full screen background image

Menulis Tentang Kehidupan Itu

Oleh : Bung Jay Lapan6
Lapan6online.com : Maju mundurnya sebuah bangsa dan negara atau daerah, atau tegaknya supremasi hukum dalam sebuah negara dan masyarakat atau baik buruknya sebuah peradaban manusia sangat dipengaruhi oleh aspek ekonomi dan politik, persoalan ekonomi dan politik juga dipengaruhi oleh keadaan sosial budaya manusia itu sendiri, sedangkan persoalan sosial budaya ini berhubungan langsung dengan aspek antropologi dan sejarah manusia, bagaimana wujud manusia dan sejarahnya juga dipengaruhi oleh pandangan dunia yang dikostruk (ideology,red), dan perkara ideologi yang dibangun sangat bergantung darimana sumber pengetahuan diperoleh sampai dapat membentuk landasan berpikir dan sistem nilai kepercayaan.

Persoalan sumber pengetahuan ini vital, menjadi dasar atau anak tangga dari proses terbentuknya kesadaran hidup seseorang sehingga dapat memahami dan memaknai tujuan utama hidup ini diciptakan serta dapat memperlakukan hidup ini seperti apa dalam setiap perkembangannya.

Tentunya ini dapat mempengaruhi cara pandang dan juga kesadaran hidup manusia didalam membangun tujuan tujuan hidupnya, antara lain dapat menjadikan harta dan tahta sebagai sebuah simbol kesenangan, kepuasaan dan kebahagiaan, yang kemudian dapat mempengaruhi seseorang dalam memandang simbol – simbol kemegahaan dan keunggulan nilai tertentu (budaya dan system kepercayaan,red) secara subjektif atas doktrin normatif sampai kadang membuat diri menjadi sombong dan angkuh dihadapan yang lain atas kelebihan tertentu, kadang juga mempengaruhi sikap trust claim (klaim kepercayaan,red) bahkan mudah menjust yang lain kafir dan, atau semacamnya, ini yang paling berpotensi menciptakan berbagai benturan – benturan dalam sejarah dan kehidupan sosial politik.

Terakhir terdapat sumber pengetahuan yang mempengaruhi dan menuntun perjalanan hidup seseorang untuk dapat memandang satu sama lain sebagai bagian integral holistik sehingga dapat memperlakukan perbedaan perbedaan yang ada itu menjadi rahmat (kearifan puncak,red).

Diri dan pengetahuan yang membentuk sistem kepercayaan hidup harus pertama diperjelas sebab dasar pengetahuan kita tentang apa dan bagaimana kehidupan ini tidak bisa dipisahkan dari mata rantai sumber pedoman hidup (landasan dasar sistem kepercayaan,red) dari turun temurun, termasuk ini dapat mempengaruhi cerita tentang nilai hidup, moralitas, etika dan perilaku (behaviour).

Ilustrasi kehidupan manusia, Foto2 : Net

Hancurnya sebuah negara dengan sistemnya, rusaknya peradaban manusia, kesenjangan kehidupan sosial masyarakat, retaknya kehidupan keluarga dan berbagai problem patologi sosial lainnya seperti misalnya yang kaya makin kaya dan sombong dengan kekayaannya kemudian menindas yang lain, yang miskin makin miskin dan selalu merasa tertindas dan tidak pernah merdeka dalam keadaan kemiskinannya. Yang benar disalahkan dan yang salah dibenarkan atau yang jahat dibenarkan dan yang baik dianggap jahat, hal ini juga dapat mempengaruhi sifat senang melihat orang susah dan sifat susah melihat orang senang.

Demikian juga hal ini mengundang fitnah, propaganda, adu domba, rasa iri dengki dan akhirnya mengundang konflik –  konflik sosial dan juga konflik kepentingan yang membuat kita tidak pernah berpikir untuk sama dan bersatu dalam tujuan utama yang luhur sebab kita belum sampai mendapat/memperoleh berbagai sumber pengetahuan yang mengajarkan nilai – nilai serta norma-norma sebuah kehidupan  yang menuntun keluhuran dan kemuliaan hidup dimata sang pencipta, sesama dan alam.

Jadi persoalan ini semua pada dasarnya dipengaruhi oleh dasar sumber pengetahuan kita dari mana yang menjadikan pedoman hdp (epistemologi), yang membentuk sistem kepercayaan/keyakinan hidup (ontologi) dan yang mempengaruhi nilai sikap dan perilaku (eskatologi).

Perkara nilai itu zati sifatnya namun subjektifitas dunia masih sangat kuat mempengaruhi, mengkrangkeng/membelenggu, bahkan meruntuhkan bangunan berpikir dan kesadaran hidup dan kehidupan kita sehingga dominan patuh pada marxisme ketimbang tauhid, akhirnya bangunan karakter hdp menjadi bentukan pasar semata. Domain pasar materialisme masih begitu kuat membentuk cara pandang kita yang sektarian (kelas kepentingan, termasuk disini soal watak oligarki, kolonialisme dan imperialisme zaman dulu dan otoritarianisme zaman sekarang).

Struktur tindakan bangsa manusia menurut spiral pertumbuhan dari masa ke masa, dari abad ke abad, dari orde ke orde lebih dipengaruhi dan dibentuk oleh materialisme tersebut. Bahwa adigium kesadaran langit “dimana engkau menghadapkan wajahmu disitulah wajah Tuhan” telah berubah menjadi adigum kesadaran bumi yang hampa “dimana engkau menghadap wajahmu disitulah wahah pasar”. Disini perilaku hidup kita merupakan bentukan pasar dan simbol – simbol ketimbang bercermin patuh pada nilai nilai yang niscaya objektif dan universal.

Bisa kita amati fakta perkembangan sejarah manusia sampai saat ini merupakan bentukan pasar dan sistem simbol, misalnya dikala muncul trend HP Nokia semua harus pake HP Nokia, dikala pasar menghadirkan merek Samsung harus berbondong –  bondong pake HP Samsung, dikala remaja atau anak muda disuguhkan pasar produk zupiter semua kepengen beli motor Yupiter atau Ninja misalnya dan seterusnya, rasa – rasanya akan ketinggalan zaman atau seakan hidupnya didunia lain kalau tidak ikut trend pasar yang berlaku.

Ini tidak hanya terjadi pada perkara kehidupan sosial namun juga terjadi atau mempengaruhi sistem perilaku kekuasaan, misalnya ada anak muda yang punya gagasan ide atau konsep pembangunan yang coba ditawarkan kepada pemerintah maka yang pertama dinilai oleh pemerintah adalah bukan ide dan konsepnya tapi mereka dipandang masih muda sehingga belum pantas dilayani dengan baik atau mereka datang menghadap pemerintah itu dengan jalan kaki (tidak menggunakan mobil atau berpakaian elit), sehingga jangan berharap pemerintah bisa melayani dan menerima dengan baik layaknya sebagai yang turut bertanggungjawab terhadap daerah, masyarakat dan negara.

Dan inilah pasar yang dimaksud mengutamakan sistem kode dan simbol, selera subjektifitas dan hubungan patron klien ketimbang keutamaan nilai konsep yang diterima demi kemajuan bangsa dan negara, demi damainya peradaban manusia.
Semangat pagi selamat beraktifitas, jangan berhenti berikhtiar dan juga harus tetap bersabar dan berdo’a.
*Jangan Lupa Berbagi Kebaikan*
*Jangan Lupa Membangun Kebajikan*
*JanganLupaBahagia*
*GENERASI INDONESIA*




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *