full screen background image


Pengecer Habiskan Stok BBM Bersubsidi di SPBU Dedai, Sintang

Lapan6online.com – Kab.Sintang/Kec.Dedai:  Sudah lama dapat dipercaya pada motto ‘Pasti Pas’ yang ada di setiap SPBU Pertamina. Alasannya, sebagai perusahaan BUMN yang besar kelas dunia, Pertamina punya rambu-rambu ketat yang diterapkan kepada setiap SPBU yang menjadi ujung tombak pemasaran produknya. Kepercayaan masyarakat semakin bertambah ketika ada stiker dari Dinas Metrologi yang mengatakan SPBU ini akurat dan takarannya pas plus sertifikat ‘Pasti Pas’.

salahsatu mobil pengecer yang sudah siap anggkut pesenannya. Foto2 : Mardiansyah/ Tim Buser Lapan6 Sintang

Dan menurut situs ‘pastipas.pertamina.com’, untuk mendapatkan sertifikasi ‘Pasti Pas’ sebuah SPBU harus lolos audit kepatuhan standard pelayanan yang ditetapkan oleh Pertamina. Audit ini mencangkup standard pelayanan, jaminan kualitas dan kuantitas, kondisi peralatan dan fasilitas, keselarasan format fasilitas, dan penawaran produk dan pelayanan tambahan. Namun, seiring sejalannya waktu proses pelayanan pertamina dalam hal ini SPBU banyak mengecewakan konsumen, salahsatunya adalah BBM subsidi yang berada diwilayah atau daerah.

Bisnis BBM subsidi memang menggiurkan karena BBM subsidi masih menjadi primadona bagi masyarakat umum dan memang di butuhkan setiap masyarakat umum yang menggunakan kendaraan bermotor, terlebih lagi jika BBM subsidi di SPBU habis atau langka mau tidak mau masyarakat umum yang menggunakan BBM subsidi seperlunya harus membeli di luar SPBU yang harganya tidak lagi harga SPBU.

Situasi inilah yang di manfaatkan oleh pengatri atau pengecer di Kecamatan Dedai, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat mereka berbondong-bondong datang membawa jerigen bahkan drum ke dalam SPBU untuk merebutkan dan menghabiskan stok BBM subsidi yang ada di SPBU tersebut.

Pengisian bensin ke dalam jerigen pesanan para pengecer yang mengantri. Foto2 : Mardiansyah/ Tim Buser Lapan6 Sintang

Padahal Peraturan Presiden No 191 tahun 2014 sudah jelas bahwa Lembaga Penyalur (SPBU) hanya boleh menyalurkan Bahan Bakar Minyak Premium dan Solar untuk pengguna akhir dan dilarang keras untuk menjual Bahan Bakar Minyak Premium dan Solar kepada jerigen dan drum untuk dijual kembali ke konsumen. namun sepertinya Peraturan Presiden No 191 tahun 2014 ini tidak di indahkan oleh pihak SPBU.

Hasil wawancara Tim Buser Lapan6 di Kabupaten Sintang kepada salah seorang pengantri atau pengecer yang saat itu berada di areal SPBU yang sedang antri menunggu gilirannya sekitar pukul 09.40 wib yang tidak mau di sebutkan namanya mengatakan bahwa,”Saya mengantri menggunakan jerigen, hanya 3 jerigen saja karena saya dari desa yang jauh dan saya pakai motor itu pun seminggu sekali saya kesini lagi mengarti di sini, saya pernah dikenakan harga Rp.6900;-/Liter bahkan teman saya pernah dikenakan harga Rp.7000;-/Liter, saya sudah datang dari jam 6 pagi sudah sampai sini kalau saya lewat dari jam 6 pagi dak dapat pastinya, disini BBM subsidi jam 11 atau jam 12 siang sudah habis, masyarakat umum di anjurkan menggunakan pertalite.Ujarnya; ada seorang pengatri yang mereka juluki pemilik SPBU karena selalu dapat BBM subsidi di SPBU ini. setiap hari dia datang terus bawa minyak berdrum-drum terus menggunakan mobil pick up habis isi nanti datang lagi rumahnya di depan SPBU, “jelasnya.

Proses transaksi antara pengecer dengan pihak SPBU menjadi catatan redaksi untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana pihak SPBU menyikapi hal tersebut, Tim Buser Lapan6 mencoba mengkonfirmasikan keterangan pengantri/pengecer kepada Manager SPBU, namun sayang Manager tidak berada di tempat, seperti menghindar (Sabtu,29 Juli 2017).

Dapat di bayangkan keuntungan yang di dapat oleh pihak SPBU yang berada di Kecamatan Dedai, Kabupaten Sintang, yang menjual BBM subsidi ke pengantri atau pengecer dengan harga Rp.6.900;- /Liter bahkan Rp.7000;-/Liter.

Tampak pengecer begitu sabarnya menunggu antrian BMM. Foto2 : Mardiansyah/Tim Buser Lapan6 Sintang.

Meski begitu antrian kendaraan roda dua dan empat milik pengatri atau pengecer yang membawa jerigen atau drum yang berada di dalam SPBU selalu ramai, mereka rela antri berjam-jam guna mendapatkan BBM subsidi yang akan mereka perjual belikan di luar SPBU nanti.

Panjangnya antrian pengisi BBM subsidi ini bukan sebagai pertanda mulai langka bahan bakar kendaraan, melainkan menjadi sebuah gambaran betapa maraknya pengantri dengan menggunakan jerigen bahkan drum yang bercokol di SPBU setiap hari, hingga mengganggu mobilisasi kendaraan umum yang ingin mengisi BBM subsidi. Maraknya pengantri BBM subsidi yang menggunakan jerigen dan drum mengakibatkan masyarakat umum yang hanya menggunakan BBM subsidi seperlunya tidak kebagian BBM subsidi di SPBU tersebut, sampai-sampai masyarakat umum mau tidak mau membeli BBM di luar SPBU atau yang biasa di sebut kios BBM dengan harga BBM jenis premium mencapai Rp.8000;- / bahkan Rp.9000;- / Liter itu pun jika takarannya pas, menurut keterangan masyarakat setempat yang tidak mau di sebutkan namanya, premium di SPBU tersebut habis untuk pengantri/pengecer saja, ketika di tanya jadi selama ini menggunakan BBM jenis apa, masyarakat sekitar menjawab premium habis ya menggunakan Petralite saja,terangnya. dalam hal ini di harapakan agar Pemerintah Daerah jangan tutup mata dengan hal tersebut diatas, agar supaya masyarakat umum juga dapat menikmati harga BBM Subsidi sesuai dengan peraturan pemerintah. Mardiansyah