full screen background image

Atlet Disabilitas Binaan Panti Ukir Prestasi Kejuaraan Renang

Lapan6online.com – Jakarta : Menjadi disabilitas bukan penghalang untuk berprestasi. Itu yang menjadi keyakinan dari anak-anak disabilitas binaan Panti Sosial Bina Netra Rungu Wicara Cahaya Bathin milik Dinas Sosial DKI Jakarta.
Sebanyak 16 orang anak binaan panti menjadi atlet dalam Kejuaraan Renang Disabilitas tingkat Provinsi DKI Jakarta. Mereka berhasil menyabet beberapa medali untuk dibawa pulang.

“Ada tujuh medali juara pertama di beberapa kategori yang didapat oleh anak binaan kami,” ujar Kepala Panti Sosial Bina Netra Rungu Wicara Cahaya Bathin, Mukhlisin saat dihubungi pada Jumat (27/10).

Mereka yang juara antara lain juara pertama kategori renang 25 meter kaki gaya bebas menggunakan pelampung kelompok A1 Putra atas nama Muhammad Lutfi. Juara pertama kategori renang 25 meter gaya bebas menggunakan pelampung kelompok A1 Putri atas nama Fatma Aulia.

Juara pertama kategori renang 25 meter gaya bebas menggunakan pelampung kelompok B1 Putra atas nama M Sulaiman S P. Juara pertama kategori renang 25 meter gaya bebas menggunakan pelampung kelompok B1 Putri atas nama Elsa Tiurmaida L. S.

Juara pertama kategori renang 25 meter gaya bebas menggunakan pelampung kelompok C1 Putri atas nama Nurcahyani. Juara pertama kategori renang 50 meter gaya bebas menggunakan kelompok D1 atas nama Seno Sumadi.
Juara pertama kategori renang 25 meter gaya bebas menggunakan kelompok C1 Putra atas nama M Wildan Kausar.
“Peserta lomba ini berasal dari disabilitas netra, rungu wicara, daksa dan grahita,” ujar Mukhlisin.

Ia melanjutkan, Kejuaraan renang disabiltas ini bertujuan untuk menjaring dan mengembangkan potensi disabilitas khususnya olahraga renang.

Adapun anak-anak disabilitas ini difasilitasi oleh panti untuk latihan renang rutin. Latihan dilaksanakan setiap hari rabu dan sabtu dengan instruktur Bapak Daud dan didampingi oleh tenaga pelayanan sosial.

“Latihan olahraga renang pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan latihan renang orang pada umumnya. Yang membedakan hanya saja pelatih dan pendamping harus mengarahkan anak disabilitas agar lebih berhati-hati karena keterbatasan penglihatan,” ungkap Mukhlisin.

Ketika selesai menerima medali penghargaan, terpancar wajah bahagia, terharu dan bangga. Jerih payah selama latihan terbayar oleh penghargaan yang diberikan.

Sedangkan yang belum mendapat juara menjadikan perlombaan ini sebagai bahan pacu agar berlatih lebih giat lagi.

“Untuk kedepannya akan dibuka cabang olahraga lainnya supaya anak-anak disabilitas ini dapat lebih mengembangkan potensi yang dimilikinya,” kata Mukhlisin. Ragil




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *