full screen background image


Korporasi Hitam “PT.Malindo Feedmill Tbk” Bikin Gendut Institusi.

“Investor sangat diharapkan oleh bangsa ini, terlebih investor asing. Berharap menjadi bagian yang tidak terpisahkan, saling membantu dan menguntungkan. Namun, perusahaan kakap asal Malaysia ini tidak pernah bersyukur atas usahanya yang berkembang pesat hingga mendapat keuntungan besar. Namun dibalik suksesi selama bercokol di Bumi Pertiwi ini, perusahaan pakan ayam ini justeru terkesan memperdaya dan meremehkan institusi Negara Kesatuan Republik Indonesia,”

Lapan6online -Jakarta : Salah satu group perusahaan multinasional yang memproduksi pakan ternak yang bermarkas besar di Fatmawati Jakarta Selatan PT Malindo Feedmill Tbk, perusahaan yang sudah “go public” dan mencatatkan sahamnya untuk pertama kali di Bursa Efek Jakarta pada tahun 2006. Umur perusahaan yang sudah cukup lama dan begitu banyak memperkerjakan pegawai ini tersiar banyak intrik yang menghadang dalam system pekerjaannya, kesewenang-wenangan dan manipulasi data-data perusahaan. Sangat ironis suatu perusahaan yang berdasar dari Penanam Modal Asing ini tidak memiliki system perusahaan & system ketenaga kerjaan yang baik.

Beberapa indikasi penyelewengan yang terjadi dalam perusahaan ini adalah :

Pertama, dugaan Manipulasi data Tenaga Kerja Asing antara lain:

  1. Lau Joo Hwa dalam IMTA tertulis jabatannya Manager Operasional padahal sebagai Deputy CEO.
  2.  Tang Ung Lee dalam IMTA tertulis jabatannya Direktur Produksi padahal merangkap sebagai HRD.
  3. David Loe Teck Wee dalam IMTA tertulis jabatannya Manager Of Nutrition padahal sebagai GM Accounting.
  4. Lau joo Kiang dalam IMTA tertulis Advisor Production padahal kenyataanya Factory Manager MFD anak Perusahaan Malindo.
  5. Chee Sang Huan dalam IMTA tertulis Marketing Manager padahal kenyataannya General Manager.
  6. Lee Tien Hee dalam IMTA tertulis Factory Manager padahal kenyataannya GM Procurement

Kedua, dugaan Penyimpangan Pajak penghasilan untuk tenaga kerja asing dengan manipulasi jabatan seperti diatas.

Ketiga, dugaan penyimpangan pajak penghasilan (PPh 21) karyawan karena untuk level staff ke bawah tidak pernah di berikan bukti potong pajak padahal itu hak karyawan.

Keempat, dugaan penyimpangan perusahaan karena tidak membayarkan Hak karyawan yang meninggal dunia karena kecelakaan kerja seperti Keluarga Alm Agus Taufik yang tidak mendapatkan santunan kematian, BPJS ketenaga kerjaan, uang pensiun dan asuransi jasa raharja yang menjadi haknya. Dan juga kel Alm Sahat Panjaitan yang tidak menerima Uang Asuransi Personal Accident yang sudah di berikan pihak asuransi ke Perusahaaan padahal itu hak ahli waris.

Kelima, dugaan Penyimpangan Perusahaan karena izin yang seharusnya dimiliki banyak yang tidak ada seperti setiap pembangunan Pabrik izin di urus kalau sudah mendapat teguran dulu dari dinas terkait.

Keenam, dugaan penyimpangan CSR karena  perusahaan belum pernah melaksanakannya.

Ketujuh, dugaan Penyimpangan Pajak karena Malindo juga mengelola perusahaan yang bukan anak perusahaan nya. Contoh : PT Sehat Cerah Indonesia : http://www.sehatcerahindonesia.com PT. Feedmill Indonesia yang penggajian karyawan dilakukan oleh PT. Malindo Feedmill Tbk

Kedelapan, penyimpangan Perusahaan karena beberapa Direktur atau Komisaris yang ada di akta perusahaan kenyataanya hanya level manager atau sekretaris. Contoh: Susilawati Tamrin sebagai komisaris di PT Mlindo Food Delight Padahal Sekretaris. Sespriansyah sebagai Direktur di PT Quality Indonesia padahal hanya manager.

Kesembilan, dugaan Penyimpangan Perusahaan karena banyak pekerja di level operator tidak mempunyai kontrak kerja atau surat pengangkatan karyawan tetap.

Hal yang begitu besar merugikan Negara dan para buruh di perusahaan tersebut sampai saat ini tidak pernah tersentuh hukum di Negara Indonesia ini. Sangat begitu ironisnya di Bangsa yang sudah merdeka  hak-hak warga Negara dan kedaulatan hukum seakan tidak berdaya, indikasi praktek penyuapan dan negosiasi hitam membuat kekuatan hukum seakan takluk. Bahkan hingga berita ke dua ini diturunkan pun, pihak PT.Malindo Feedmill Tbk terkesan cuek.

Tak hanya itu saja, setelah beredar edisi lalu terkait pemberitaan perusahaan ayam asal Malaysia tersebut mendapat reaksi keras dari pihak Imigrasi Kelas I Jakarta Selatan. Kemudian pihak Imigrasi Kelas 1 Jakarta Selatan kembali melakukan penggrebekan ke sebuah perusahaan asing milik Malaysia  yakni, PT.Malindo  Food Delight.Tbk yang berada di Jalan Fatmawati Raya Ruko Golden Plaza (The Best) diduga adanya pemalsuan dokumen negara atau penyalahgunaan jabatan yang tidak sesuai undang-undang Imigrasi. Dalam pengrebekannya pihak Imigrasi berhasil menangkap  seseorang yang diduga tamu dari perusahaan asing tersebut.

Pihak Imigrasi Kelas 1 Jakarta Selatan terlihat kaget ketika melihat ada awak media yang mengambil foto-foto dan melontarkan beberapa pertanyaan kepada para petugas tersebut. “Dari mana kalian!” Tanya salahsatu dari Tim Sidak Imigrasi Kelas 1 Jakarta Selatan. Setelah mereka tahu awak media Lapan6 memantau dari awal, kemudian Tim Imigrasi tersebut meminta untuk datang ke kantor terkait penjelasan serta keterangan hasil sidak tersebut.

Namun, setelah hampir kurang lebih 2 jam dikantor Imigrasi Kelas 1 Jakarta Selatan. Awak media Lapan6 jadi “kambing congek”, Kepala Kantor Imigrasi Kelas 1 Jakarta Selatan saat itu (26 Pebruari 2015,red) hari jadi Imigrasi. Seluruh pejabat teras kala itu ada ditempat, maklum ada prosesi potong tumpeng. Disisi lain ada penggerebekan dan berhasil, meski salah sasaran atau memang benar sasaran itu adalah yang tertangkap? Tapi awak media Lapan6 diping pong oleh Pejabat Imigrasi Kelas 1 Jakarta Selatan tersebut.

Hingga detik ini pun pihak Imigrasi tidak pernah memberikan keterangan penggerebekan yang berkembang dari pemberitaan edisi lalu. Dan tak hanya wilayah saja terkait indikasi penyalahgunaan dokumen oleh oknum karyawan PT.Malindo tersebut sudah terendus oleh Dirjen Imigrasi dan Dirjen Tenaga Kerja. Lalu apa langkah mereka? Pembiaran atas tindakan asing menginjak-injak Negara Kesatuan Republik Indonesia ini? Atau memang “tradisi” asing berkuasa kemudian seenak udelnya bertingkah!!!

Tak hanya itu saja, PT.Malindo  Feedmill, Tbk menuding bahwa peraturan yang berlaku di Indonesia tidak jelas dan tidak memihak kepada perusahaan Asing. Tim