full screen background image


Sakit Anemia, Bisakah Berpuasa?

Lapan6online, JAKARTA – Bagi penderita anemia, menjalankan puasa pada umumnya dapat dilakukan. Yang terpenting, Anda mengetahui lebih dahulu derajat anemia Anda serta berkonsultasi kepada dokter.

Penderita anemia yang melakukan puasa tidak boleh asal-asalan dalam memilih menu makanan. Bila penderita anemia tidak memenuhi kebutuhan gizinya dengan baik, maka dapat memperparah kondisi anemia yang dialami. Anemia menyebabkan berkurangnya sel darah merah yang sehat yang dapat menghantarkan oksigen dan nutrisi ke seluruh tubuh, padahal nutrisi tersebut sangat diperlukan – terutama saat puasa.

Jika saat berpuasa penderita anemia tiba-tiba mengalami pusing berlebih, pingsan, jantung berdebar-debar atau sesak napas, hal itu menunjukkan bahwa tubuh sangat kekurangan sel darah merah sehat. Nah, bila Anda mengalami gejala-gejala tersebut dan merasa sangat tidak kuat, Anda dapat membatalkan puasa dan mengunjungi dokter untuk dilakukan pemeriksaan.

Karena itu, ada beberapa hal yang penting untuk diketahui jika kondisi tersebut muncul. Selengkapnya di halaman berikutnya.

Pada penderita anemia yang menjalankan puasa, penting sekali untuk memenuhi asupan zat besi dan vitamin B. Ketika sahur, makanlah makanan yang kaya akan zat besi seperti daging merah, hati, kacang-kacangan, dan sayuran hijau. Perbanyak protein dibandingkan karbohidrat, karena mengonsumsi karbohidrat terlalu banyak saat sahur dapat membuat Anda mudah lapar dan merasa lemas pada siang hari.

Ketika berbuka puasa, konsumsilah makanan yang manis terlebih dahulu seperti teh manis, kolak atau kurma untuk mengembalikan kadar gula darah. Setelahnya, Anda dapat beristirahat dan melaksanakan salat, lalu makan “besar” yang bergizi (serta yang terpenting mengandung zat besi dan vitamin B).

Umumnya, penderita anemia tidak mampu memenuhi kebutuhan gizi dan kalori dari jadwal makan selama berpuasa, sehingga dibutuhkan suplemen tambahan. Terutama suplemen tambahan yang mengandung zat besi, vitamin B12, asam folat dan mineral lainnya. Namun, pastikan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu agar dosisnya dapat disesuaikan.

(dr.Anita A.S)