full screen background image
Dari kiri, Kabid Olahtaga Dispora Kota Tangerang Agus Prasetyo, pelatih dayung Kabupatem Cilacap Misno dan Margianto. Foto2 : Fay

Membangun Prestasi Dari Klub Desa

Tim Dragon Boat Cilacap
Lapan6online.com : Salah satu dari dua tim dayung Kabupaten Cilacap yang tampil pada Dragon Boat Festival Cisadane Open Tournament, lolos ke semifinal. Hasil ini membuat pelatih dan Pembina cabang dayung khususnya dan dragon boat di daerah itu Asangat bersuka cita. Sebab, hasil ini merupakan salah satu bukti bahwa pembinaan prestasi itu juga bisa dilakukan di desa.

Demikian disampaikan oleh Misno dan Margianto, dua orang Pembina dan pelatih dibalik sukses Tim Dayung Kabupaten Cilacap yang turun dalam lomba dayung naga Festival Cisadane. “Bagi kami ini sudah merupakan sebuah prestasi. Kenapa dikatakan demikian? Karena atlet yang kita bawa ini murni hasil pembinaan yang kita lakukan sendiri,” kata Misno didampingi rekannya, Margianto kepada lapan6online, Jumat sore (28/6) di Kota Tangerang.

Menurut Misno, tim yang dibawa memang merupakan hasil pembinaan yang dilakukan oleh klub “desa” Karang Anyar, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap. Awal berdirinya pada tahun 2004, bertepatan dengan peristiwa Tsunami Aceh. “Salah satu kenapa kita bikin klub dayung, mengingat peristiwa memilukan Tsunami Aceh yang banyak memakan korban,” timpal Margianto menambahkan keterangan Misno.

Lantas dimana pembinaan cabang dayung ini dilakukan? Menurut Misno dan Margianto yang juga didampingi ‘ngobrol’ bersama Agus Prasetyo, Kepala Bidang Olahraga pada Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Tangerang, mereka melakukan sentralisasi pembinaan di muara sungai Adireja, lokasinya pas disebelah gunung Selok.
Bagaimana dengan biaya, pendanaan termasuk pengadaan alat? Diceritakan semua itu atas usaha dan ikhtiar mereka sendiri. Maklum, karena klub dayung yang diberinama Dewa Ruci itu keberadaannya ada di desa, maka waktu itu kurang mendapat perhatian dari para pengambil kebijakan di Kabupaten Cilacap.

“Semua atas hasil swadaya yang kita lakukan, niat kami adalah membina para pelajar, anak muda di daerah ini. Salah satu pendorongnya adalah peristiwa Tsunami di Aceh itu, agar masyarakat tidak takut tsunami kita adakan kegiatan dayung sebagai salah satu antisipasi. Sekaligus kita juga memberikan poengetahuan kepada masyarakat tentang penggunaan permainan ini secara benar,” lanjut Misno.

Bisa dikatakan kondisi klub ini tidak jauh dengan apa yang dihadapi klub dayung di daerah lain. Namun ada nilai tambah yang diperoleh dari klub Dewa Ruci, bahwa mereka tidak terpengaruh oleh berbagai kendala itu. Mereka terus melakukan pembinaan, mulai dari anak-anak pelajar sekolah mulai SMP hingga SMA-SMK disekitar daerah tersebut.

Untuk alatpun demikian, mereka beli dari kapal bekas kemudian diperbaiki lagi hingga bisa digunakan untuk latihan. “Pokoknya semua kita lakukan dengan segala keterbatasan dan keikhlasan kami. Termasuk mengikuti berbagai even lomba dayung, baik di nomor Kayak, Canoe dan Dragon Boat. Kita punya satu perahu untuk Kayak dan satu untuk Canoe serta satunya lagi perahu naga,” cerita mereka.

Apa yang dilakukan dua Pembina ini membuahkan hasil, sejak beberapa waktu terakhir kegiatan mereka mulai dilirik pemerintah Kabupaten Cilacap. Termasuk membelikan mereka sebuah perahu naga. Bahkan Pengkot PODSI daerah itu dibina langsung oleh salaam seorang anggota DPRD setempat yang aktif.

“Syukur Alhamdulillah, perjuangan kami selama ini berbuah hasil. Hal ini juga tidak terlepas dari dukungan masyarakat di desa Karang Anyar, Kecamatan Adipala, pihak sekolah yang menyerahkan pelajar mereka untuk dibina oleh kami di olahraga dayung. Untuk tingkat pelajar ini, kemarin kita juara tiga di Festival Cisadane dibawah tim Gajah Mada, Bogor. Kita menurunkan pelajar SMK,” lanjut Misno.

Berbicara mengenai latihan, klub Dewa Ruci Cilacap ini berlatih setiap hari dengan menempuh 5000 meter setiap hari dibagi dalam jarak 500 meter. Bahkan untuk tingkat pelajar SMP-SMK, catatan waktu mereka sudah mencapai 2 menit 30 detik untuk jarak 500 meter. Disamping itu setiap hari mereka juga wajib latihan lari siang sepanjang 2.8 km dengan waktu tempuh harus masuk dalam 12 menit.

“Pembinaan yang kita lakukan mengacu kepada prestas yang ingin dicapai, karena itu kita juga harus memiliki criteria bagi calon atlet yang ingin berlatih. Minimal mereka harus memiliki tinggi badan 165 cm, kalau postur badan apakah gemuk atau kurus, bisa dibentuk pada saat mengikuti pembinaan,” tutur Misno dan Margianto yang mengaku sudah puas dengan adanya dukungan dari Pemerintah Kabupaten Cilacap.

Berbicara mengenai lokasi Cisadane sebagai arena pembinaan dan lomba dayung, keduanya sangat mendukung dan memberikan jempol. Apalagi bila potensi ini dapat dikembangkan lebih baik lagi. “Hanya ada satu yang ingin kami sampaikan sebagai masukan saja, agar cepat bisa diantisipasi bilatr jadi kiriman air dadakan dari hulu. Sebab, disamping airnya deras, sampahnya pasti banyak dan hal ini akan sangat menganggu kepada peserta lomba,” harapnya. Fay




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *