full screen background image


Libas Praktek Percaloan, TNGGP Harus Berubah!

Lapan6online.com – Jakarta : Mantan Plt Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP,red), Jawa Barat, Adison menilai, bahwa Plt Kepala Balai TNGP yang baru harus secepatnya membuat terobosan. Karena bagaimanapun TNGGP harus berubah dan jangan berjalan mundur walau selangkahpun. Sebab Kesempatan tidak datang dua kali.

Adison juga meluruskan pernyataan yang disampaikan oleh Herry Subagiadi yang saat ini menjabat Plt. Kepala Balai Besar TNGGP terkait rencana penutupan Klinik Edelwis. Sebab seniornya itu, saat dirinya membuka klinik tersebut ikut mendukung. Untuk itu dia berharap Herry Subagiadi bisa menunda dan tidak tergesa – gesa untuk menutupnya. Sebab LHP finalnya belum keluar dari inspektorat, bahkan belum sampai di TNGGP.

“Saat melaunching klinik tersebut, saya masih menjabat Plt. Kepala Balai Besar dan memastikan semua proses perijinan dan mekanisme telah dilewati aturan yang tepat,” ungkapnya kepada wartawan di Jakarta, Selasa 14 Nov 2017.

Adison menyatakan, pembangunan klinik tersebut telah mendapat dukungan dari dinas terkait seperti Bupati, Kadinas Kesehatan, RSUD Cianjur, RSUD Cimacan, Puskesmas dan masyarakat setempat yang tertuang lewat MOU.

“Bahkan Pak Herry Subagiadi sebagai atasan langsung saya turut menyetujui (beliau tanda tangan) terbentuknya klinik tersebut. Beliau menyetujui karena Klinik di berikan ijin bila memiliki tempat usaha, dua orang dokter umum, emat orang paramedis kesehatan, dan tenaga administrasi yang kemudian proses ijinnya dapat dilaksanakan,” bebernya.

Apalagi kata Adison, berbagai unsur pemerintah daerah (Pemda) seperti Kadinaskes, Rumah Sakit dan Puskesmas sangat mendukung sekali terbentuknya klinik tersebut. Sebab dapat meringankan beban pekerjaan bagi instasi di atas dan berkomitmen memperlancar pengurusan ijin klinik dimaksud.

“Sambil menunggu ijin dan pra operasional pun langsung di awsi dibawah pengawasan Puskesmas Cipanas dan insya allah dalam minggu ini atau sekurang kurangnya dalam bulan Nopember perijinan selesai,” jelasnya.

Begitupun sebaliknya, Dokter dan paramedis kesehatan yang ada di klinik merupakan orang ahli dan memiliki bidang profesinya, bukan gadungan dan dijamin legal. Kemudian terkait audit Itjen yang tertuang dalam LHP merekomendasi menutup sementara klinik tersebut. Untuk itu, pihaknya meminta untuk menunda.

Karena Audit lapangan perlu di analisa di bagian ALHP apakah rekomendasi penutupan tersebut memang layak untuk di tutup atau tidak.

Bahkan Adison juga membantah, bahwa klinik tersebut telah memonopoli praktek kesehatan di wilayah TNGGP. Adison juga minta kepada Plt Kepala Balai Besar untuk mengingat kembali maksud dan tujuan mendirikan klinik itu, yaitu meminimalisir angka kecelakaan, mengurangi pemalsuan surat keterangan sehat dengan cara mens-can yang dilakukan oleh para calo di depan kantor TNGGP.

“Para calo ini sudah ada puluhan tahun dan tidak pernah ada solusinya, saat saya sebagai Plt Kepala Balai baru bisa di atasi, jadi yang resah itu para calo, bukan pendaki. Silahkan saja wawancari para pendaki manfaat dari klinik tersebut,” ungkapnya.

Selain itu, saat ini di TNGGP ada pengelolaan asuransi yang di handle oleh satu perusahaan seperti MNC Life, premis atas nama perusahaan. Bahkan perusahaan lain sudah barang tentu tidak bisa masuk. “Nah yang seperti ini di sebut monopoli juga?. Saya kira harus menghilangkan persepsi yg salahn,” tandasnya.

Sebab, terbentuknya klinik telah mengurangi angka kecelakaan yang sering terjadi di TNGGP dengan dilakukannya pemeriksaan fisik secara langsung, kemudian manfaat lain berupa pengobatan gratis bagi pendaki, wisatawan, pegawai TNGGP dan masyarakat sekitar kantor TNGGP, dan luar biasa manfaatya.

Adison juga mempertanyakan, surat keterangan sehat dari luar memberikan pengobatan gratis?. Tentu saja tidak, jawab Adison. Karena Klinik ini bila sudah selesai perijinannya akan diserah terimakan kepada koperasi Edelwis TNGGP untuk di kelola secara profesional.

“Klinik itu tidak akan saya bawa pulang ke Jakarta ko. Karena saya sudah bekerja selama 30 tahun lebih dan hidup cukup mapan tidak terpikirkan oleh saya untuk menguasai atau mengelolanya secara pribadi apalagi akan mencari keuntungan bila perlu saya akan sumbangkan pikiran dan sebagian materi saya,” tandasnya.

Apalagi Klinik tersebut terbentuk, merupakan terobosan dari pendidikan di PIM utk mengimplemetasikan ilmunya, menjadi Proyek Perubahan di TNGGP sampai tahapan milestone selesainya perijinan dan terwujudnya klinik Edelwis.

“Jadi ini merupakan milestone saya dalam dua bulan dan diharapan dalam dua tahun terwujudnya klinik yang ideal bagi stokeholder di sekitar TNGGP. Bagaimanapun TNGGP harus berubah, jangan jalan mundur walau selangkahpun karena kesempatan tidak datang dua kali,” pungkasnya. Haris S