full screen background image

Respons Warga Sekitar Soal “Surga Dunia “Alexis Ditutup

Lapan6online.com – Jakarta : Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tidak memperpanjang izin usaha hotel dan griya pijat Alexis di Jakarta Utara. Hal ini disampaikan lewat surat resmi yang ditujukan kepada Direktur PT Grand Ancol Hotel.

Surat izin dilayangkan oleh Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Pemprov DKI Jakarta. Dengan demikian, operasi hotel yang diduga sebagai lokasi prostitusi itu tidak bisa dilanjutkan karena izinnya sudah habis per tanggal surat tersebut dikeluarkan, yakni Jumat, 27 Oktober 2017.

Penutupan Alexis pun mendapat tanggapan beragam dari warga sekitar tempat yang sempat disebut Gubernur Ahok sebagai “Surga Dunia” di Jakarta tersebut.

Sri (51) salah satunya. Warga Kampung Bandan RT 013 RW 005 yang rumahnya terletak dekat Alexis ini menyambut baik penutupan hotel tersebut oleh Gubernur Anies.

Sri yang aktif sebagai anggota majelis taklim di wilayah tersebut mengaku tak mengetahui ada kegiatan prostitusi di dalam Alexis. Jika kegiatan tersebut benar ada, Sri justru sangat mendukung penuh untuk mendukungnya.

“Saya hanya warga biasa, saya mendukung pemerintah saja kalau memang mau ditutup, lanjutin saja, masa dibiarkan saja sama pemerintah kalau memang buat maksiat dalamnya,” ujar Sri saat ditemui lapan6online.com di rumahnya pada Senin malam (30/10).

Sri menganggap isu keberadaan prostitusi di dalam hotel Alexis bisa membawa ekses negatif bagi anak-anak dan keluarga yang tinggal di daerahnya.

Baginya, anak-anak harus dilindungi dari lingkungan yang bisa menimbulkan ekses negatif bagi perkembangannya.

“Kalau benar ada begituannya (prostitusi), saya jadi takut kalau anak-anak saya kenapa-kenapa, saya kan punya anak, takutnya bisa dapat efek jelek,” ujar dia.

Bersama warga sekitar, Sri mengatakan tak bisa berbuat banyak atas kehadiran Alexis. Menurutnya, Alexis selama ini dianggap seperti tempat yang sulit dijangkau warga.

“Saya dan warga sini cuma tahu isu-isu saja di situ ada tempat hiburan begitu, karena di sana dalamnya tidak ada yang tahu, warga juga banyak yang tidak tahu,” ujarnya.

Senada dengan Sri, pengurus RT 004 RW 005 Pademangan, Aris (43) sependapat dengan pemerintah yang ingin menutup Alexis. Baginya, kebijakan yang diterapkan pemerintah baik untuk kepentingan bersama.

“Saya setuju saja, silakan saja ditutup ya kalau di dalamnya ada seperti itu, baik buat masyarakat pasti,” ujarnya.

Aris yang telah tinggal di wilayah dekat Hotel Alexis sejak 2004 sendiri mengaku belum pernah mengetahui tentang prostitusi di dalam hotel tersebut. Bagi Aris, hotel Alexis terbilang sangat ketat penjagaannya dan steril.

“Warga sini mana tahu ada begituan di sana, seperti rahasia begitu, penjagaannya ketat, paling banyak kan cuma isu-isu aja di sini, yang sudah tahu kan cuma orang yang pernah masuk,”

Meski demikian, Aris percaya ada kegiatan prostitusi di dalam Alexis benar dan harus ditindak tegas. Ia juga mengaku lega dan senang warganya tak ada yang bekerja di hotel tersebut.

“Tidak ada warga sini yang kerja di sana, kayaknya mereka ambil dari daerah luar, saya bersyukur malah,” ungkapnya.

Ia meminta bantuan dari pemerintah untuk menertibkan hotel tersebut karena dinilai akan meresahkan warga sekitar dan mencoreng nama wilayahnya.

“Gara-gara Alexis bisa-bisa wilayah ini namanya jadi tercemar sebagai sarang prostitusi. Pemerintah harus turun tangan deh membenahi,” ujarnya. Regis




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *