full screen background image


Paguyuban PAWAGIR, Komitmen Jalin Persatuan dan Kesatuan

Lapan6online.com – Jakarta : Kerinduan, rasa kangen dengan masa kecil tetap terasa hingga kini. Keinginan bersama dengan orang-orang dimasa kecil pun terasa ingin kembali kepada masa lalu. Sebagai bentuk rasa cinta terhadap kampung halaman diapresiasikan kedalam sebuah wadah maupun kelompok, yang dalam istilah orang Jawa adalah paguyuban.

Acara Halal Bi Halal adalah bagian dari agenda tetap PAWAGIR setiap tahunnya. Foto2 : Ahmad Sanjaya

Paguyuban keluarga besar para perantau asal Jawa Tengah ini, di Jabotabek sangat luar biasa banyaknya. Ini adalah bentuk rasa persatuan dan kesatuan antar warga perantauan. Dan ini dirasakan serta dinikmati oleh wajah-wajah ceria dari Ribuan Masyarakat asal Karang Gayem, Kebumen, Jawa Tengah yang tergabung dalam Paguyuban Warga Giri Tirto (Pawagir,red) se Jabotabek, begitu bersahabat.

Pasalnya, para pendatang kaum ngapak ini tengah mengadakan halal bihalal di Bumi Perkemahan Ragunan (Buperta), Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Kehadiran mereka selain melepas kangen dengan para sahabat sekampung, pesta yang dikemas juga sangat terasa khas ngapaknya begitu kental.

Rangkaian acara tersebut diawali dengan pembukaan, sambutan-sambutan, tausiyah dan pengajian dan berbagai hiburan dagelan lainnya. Ada yang menarik dari kegiatan tersebut, pasalnya orang yang merantau dan berbahasa “ngapak” dari berbagai daerah seperti Kebumen, Jawa Tengah bisa bebas berkumpul menjadi satu.

Salahsatu apresiasi dan inspirasi sebagai bentuk memperkuat rasa memiliki mempersatukan warga yang ada diperantauan. Foto2 : Ahmad Sanjaya.

“Inyong seneng banget nek ana kegiatan kaya kie, ben adoh-adoh kang Rantau Inyong ora masalah. Ngesuk mben nek bisa kegiatan kumpul-kumpul kaya kie ya rutin dianakna, syukur wong Jabotabek bisa teka meng Ran,” tutur Bobot yang didaulat jadi Ketua Panitia kepada wartawan di Buperta, Jakarta, Minggu (6/8/2017).

Kegiatan tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan tali silaturahmi antar warga Karang Gayem sebagai cara untuk meningkatkan tali silaturahim antar warga “ngapak” khusunya dan seluruh masyarakat Kebumen pada umumnya.

Selain itu, Bobot mengatakan, dengan organisasi yang dinaunginya sebagai wadah untuk berkoordinasi antara warga “ngapak” dapat memberikan sumbangsih penting bagi pembangunan ke depan.

“Terimakasih kepada Bapak/Ibu sekalian yang hadir, bahwa acara ini dimaksudkan menjadi ajang silaturahim dan halal-bihalal. Saya berharap juga jalinan ini tidak berhenti di sini saja, namun ke depan kita selalu berkoordinasi agar warga dari wilayah kuta dapat berandil besar dalam membangun keutuhan dan persaudaraan lebih baik lagi,” ucapnya.

Wajah-wajah ceria warga perantuan yang merasa memiliki kekuatan persatuan.

Menurutnya, paguyuban atau organisasi sosial kemasyarakatn penting keberadaannya untuk membangun sebuah daerah, terkhusus lagi membangun kerukunan umat. “Saya berharap keberadaan paguyuban ini bisa menjadi contoh untuk organisasi-organisasi atau paguyuban yang lain dalam membangun kebersamaan dan kerukunan antar sesama,” pungkasnya.

Paguyuban Warga Giri Tirto (Pawagir,red) bukan sekadar sebuah nama yang diciptakan, namun paguyuban ini adalah pemersatu bagi warga perantau agar tetap menjaga adat istiadat warisan leluhur dimanapun menapakkan kaki di Bumi Nusantara tercinta ini. Karena dengan memperkuat rasa persatuan antar warga yang tergabung dalam naungan paguyuban tersebut, maka tidak akan mudah untuk menghasut segala hal yang bisa memecahbelah persatuan antar warga. Ahmad Sanjaya