPK juga menangkap beberapa orang lainnya yang diduga ikut telibat. Mereka ditangkap di daerah lain. “Sekarang masih dalam perjalanan ke KPK,” kata dia.
Marianus adalah calon gubernur NTT dalam gelaran Pilkada serentak 2018, yang berpasangan dengan Emmilia. Pasangan ini diusung PDIP dan PKB.

Setelah melalui serangkaian pemeriksaan selama 1×24 jam, pada Minggu (11/2/2018) KPK menetapkannya sebagai tersangka.

“KPK menetapkan dua tersangka. Pertama, MSA yang diduga sebagai penerima (suap). Dia Bupati Ngada 2015-2022,” kata Wakil ketua KPK Basaria Panjaitan, di gedung KPK, Jakarta, Senin (12/2).
Sedangkan tersangka kedua beinisial WIU, seorang Direktur PT S99P yang diduga bertindak sebagai pemberi suap.

KPK menjerat tersangka Marianus dengan Pasal 5 ayat (1) huruf a atau huruf b atau Pasal 13 UU No. 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU 20 Tahun 2001.

Sementara tersangka WIU dijerat Pasal 12 huruf a atau b, atau Pasal 11 UU 31 1999 yang diubah dengan UU 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

“Hasil gelar perkara kami simpulkan, telah terjadi tindak pidana korupsi, yaitu memberikan atau menerima hadiah atau janji dari pengusaha kepada Bupati Ngada untuk memuluskan proyek-proyek di Kabupaten Ngada,” kata Basaria.

Selain Marianus, KPK juga menggelandang lima orang lainnya. Mereka adalah MSA, ATS (Ketua Tim Penguji Psikotes Cagub NTT), DK (ajudan Bupati), WIU (pengusaha), PP (pegawai BNI cabang Gajawa, Ngada).

Adapun barang bukti yang disita KPK antara lain ATM BNI berikut struk transaksi. Menurut Basaria, Marianus menerima suap sebesar Rp 4,1 miliar dari WIU. Uang itu meruakan imbalan janjikan proyek-proyek di Kabupaten Ngada, NTT, yang nilainya mencapai lebih dari Rp54 miliar.

“Jumlah total uang yang ditransfer dan cash oleh WIU ke MSA mencapai Rp4,1 miliar,” ujar Basaria.
Proyek tersebut antara lain, pembangunan jalan Poma Boras senilai Rp5 miliar, proyek jembatan Bawae Rp3 miliar, proyek ruas jalan Ranamoeteni Rp20 miliar, proyek jalan Riominsimarunggela Rp14 miliar, proyek ruas jalan Tadawaebella Rp5 miliar, proyek ruas jalan Emerewaibella Rp5 miliar, dan proyek ruas jalan Warbetutarawaja Rp2 miliar.

Uang suap itu diberikan kepada Marianus melalui perbankan dan tunai. Teknik pemberian dilakukan dengan kartu ATM yang dibuat atas nama WIU, pada 2011. Kemudian ATM tersebut diberikan kepada Marianus.
Suap pertama dilakukan secara tunai pada November 2017 di Jakarta, sebesar Rp1,5 miliar. Kedua, pada Desember 2017, dalam bentuk transfer Rp2 miliar di rekening WIU.

Ketiga, dilakukan dengan tunai sebesar Rp400 juta di rumah dinas Bupati Ngada, pada 16 Jan 2018. Terakhir, secara tunai senilai Rp200 juta di rumah Bupati Ngada, pada 6 Februari 2018. Red

*Penulis : Syarif Hidayatullah adalah Pemimpin Redaksi Kabarjitu.com



Owner


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *