full screen background image

Dua Direktur Tergiur Bisnis Uang Merah, Tilep Uang Perusahaan Rp.795 Juta

Lapan6online.com – Jakarta : Aksi nekat cepat kaya memang konyol bagi dua bersaudara ini. Spekulasi yang sangat dahsyat oleh kedua bersaudara ini hebat, namun banyak yang dikorbankan. Adalah Timmy Karfendi dan Wibowo Mulyawan Karfendi, mereka tergiur bisnis uang merah atau polymer pecahaan Rp.100 ribu yang katanya  nilainya Rp.180 Milyar, uang tersebut terdiri 2 kotak emisi tahun 1997, 1 kotak emisi tahun 1999.

Berdasar pengakuan mereka, dimana uang tersebut akan di konversikan ke mata uang USD. Sedangkan dalam perusahaan Timmy Karfendi sebagai Direktur pembelian dan penjualan PT.Delima Mustika Kencana atau DMK, perusahaan tersebut ber- gerak di bidang batubara, sedangkan Wibowo Mulyawan Karfendi sang adik ini pun sebagai Direktur Keuangan PT. Cahaya Bintang Fajar yang bergerak di bidang yang sama, peran Wibowo adalah membantu aksi nekat kakak tercintanya untuk menggelapkan uang  Perusahaan PT. Delima Mustika Kencana milik Thian Lie Thong sebaga Direktur Utama PT. Delima Mustika Kencana.

Terdakwa II Wibowo Mulyawan Karfendi. Foto2 : Ist

Kolaborasi Timmy Karfendi dan Wibowo pun berhasil mendapatkan uang sebesar Rp.795 juta, tidak hanya itu saja Timmy Karfendi dalam Suratnya berkop PT. Cahaya Bintang Fajar bernomor :008/CBF-KF/080114 tertanggal 6 Februari 2014 dengan perihalnya adalah konversi IDR/Polymer, dalam surat tersebut Timmy menyebutkan bahwa perusahaannya telah terafiliasi dengan Kimi Farma, entah bagaimana model sistem yang diciptakan oleh Timmy untuk mencairkan uang merah tersebut.

Alih-alih dengan bermacam cara pun dia lakukan, berharap menjadi milyarder. Namun aksi nekat penggelapan uang perusahaannya tercium pemilik. Timmy pun di laporkan ke Polda Metro Jaya oleh Drs. Bachtiar Sukria sebagai Direktur Operasional yang di damping kuasa hukumnya Golfrits Mustopo Hasudungan Tambunan SH.,MH, yang telah di beri kuasa khusus oleh Thian Lie Thong sebagai Direktur Utama.

Didalam penyidikan baik Timmy Karfendi maupun Wibowo Mulyawan Karfendi sempat menghilang, tapi pihak berwajib dapat menangkap Timmy Karfendi saat pulang ke rumahnya di Suntermas Blok T 12 Jakarta Utara.

“Sedangkan Wibowo Muliyawan Karfendi diduga saat ini berada di Negara Filipina yang sebelumnya telah dideportasi dari Negara Amerika Serikat. “ujar Bachtiar Sukria sebagai Direktur Operasional PT.Delima Mustika Kencana”. Jelas Bachtiar kepada Lapan6online.com Senin (22/5/2017).

Lebih lanjut Bachtiar mengatakan bahwa, “Timmy Karfendi dan Wibowo Karfendi sudah berulang kali di panggil penyidik Polda Metro Jaya, tetapi tidak pernah hadir. Menurut pengacaranya, dari dokumen Imigrasi, yang bersangkutan ada di Filipina.  Dan saya minta kepada Interpol dan Mabes Polri untuk mengirim red notice atas nama Wibowo Mulyawan Karfendi. Sehingga bisa memperjelas kasus ini, baik untuk penyidikan di Mapolda Metro Jaya maupun didalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selata.”tambah Bachtiar.

Menurut keterangan Timmy Karfendi kepada Bachtiar bahwa batubara sebanyak 700 mt akan dibeli oleh PT.Pasific Food yang terletak di Purwakarta Jawa Barat dan sebagai Manager  dari pabrik bihun tersebut adalah M.Luthfi Agil. Sedangkan sisa dari 1000 mt yaitu 300 mt dikatakan Timmy Karfendi telah susut, hal tersebut di bantah bachtiar karena Bachtiar telah tau bahwa stock batubara tersebut telah tidak ada sejak akhir 2013 sesuai  keterangan dari H. Makmur Susilo sebagai pemilik stockpile PT.Astria, dan di buktikan dengan surat  keterangan keluar dan masuk batubara milik PT. Delima Mustika Kencana tetapi di buat oleh timmy karfendi atas nama PT.Cahaya Bintang Fajar di stockpile PT Astria.

Dalam beberapa kali pertemuan di KFC Cikini Jakarta Pusat antara Bachtiar,Timmy dan M.Luthfi Agil sebagai pembeli batubara , Luthfi memberikan cek dari Bank Mandiri senilai Rp.500 jt sebagai pembayaran batubara 700 mt, Bachtiar menolak cek tersebut, karena Timmy harus bertanggung jawab batubara sebanyak 1000 mt.

Keterangan pertemuan Bachtiar dengan Timmy terkesan berbelit-belit,”Sampai saat ini secara physic  saya belum melihat batubara tersebut dan kalau memang sudah terjual mana uangnya bila belum terjual dimana batubara tersebut. Saya bilang ke Timmy, yang kemudian cek itu diserahkan kepada Timmy oleh luthfi atas nama adiknya Wibowo Mulyawan Karfendi. Saya menanyakan ke Timmy kenapa cek tersebut bukan atas nama PT.Pasific Food yang mengeluarkan tapi cek atas nama PT.Citra Indah Utama, “itu cek pembayaran dari nasabah PT.Pasific Food “ kata Timmy. Memang mafia dia itu, banyak hal yang tidak jelas, namun dia memaksakan kami untuk yakin dan percaya, “ kata Bachtiar yang didampingi oleh pengacanya, Golfrits Mustopo Hasudungan Tambunan SH.,MH.

Timmy menyebutkan bahwa perusahaannya telah terafiliasi dengan Kimi Farma. Foto2 : Ist

Untuk meyakinkan akal-akalan Timmy dengan memberikan cek PT.Citra Indah Utama, Wibowo melakukan kliring Bank Mandiri, setelah dikliring pihak Bank Mandiri menyatakan bahwa rekening  sudah lama di tutup dengan bukti Surat Keterangan Penolakan (SKP).

Bachtiar pun menegur Timmy, Luthfi dan Wibowo ,”Kenapa kalian tega membohongi saya” sepertinya mereka bertiga tidak ada ucapan maaf atau kata menyesal atas perbuatan tersebut, dikesempatan Luthfi telepon untuk bertemu dengan Bachtiar untuk menjelaskan masalah Timmy dengan Luthfi yang sebenarnya, Bachtiar pun menyetujui tapi setelah Luthfi menceritakan harus membuat pernyataan di atas materai sebagai bukti hukum.

Dalam pernyataan tersebut Luthfi yang bermaterai menyatakan bahwa semua yang dikatakan Timmy dan Bowo tidak benar itu rekayasa dari Timmy, baik dia sebagai manajer PT.Pasific Food maupun  perusahaan yang akan membeli batu bara milik PT.Delima Mustika Kencana, dan cek yang diberikan kepada Timmy oleh Luthfi sudah sepengetahuan Timmy dan Wibowo bahwa cek Mandiri senilai Rp.500 juta tersebut tidak ada dananya. Hal tersebut pernyataan yang disampaikan Luthfi kepada Bachtiar.

Memang biadap manusia kakak adik ini, “Alasan Luthfi melakukan hal ini karena terpaksa dan merasa ditekan oleh timmy dan wibowo, yang sudah memberikan kepada luthfi uang sebesar -/+ 300 juta secara bertahap untuk bisnis uang merah (polymer) dan harus mengganti sebesar Rp.500 juta kepada Timmy dan Wibowo Karfendi dengan alasan sebagai pembayaran batubara yang di beli oleh PT.Pasific Food kepada PT.Delima Mustika Kencana. Itu urusan bisnis kalian saya tidak mau tahu dan kalian harus mempertanggung jawabkan batubara 1000 m/t milik PT.Delima Mustika Kencana “ ujar Bachtiar kepada Luthfi Agil.

Bachtiarpun bertemu Timmy dan mengatakan bahawa “Saya akan laporkan kalian ke pihak yang berwajib sebagai upaya hukum PT.Delima Mustika Kencana, silahkan saja lapor ujar timmy seolah menantang, saya tidak takut ujar timmy dan pihak PT.Delima Mustika Kencana pun melakukan upaya hukum setelah di adakan RUPS luarbiasa yang tidak dihadiri oleh Timmy Karfendi. Timmy seakan tidak takut dengan ancaman Bachtiar, bahkan menantang dan tidak pernah takut. Gayanya Timmy sok jagoan dan dirinya merasa tidak takut, tapi harus dijebloskan ke penjara saja,“ tegas Bachtiar.

Namun tantangan Timmy pun berujung di meja hijau, dan saat ini persidangan masih berjalan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan masih dalam mendengar kesaksian dari saksi-saksi pelapor, dan saksi-saksi dari terdakwa. Tentu hal ini adalah catatan bagi semua, agar tidak mudah tergoda apalagi tergiur bisnis terlarang, hanya ingin segera mendapatkan uang besar, dengan melakukan modus-modus kepada kolega, rekanan kerja bahkan keluarga sendiri yang toh tidak ada hasilnya, justeru berujung jeruji besi.

Sedangkan pada sidang sebelumnya di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jaksa Penuntut Umum Agnes Renitha Butar butar SH menjelaskan pada Juli 2013, terdakwa yang bekerja sebagai Direktur Pembelian dan Penjualan PT.Delima Mustika Kencana yang bergerak dibidang  pembelian dan penjualan batubara, disepakati bahwa pembayaran upah berdasarkan sistim bagi hasil, dimana pembelian batubara menggunakan uang Thian Lie Thong selaku Direktu Utama, dan terdakwa akan memberikan keuntungan Rp.30.000/MT (Tiga puluh Ribu Rupiah per metrik ton) kepada Thian Lie Thong. Telah melakukan pembelian batubara dari CV.International Coal sebanyak 1.000 Mt (seribu Metrik ton) batubara berkualitas Asalan Tipikal High kalori dengan harga Rp.795 juta untuk 1.000 MT.

Didalam fakta persidangan selanjutnya batubara tersebut seluruhnya sebanyak 1.000 MT terdakwa jual kepada pembeli yaitu pada bulan Agustus 2013, kepada Teguh Suprayitno sebanyak 450 MT dengan harga nilai jual Rp.400 juta namun untuk pembayaran pembelian batubara tersebut belum dibayar lunas oleh Teguh Suprayitno dan baru di bayar Rp.20 juta dan uang pembayaran tersebut telah terdakwa setorkan kepada Thian Lie Thong melalui rekening BII milik terdakwa ke rekening BCA milik anak Thian Lie Thong, selanjutnya pada bulan September 2013, terdakwa melakukan penjualan batubara kepada Muhamad Luthfi Agil dari PT.Pasific Food sekitar 100 MT (seratus metrikton,red) dengan nilai penjualan Rp.800 ribu per metrik ton, dan uang penjualan batubara tersebut telah dibayar lunas oleh PT.Pacific food pada bulan September 2013 kepada terdakwa sebesar Rp.100 juta dan uang hasil penjualan batubara tersebut belum terdakwa setorkankepada PT.Delima Mustika Kencana selaku pemilik batubara.

Kemudian pada bulan November 2013 terdakwa melakukan penjualan batubarakepada PT.Bina Karya Prima  sekitar 450 MT (empat ratus lima puluh metrik ton) dengan nilai harga Rp.400.000.000 (Empat Ratus Juta Rupiah) yang telah dibayarkan kepada terdakwa dengan cara transfer dari rekening PT.Bina Karya kepada rekening Mandiri atas nama terdakwa, dan uang hasil penjualan tersebut belum terdakwa setorkan kepada PT.Delima Mustika Kencana selaku pemilik batubara.

Bahwa uang penjualan batubara sebesar Rp.500 juta yang seharusnya terdakwa setorkan kepada PT.Delima Mustika Kencana tersebut , pada hari dan tanggal yang terdakwa tidak ingat lagi dalam bulan Desember 2013, di Food Court Bidakara  Jakarta Selatan , tanpa seizin dan sepengetahuan Thian Lie Thong selaku pemilik dari uang Rp.500 juta dari hasil penjualan batubara, telah terdakwa serahkan kepada Muhamad Luthfi Agil untuk keperluan terdakwa sendiri yang akan di pergunakan  untuk membayar biaya sewa kendaraan jasa pengangkut uang tunai.

Dalam kasus ini kedua terdakwa dalam penggelapan uang Rp.795 juta milik PT Delima Mustika Kencana (DMK) diduga terlibat dalam kasus tersebut. Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan di ancam pidana berdasarkan ketentuan Pasal 374 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Bachtiar berharap proses sidang kasus penggelapan uang perusahaan tersebut dapat dipercepat ketok palunnya. Ahmad Sanjaya




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *