full screen background image


KWRI dan AWDI Dukung Gugatan FPII

Lapan6online.com – Jakarta : Perjuangan insan pers Indonesia bergejolak kita sebuah wadah kuli tinta melakukan gerakan dan menggugat Dewan Pers beberapa waktu lalu menjadikan catatan khusus Republik ini. Para insan pers “kelas pinggiran” tergabung dalam naungan Forum Pers Independent Indonesia (FPII) telah mencatat sejarah baru dunia pers Indonesia, dimana kebebasan pers terbelenggu dan terkebiri oleh segelincir elit politik “paranoid”.

Gebrakan FPII yang seakan terbungkam oleh public ini membuat kalangan organisasi pers Indonesia memberikan apresiasi besar atas gebrakan tersebut. Hal ini terbukti dari Komite Wartawan Republik Indonesia (KWRI) dan Asosiasi Wartawan Demokrasi Indonesia (AWDI), menyampaikan pernyataan sikap tegas mendukung  penuh atas perjuangan FPII.

Pernyataan sikap KWRI dan AWDI ini disampaikan pada saat Pengurus Setnas FPII melakukan kunjungan kerja ke kantor KWRI di Gedung Dewan Pers Lantai 5, Jl. Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jum’at (12/5/2017). Dalam kesempatan tersebut, para pengurus Setnas FPII diterima oleh Ketua Umum DPP KWRI, Ozzi Sulaiman, dan Sekjen Asosiasi Wartawan Demokrasi Indonesia (AWDI) Budi Wahyudin.

Dalam pertemuan yang penuh dengan keakraban, Ozzi dan Budi mengatakan,“Perjuangan FPII sama seperti Majelis Pers Indonesia (MPI), untuk itu saya mendukung penuh perjuangan FPII untuk menyatukan insan pers di Indonesia, mari kita gelar Kongres Wartawan,”ujarnya.

KWRI maupun AWDI menilai dalam  aksi FPII ke – 2, pada 13 April 2017 lalu, sangat memukul telak kebijakan kebijakan Dewan Pers yang telah memverifikasi dan QR code beberapa media saja, bahkan dirinya menyatakan siap berikan dukungan dari para penggagas tercetusnya UU Pers No. 40/1999.

Lebih lanjut Ozzi menambahkan bahwa,“Ada 28 organisasi wartawan saat itu yang merumuskan terbentuknya UU pers 40/1999, namun kita tetap berpegang pada kode etik Pers. Kalau memang UU pers dikatakan sebagai UU tunggal, kita harus menjaga marwah UU pers secara independen, tetapi kalau memang diperlukannya PP (peraturan pelaksanaan) mari kita bentuk bersama, atau kita minta MK untuk segera sempurnakan UU Pers 40/1999.” papar Ozzi.

Sekjen Asosiasi Wartawan Demokrasi Indonesia (AWDI) Budi Wahyudin juga menyampaikan dukungan penuh kepada Forum Pers Independent Indonesia (FPII), sejatinya, perjuangan FPII sangat tepat dan telah dinanti-nanti insan pers di Indonesia.

Pertemuan keakraban insan pers tersebut menjadi momentum penting demi terwujudnya kebebasan pers yang tidak bisa diganggu gugat. “Mari kita satukan persepsi dan tujuan bersama, FPII harus mampu menjadi corong terdepan dalam perjuangan kemerdekaan pers sesuai UU pers 40/1999,” jelas Budi

Hal ini tentu menjadikan semangat dan motivasi bagi FPII, seperti yang disampaikan oleh Ketua Setnas FPII Mustofa Hadi Karya atau yang akrab disapa Opan menyambut baik dukungan perjuangan yang diberikan KWRI dan AWDI. “Terimakasih untuk dukungan yang diberikan kepada kami, kedepannya amanah yang diberikan kepada kami untuk mengembalikan fungsi UU pers 40/1999 menjadi catatan penting dalam kemerdekaan pers, mari kita bersatu dalam profesi jurnalis yang tidak lagi dikotak kotakan oleh berbagai kepentingan.” Tegas Opan.

Dalam pertemuan silaturahmi tersebut hadir, Ketua Setnas FPII Mustofa HK, Ketua Dewan Etik FPII R. Dean, Jubir FPII Edi Piliang, Ketua Deputi Advokasi FPII Wesly Sihombing, Ketua Deputi Jaringan FPII Drs. Hefrizal, Anggota Deputi Jaringan Tri Wulansari. Dari AWDI hadir Budi Wahyudin selaku Sekjen AWDI, mas Budi, Indra, dan Arifin. Sedangkan dari KWRI langsung diterima Ozzi Sulaiman selaku ketua umum DPP KWRI.

Sehingga harapan para kuli tinta “kelas pinggiran” ini tidak ada lagi sekat dalam menyampaikan hak publikasi tanpa ada intervensi dari siapapun. Tri W/Om Hrs/TimFPII