full screen background image


Dua Oknum Polisi Arogan Aniaya Anak Sampai Muntah Darah

Propam Polres, Polda dan Mabes Polri Harus Turun Tangan

Lapan6online.com – Luwuk Banggai :“Sepuluh menit saja anak bapak terlambat dibawa untuk mendapat perawatan  di rumah sakit, mungkin anak bapak tidak bisa diselamatkan,” kata dokter rumah sakit Luwuk Banggai memberi keterangan kepada Sertu Amir Bolong, orang tua akbar yang dianiaya dua oknum anggota Polres daerah itu berinisial Brigadir Y dan Bripda FD yang berlangsung pukul 05.00 sampai pukul 07.00 Wita pada 11 Oktober lalu.

Kondisi Akbar menurut dokter cukup mengkhawatirkan, dari hidung dan mulutnya keluar darah. Badannya kian lama kian melemah, memaksa dokter memasang infuse dan oksigen. Pada pukul 14 Wita, kondisi Akbar mulai ada perubahan membaik. Namun gerakannya masih lemah, sehingga Amir Bolong terpaksa menahan diri untuk bertanya apa penyebab luka-luka yang diderita sang anak.

Pamit Bermalam Minggu
Amir Bolong sendiri merupakan salah seorang anggota TNI berpangkat Sertu yang bertugas di Kodim 1308 Luwuk Banggai. Pada tanggal 13 Oktober 2015 sekitar pukul 16 Wita, Amir bertemu dengan Lapan6 dan bertanya darimana. Dijawab bahwa dirinya baru saja dari rumah Kasat Sabhara Polres Lubuk Banggai, AKP Hengki, selanjutnya Amir menceritakan persoalannya. pada malam minggu,kejadian subuh    Amir bercerita; Malam minggu, tanggal 10/10/15 pukul 20.00 Wita anak saya   akbar  pamit untuk bermalam mingg.  Tapi setelah pukul  24.00 wit atau di atas jam 12 malam, dirinya merasa gelisah kenapa anak ini belum pulang juga. Jam sudah menunjukkan pukul 03.00 Wita berarti sudah mulai subuh.

“Saking khawatirnya saya sampai berpikiran negatif. Jangan-jangan anak saya sudah meninggal, karena dihubungi melalui HP tidak aktif, ditanya sama teman-temannya tidak ada yang tahu. Dia juga diketahui tidak pernah pulang sampai larut malam apalagi sampai pulang pagi. Pada pukul 08:30 saya di telfon istri saya, dan istri saya sampaikan,akbar  sudah di rumah,tapi  akbar  tiba tiba muntah dan bercampur darah, “Tutur Amir.

Tidak sampai di situ, Amirpun kemudian berusaha mencari mobil  dan dapat mobil pinjaman double cabin DN 8865 ,    lalcu saya bawa ke rumah sakit, setelah tiba di rumah sakit,dokter mengatakan, terlambat 10 menit?mungkin anak   saya tidak bisa diselamat kan,” kata dokter. Kemudian dokter mengatakan,kita berdoa saja.dari situ darah   terus keluar lewat mulut dan hidung,jadi dokter langsung memasang oksegen,karna kondisi semakin kritis/lemah.

Menurut Amir, dirinya sekarang lagi sakit kepala memikirkan anaknya yang sedang dirawat di rumah sakit Luwuk Banggai. “Kondisinya sangat lemah, muntah-muntah dan dari mulut dan hidung keluar darah, seperti habis dipukuli orang,”katanya. Sambil menambahkan bahwa   kondisinya anaknya sekarang mulai membaik dan menceritakan peristiwa yang dialaminya kepada bapaknya, Amir.

Walau masih belum begitu kuat, Akbar yang belum ditanya langsung menceritakan peristiwa penganiayaan yang dialami dari dua oknum anggota Polres Lubuk Banggai berinisial Y dan FD.

“Bapak, bawa saya ketemu dengan pak Nyoman M (anggota Polres Lubuk Banggai-red), sebab beliau tahu persis saya dipukuli oleh kedua orang yang ada waktu bersama pak Nyoman,” kata Amir mengulang ucapan anaknya.

Tapi waktu mendengar pernyataan sang anak, Amir mengaku belum begitu percaya. Maklum, anak itu baru saja membaik kondisinya, tentu banyak yang perlu dipertimbangkan ketika sang anak menceritakan apa yang dialami. Tapi waktu terus berjalan, malam tanggal 12 Oktober dirinya berpikir apa betul yang diceritakan oleh anaknya.

“Keesokan harinya tanggal 13 Oktober pukul 14 Wita, selaku orang tua saya ikuti apa yang diceritakan Akbar. Saya bertemu pak Nyoman di pos penjagaan Polres, lalu saya tanyakan kepada pak Nyoman, apakah waktu subuh hari Minggu (11/10-red) dia tahu apa yang terjadi sekitar pukul 05-07 Wita. Langsung dijawab pak Nyoman “ada apa pak”. Saya katakana bahwa anak saya dipukul di pos penjagaan ini. Langsung Nyoman menjawab oohh,” kata Nyoman lagi.

Nyoman kembali bertanya, apakah itu anak pak Amir yang gede! ‘Saya jawab iya, itu anak saya. Lalu saya tanyakan, siapa yang memukul anak saya kepada Nyoman. Awalnya dia tidak mengaku dengan menjawab bahwa tidak ada yang memukul anak saya. Tapi kemudian saya sampaikan apa yang diceritakan anak saya. Akhirnya Nyomanpun mengiyakan,” ujarnya.

Diceritakan lagi, sejak Akbar tiba di pos penjagaan Polres Luwuk Banggai, dia pamit mau beli air mineral, dojawab Nyoman, silahkan tapi jangan lama-lama. “Setelah anak saya berjalan dan mau membuka pintu gerbang, tiba-tiba anak saya ditangkap dari belakang bagian leher, lalu ditekan ke bawah dimana mukanya sampai menyentuh aspal. Selanjutnya menyusul pukulan disamping kanan belakang dan ditendang pakai sepatu lars terus menerus dan pukulan yang tidak henti, ibaratnya sang anak dijadikan “sansak tinju”. Kejadian itu berlangsung dari pukul 05.00 – 07.00 Wita.

Namun sangat disayangkan, korban yang sudah dianiaya sedemikian rupa, oleh Nyoman hanya melihat begitu saja. Tidak ada upaya dari dia untuk memisahkan padahal, malam itu Nyoman menjadi komandan jaga di pos tersebut. Karena itulah, dengan segala kerendahan hati Amir meminta tolong kepada pihak hukum yang ada di daerah maupun di pusat, baik dari Kapolres, Mabes Polri, Kodim ataupun TNI di pusat untuk menyelesaikan kasus penganiayaan oleh oknum anggota polisi ini. Anggota Kepolisian dimana saja berada seharusnya mengayomi masyarakat, menjaga keamanan dan lingkungan tanpa harus melakukan kekerasan. Bukan dengan cara-cara “barbar” dengan memperlihatkan kekuatan otot dan institusi di dalamnya. Ini Negara hukum, apapun kejadiannya, oleh siapa saja, jika memang itu salah, harus disalahkan. “Kapan kita bisa menikmati hidup damai, bila aparat penegak hukum seperti polisi dan oknum anggota lainnya masih saja mengedepankan arogansi dalam bertindak,” kata Daniel, Ketua Lembaga Penyelidikan, Pemantauan dan Pemberantasan Korupsi Republik Indonesia (LP3K-RI) Lubuk Banggai menanggapi peristiwa penganiayaan oleh oknum polisi yang main hakim sendiri.(Dan)