full screen background image


Potret Suram, Ketika Makam Sultan Ageng Tirtayasa Jadikan Pembuangan Sampah

Lapan6Online.com – Banten : Bangsa yang besar salah adalah bangsa yang menghormati jasa Pahlawannya yang telah rela dan iklas memberikan jiwa dan raganya maupun hartanya untuk Negara dan Bumi Pertiwi yang kita cintai.

Namun potret kesuraman dan kepiluan dari sebuah bukti penghormatan untuk menghormati Pahlawan Nasional tersebut, notabene di pertanyakan publik, cukup jelas secara kasat mata, salah satu lokasi makam indonesia dari daerah Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, makam Sultan Ageng Tirtayasa.

Dari hasil pantauan terbangun media di lokasi, fakta ini cukup mengiris hati di mana instansi terkait Provinsi Banten terkesan melakukan pembiaran terhadap warganya, terbukti di lokasi Makam Pahlawan Nasional terlihat banyak sampah tertumpuk dan kondisi seperti ini-olah tidak ada rasa kepedulian untuk menghargai para pahlawan , Pasalnya pemadangan ini sudah lama.

Bisa anda ingin tahu posisi Makam Pahlawan Nasional Sultan Ageng Tirtayasa ini, tepat di pinggir jalan raya antara Ciruas – Tangerang, dan kondisi sekitarnya makam saat ini sangat memprihatinkan, tidak terawat sekarang nasibnya di hiasi semak belukar atau hutan rimba.

Parahnya lagi Lokasi Makam sudah berganti fungsi tempat pembuangan sampah dan posisi makam yang berada di tengah – tengah Desa Tirtayasa, RT 03, disekitar pemukiman padat penduduk tepatnya depan kantor Desa Tirtayasa dengan luas kurang lebih dua hektar.

Ketika di konfirmasi salah satu pengurus makam Sultan Ageng Tirtayasa, terkait bentuk perhatian pemerintah pusat maupun daerah terkait lahan makam yang tidak terawat baik menurutnya, ”sudah pernah diperbaiki bangunan makam kurang lebih di tahun dua ribuan dan pernah kami usulkan namun anggarannya tidak tidak cukup, jadi sampai saat ini bantuan yang bersifat nominal sangat kecil untuk perawatan, dan hanya tergantung hasil swadaya warga dan kotak amal para peziarah makam.

”Benar terlihat dan terkesan kurang di perhatikan namun sampai saat ini hanya sebatas bantuan bantuan pribadi dan nominalnya kecil dan dana hasil swadaya”, dalihnya.

Ia menambahkan beberapa bulan yang lalu, salah satu petinggi Kabupaten Serang, Banten, pernah berjanji akan segera memperbaiki taman makam, namunenak waktu berjalan, janji itu hanya tinggal janji semu.

Kalau tidak salah tidak lama ini salah satu petinggi di pemerintahan memanggil pihak pengelola makam dan mengatakan di tahun 2018, tepatnya di bulan Maret akan di realisasikan perbaikan makam, kami tunggu janjinya.

“Namun kalau tidak ditepati Saya akan angkat bicara kalau bulan Maret, tahun 2018 nanti tidak di realisasikan” katanya berapi api.

Masih di tempat yang sama, salah satu warga yang tinggal di seputaran makam mengeluhkan hal yang sama dan merasa miris dengan kondisi makam yang terabaikan oleh pemerintah.

“Yaa pak, gak terawat dan ini udah berlangsung tahun, sekarang berubah menjadi tempat pembuangan sampah itu di sebabkan tidak ada lahan atu tempt untuk dijadikan pengungsi samapah warga,” kata warga dengan polosnya.

Di tempat yang berbeda salah satu pengamat sosial sekaligus masih kerabat besar Pahlawan Nasional, Leo Penjaitan di Jakarta saat di kirimi oleh media terbangun foto-foto kondisi bangunan dan lingkungan seputaran makam merasa sangat “GERAM” bahkan sempat dikritik kritikan pedasnya.

“Bupati, Pemda dan khususnya Dinas terkait itu bukan tidak tahu, namun terkesan pura-pura buta makanya tak bergeming jiwanya melihat kondisi makam bersejarah ini”, katanya dengan suara lantang melalui via seluler.

Sementara itu warga berinisal BD (35 tahun) yang sempat berziarah ke tempat bersejarah nasional saat melihat kondisi yang sempat terjawab serta sangat menyayangkan kejadian ini bahkan menyinggung pemerintah mana jiwa Nasioanalisme kepada para pejuang.

“Pak menteri tolong lihat makam Pahlawan nasional milik bangsa ini, sekarang berubah menjadi tempat pembuangan sampah dan semak belukar,” katanya seperti dikutip dari laman oborkeadilan.

Sekedar Anda ketahui biografi Sultan Ageng Tirtayasa adalah putra dari Sultan Abu al-Ma’ali Ahmad (Sultan Banten periode 1640-1650) dan Ratu Martakusuma.

Sejak kecil ia bergelar Pangeran Surya, kemudian saat hidup wafat, ia diangkat menjadi Sultan Muda yang bergelar Pangeran Dipati. Setelah kakeknya meninggal dunia pada tanggal 10 Maret 1651, ia diangkat sebagai Sultan Banten ke-6 dengan gelar Sultan Abu al-Fath Abdulfattah.
Nama Sultan Ageng Tirtayasa hadir saat ia mendirikan keraton baru di dusun Tirtayasa (berada di Kabupaten Serang).

Perjuangan Sultan Ageng Tirtayasa bertenaga di Kesultanan Banten pada periode 1651 – 1683. Ia sedang banyak melawan Belanda. Masa itu, VOC menerapkan perjanjian monopoli perdagangan yang sedang Kesultanan Banten.

Kemudian Tirtayasa menolak perjanjian ini dan menjadikan Banten sebagai pelabuhan terbuka. Saat itu, Sultan Ageng Tirtayasa ingin mewujudkan Banten sebagai kerajaan Islam terbesar.

Di bidang ekonomi, Tirtayasa berusaha meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan membuka sawah-sawah baru dan mengembangkan irigasi.

Di bidang keagamaan, ia mengangkat Syekh Yusuf sebagai mufti kerajaan dan penasehat sultan. Saat terjadi sengketa antara kedua putranya, Sultan Haji dan Pangeran Purbaya, Belanda ikut campur dengan bersekutu dengan Sultan Haji untuk perlindungan Sultan Ageng Tirtayasa. Saat Tirtayasa mengepung pasukan Sultan Haji di Sorosowan (Banten), Belanda membantu Sultan Haji dengan mengirim pasukan yang dipimpin oleh Kapten Tack dan Saint-Martin.

Banyaknya informasi dari warga yang ada di lokasi Makam Pahlawan meminta pemerintah agar segera menata ulang cagar budaya Tirtayasa. Infoindotim/red/Mas Te




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *