full screen background image


Ikuti Sekolah Sespimti, Kombes Roycke Sisakan Dua Kasus Besar

Lapan6online.com – Jakarta : Pucuk pimpinan Polres Metro Jakarta Barat berganti, dari Kombes Roycke Harrie Langie ke Kombes Hengki Haryadi. Hal itu tertuang dalam surat terlegram ST/3754/XI/2017 yang di tandatangani langsung Assisten Kapolri bidang SDM, Irjen Pol Arief Sulistyanto, Jumat (17/11/2017).

Pergantian pimpinan tertinggi institusi di Jakarta Barat ini dinilai bermasalah. Sebab, Kombes Pol Roycke belum mampu menyelesaikan beberapa kasus, yakni Pembunuhan Arum di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, dan Kaburnya delapan tahanan pada September 2017 lalu.

Assisten Kapolri bidang SDM, Irjen Pol Arief Sulistyanto.

Ketua Presidium IPW (Indonesia Police Watch), Neta S. Pane menyebut aneh dengan Kombes Roycke yang menjalani sekolah di saat beberapa kasus belum tuntas.

“Tolok ukur pendidikan di polri terkadang membingungkan dan tidak jelas. Ada yang berprestasi dan tidak  bermasalah bisa ikut pendidikan atau tidak bisa naik jabatan dan tidak bisa naik pangkat. Sebaliknya ada yg perwira bermasalah, bahkan masalah sempat heboh diekspos di media massa bisa ikut pendidikan, naik pangkat dan naik jabatan,” sindir Neta saat di hubungi KORAN SINDO menanggapi Kombes Roycke yang bakal melakukan Sespimti tahun 2018 mendatang, Minggu (19/11/2017) nanti.

Ia pun kemudian mencontohkan Kapolres Metro Jakarta Barat, Kombes Pol Roycke Harrie Langie yang dianggapnya belum menuntaskan beberapa kasus, seperti pembunuhan Arum dan Tahanan Kabur. Kasus ini kemudian menjadi hutang bagi pimpinan selanjutnya.

Ia pun kemudian menyindir Kombes Roycke yang dianggapnya tak mampu menyelesaikan kasus ini. Melihat dua kasus itu, Roycke dinilai Neta tak pantas jalani Sespimti.

“Dia kan belum mampu menangkap tahanan yang kabur dan pembunuhan di Kebon Jeruk, lalu prestasi yang membanggakan apa, yang bisa mengantarkannya mengikuti pendidikan sespimti,” ketus Neta.

Neta melihat, pada kasus ini sebaiknya, Sespimti Roycke di cabut demi menjaga marwah institusi polri sehingga terjaga dan tak dilecehkan oleh Kalangan Polri maupun Masyarakat.

Bila tak dilakukan segera, bukan tak mungkin institusi kepolisian kemudian tercorenh. Karena itu, diringa kemvali menyindir Kapolres maupun pejabat menengah Polri yang sekolah, sebaiknya yang berprestasi.

Kasus Arum dan Tahanan Kabur
Terpisah, Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat, AKBP Edi Suranta Sitepu tampak kebingungan menanggapi kasus arum yang telah menghilang hampir setahun.

Dalam kasus itu, Edi yang hadir dalam jumpa pers kasus pencurian spion dan penyerang seorang disc jokey pada sepekan lalu tampak ‘clengak clinguk’ menanggapi pertanyaan wartawan.

“Kasus yang mana yah,” ucap Edi, Minggu (12/11/2017) lalu.

Ucapan Edi kemudian ditimpal oleh Kanit Krimum Satreskrim Polres Metro Jakarta Barat, AKP Rulian Sauri yang menegaskan kasus Arum masih di tangani pihaknya.

“Nanti diinformasikan kembali bila ada perkembangan,” timpal Rulian.

Sementara terkait tahanan kabur, Kombes Pol Roycke Harrie Langie menjelaskan masih ada satu tahanan yang belum tertangkap, yakni Thio Erwin Gunawan.

Desakan akan di copot tahanan kabur kemudian mengemuka. Sejumlah pengamat kepolisian, mulai dari Dosen PTIK, Bambang Widodo Umar, Komisioner Kompolnas, Irjen Pol (purn) Subekto, Ketua Presidium IPW, Neta S. Pane, dan Komisioner Ombusdman, Adrianus Meliala meminta agar Royce di copot dari jabatanannya. Ia dinilai tak pandai dalam mengurusi anak buah, termasuk manajeman mengurusi tahanan.

“Saya belum akan berkomentar sampai semua pelaku tertangkap,” cetus Roycke beberapa waktu lalu saat di singgung mengenai tahanan kabur.

Penurunan Prestasi
Sepengamatan SINDO, kemampuan Kombes Roycke dalam menjadi pimpinan tertinggi patut dipertanyakan. Sebab, setahun lebih menjadi Kapolres, prestasi Polres Jakbar merosot.

Kombes Pol Fadhil Imran (Kini Brigjend) saat menjabat Kapolres berhasil mengungkapkan beragam kasus narkoba, diantaranya penggrebekan kampung ambon pada

penggrebekan diskotik Stadium yang berbuntut ditutupnya diskotik itu pada September 2014. Rentetan kasus narkoba dengan barang bukti 3,3 ton sabu mulai Desember – Maret 2015, Ungkap Kasus 3 ton Ganja pada pertengahan tahun 2015, dan Penangkapan Ratusan Preman di Kalijodo pada Februari 2015.

Kondisi nyaris sama juga terjadi saat Polres Metro Jakarta Barat dipimpin oleh Kombes Pol Rudy Hariyanto Adi Nugroho (kini Brigjend). Sejumlah kasus narkoba terungkap bergitupun dengan kasus lainnya, seperti diamankanya 52 pelaku narkoba dalam kurun 3 pekan, mulai dari 21 Maret – 10 April 2016 pada kasus itu perugas amankan 20,6 kilogram sabu, 1 kilogram ganja, 8.747 butir ekstasi, 750 butir Happy Five, dan 1.000 gram keytamin.

Selian itu terungkap pula pada masa jabatannya, Rudy sempat menggrebek warnet di kawasan jelambar yang kemudian menjadi menjadi pabrik sabu dengan produksi 100 gram per hari. Ungkap kasus 16 kilogram sabu dan 221 ribu ekstasi pada awal tahun 2016. 20,2 kilogram sabu pada Maret 2016. 16 kilogram sabu di Kalijodo pada April 2016, Menggrebek dua kampung narkoba yakni kampung ambon pada Januari 2016 dan Kampung Boncos pada mei 2016, selain itu Rudi juga membantu pemprov dki saat penutupan kawasan lokalisasi kalijodo.

Sementara pada jaman Kombes Pol Roycke Harrie Langie, kasus narkoba puluhan kilo terjadi saat dua koper besar diamankan dari kawasan Apartement Season City. Meski mengamankan 60 kilogram narkoba, polisi gagal mengamankan pemilik barang itu. Mas Te