full screen background image


Demi Pertimbangkan Keamanan? Ahok Dipindahkan dari Rutan Cipinang ke Mako Brimob

Lapan6online.com – Jakarta : Demi keamanan akhirnya Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang divonis 2 tahun penjara dan baru saja menghuni rumah Tahanan Cipinang Jakarta Timur, dipindahkan ke Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Rabu (10/05/2017) dini hari. Demikian disampaikan Kapolres Jakarta Timur Kombes Pol Andry Wibowo kepada wartawan Rabu (10/05) dini hari.

“Sudah pindah malam ini, sudah pindah, sudah pindah. Kami mewakili institusi masing-masing hari ini menjawab pernyataan dari pada rekan-rekan,” kata Andry.
Sebelumnya, Ahok tiba di Rutan Cipinang dengan pengawalan lengkap dan menggunakan mobil barracuda sekira pukul 12.01 WIB, Selasa (09/05) siang. Penahanan Ahok langsung dieksekusi oleh Jaksa setelah Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara menjatuhkan vonis dua tahun penjara kepada mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut.

Pemindahan Ahok ke Mako Brimob ini rupanya luput dari perhatian para pendukungnya. Setelah sebagian besar membubarkan diri, beberapa di antara mereka hingga Rabu dini hari masih bertahan di depan Rutan Cipinang sambil menyalakan lilin menuntut Ahok dibebaskan.

Agar Ahok Jadi Tahanan Kota
Sementara itu, Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat berencana menjaminkan dirinya untuk mengajukan penangguhan penahanan terpidana kasus penodaan agama Basuki Tjahaja Purnama yang dijatuhi hukuman penjara dua tahun.

“Saya sebagai Wagub mengajukan jaminan untuk penahanan Pak Ahok supaya bisa ditangguhkan, bisa dalam bentuk penahanan kota,” kata Djarot seusai membesuk Ahok di Rumah Tahanan Kelas I Cipinang, Jakarta Timur, Selasa. Pasalnya, menurut Djarot, Ahok selama proses persidangan berlaku kooperatif. Di sisi lain, penangguhan penahanan ditujukan agar proses pemerintahan Provinsi DKI Jakarta bisa berlangsung secara terjamin. “Saya memandang Pak Ahok sangat kooperatif, tidak menghilangkan barang bukti. (Penangguhan penahanan) supaya menjamin proses pemerintahan,” kata Djarot.

Sementara itu, Djarot mengaku ia sudah menyampaikan kepada Ahok agar bersabar dan tetap menempuh langkah sesuai koridor konstitusi. “Kami menghargai, menghormati keputusan yang sudah disampaikan majelis hakim tapi kita juga mempunyai hak untuk melakukan proses banding,” kata Djarot.

Djarot tiba di Rutan Cipinang beberapa saat setelah Ahok tiba dengan kendaraan taktis barracuda. Djarot juga mengaku sudab bertemu dengan istri Ahok, Veronica Tan, anak sulung Ahok, Nicholas Sean Purnama, dan segenap keluarga besar Ahok termasuk adik kandungnya.

Ahok Harus Diberhentikan Sementara
Dalam kesempatan lain, pakar hukum tata negara Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra meminta pemerintah untuk memberhentikan sementara Ahok dari jabatannya setelah yang bersangkutan divonis bersalah dengan 2 tahun penjara. Demikian keterangan tertulis yang disampaikan, Selasa (09/05) siang.

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok akhirnya divonis dua tahun penjara karena menurut majelis hakim, Ahok terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan penodaan agama terkait Surah Al Maidah, melanggar Pasal 156a KUHP. Tidak hanya itu, Majelis Hakim juga memerintahkan agar Ahok dimasukkan ke dalam tahanan, yang harus dilaksanakan oleh jaksa penuntut umum.

Vonis yang dijatuhkah majelis hakim PN Jakarta Utara itu memang lebih berat dari tuntutan jaksa yang hanya menuntut Ahok dipidana 1 tahun dengan masa percobaan 2 tahun. Yusril sebelumnya sudah menyatakan, hakim bisa saja menghukum Ahok lebih berat dari tuntutan jaksa. Vonis seperti itu disebut vonis ultra petita. Hakim beralasan bahwa mereka bertugas untuk menegakkan hukum dan keadilan. Karena itu, rasa keadilanlah yang dikedepankan, bukan sekadar tuntutan jaksa yang dibacakan di persidangan.

Apapun vonis yang dijatuhkan pada seseorang, apalagi Ahok, pastilah menjadi vonis yang kontroversial. Bagi yang suka, vonis itu dianggap terlalu berat. Mereka bahkan ingin agar terdakwa diputus bebas karena mereka anggap tidak bersalah. Sebaliknya, bagi mereka yang tidak suka, hukuman yang dijatuhkan kepada Ahok, pastilah dianggap terlalu ringan. Mereka, bahkan ingin agar terdakwa dihukum seberat-beratnya.

Kalau kita bandingkan dengan kasus-kasus penodaan agama yang lain yang sudah divonis, vonis terhadap Ahok cukup ringan. Beberapa kasus penodaan agama di Jakarta, Bali dan Pangkal Pinang, dijatuhi hukuman 4 tahun, lebih lama dua tahun dibanding Ahok.

Ahok sendiri sudah menyatakan banding atas putusan pengadilan hari ini. Belum tahu seperti apa sikap jaksa. Dengan demikian, putusan ini belum inkracht van gewijsde atau belum berkekuatan hukum tetap. Karena itu, secara hukum berdasarkan asas praduga tidak bersalah, sampai saat ini status Ahok masih belum jelas, apakah salah atau tidak salah, sampai ada putusan yang berkekuatan hukum tetap. Bahwa secara awam, orang menganggap Ahok sudah bersalah, hal itu tentu dapat kita maklumi.

Namun putusan Majelis Hakim PN Jakarta Utara itu, seperti saya katakan di atas, disertai perintah agar Ahok segera dimasukkan ke dalam tahanan. Vonis “segera masuk” ini menurut pemberitaan media siang ini (Selasa 09/05) telah dilaksanakan oleh Jaksa. Ahok sudah dibawa masuk ke Rutan Cipinang. Artinya, Ahok kini berstatus tahanan dengan putusan hakim sampai putusan pengadilannya mempunyai kekuatan hukum tetap nantinya.

Dengan ditahannya Ahok, maka Pemerintah harus memberhentikan sementara Ahok dari jabatannya yang akan berakhir bulan Oktober 2017 nanti. Nampaknya, proses banding dan kasasi yang dijalani Ahok belum akan selesai sampai Oktober, sehingga kemungkinan Ahok akan kembali menduduki jabatannya sampai bulan Oktober juga kecil kemungkinannya. Sumber : Sayangi.com/Mas Te