full screen background image


Semrawut & Kusutnya Isi Got Ring 1 Jakarta, Sudin PU Tata Air Hanya Bisa Pasrah

Lapan6online.com – Jakarta : Pada tahun 2015, Sudin PU tata Air Jakarta Pusat pernah membongkar utilitas saluran air utama di Ring Satu Menteng Jakarta Pusat guna diperbaiki. Mengerikannya, saluran Got yang sebagian merupakan saluran air tumpang sejak zaman Belanda tampak di “isi” dengan kabel-kabel berliku, tumpang tindih keluar masuk gedung-gedung dan “Semrawut”.

Utilitas yang ditanam sejumlah Perusahaan BUMN yang ditaruh di Saluran air. (Foto Hugeng/GlobalIndonesia/Berita360 dokumen)

Herning Wahyuningsih, Kepala Sudin PU Tata Air Jakarta Pusat ketika itu menjelaskan pihaknya tak bisa berbuat apa-apa terkait dengan semrawutnya utilitas di saluran air yang menjadi tanggung jawabnya.

“Utilitas memang bukan bagian dari pekerjaan Kami, tetapi kondisi di Jakarta ya memang seperti ini. Ada kabel telkom, gas, kabel listrik, PAM, dan lain-lain. Ya kita mau ngomong apa? Kita hanya berkirim surat, kita sampaikan ini ada masalah, tapi bila mereka tidak mau perbaiki, ya kita harus bagaimana?” Papar Herning saat ditemui Redaksi.

Pekerjaan Swakelola Ditengah Kusutnya Utilitas
Dijelaskan, Pemerintah provinsi (Pemprov) DKI Jakarta telah menganggarkan dana Penanggulangan Banjir di wilayah Ring satu Jakarta Pusat melalui Sudin PU Tata Air, dimana saat itu sedang dilaksanakan berbagai proyek Swakelola Perbaikan Saluran Air yang tersebar di Delapan kecamatan se-Jakarta Pusat, yang diharapkan dapat memaksimalkan Penanggulangan Banjir di wilayah tersebut.

Menurut Herning, pekerjaan Perbaikan Saluran Air adalah pekerjaan swakelola yang dilaksanakan berdasarkan permintaan dari warga lewat Twitter, Short Message Service (SMS), atau Surat ke Pak Gubernur yang lalu ditindaklanjuti oleh Sudin PU Tata Air tanpa dilelang.

“Kegiatan swakelola ini dilaksanakan langsung oleh Sudin PU Tata Air tanpa melibatkan pihak ke tiga (Kontraktor).” Jelas Ibu Herning. Dalam proses perencanaan sampai dengan pelaksanaan pekerjaan semua dilakukan oleh Sudin PU Tata Air dengan tenaga ahli yang ada.” Jadi tidak melibatkan konsultan dari luar PU.” tegas dia.

Kendati demikian, Herning mengakui pihaknya kesulitan mengatasi utilitas yang ditanam sejumlah Perusahaan BUMN yang ditaruh di Saluran air, Seperti kabel Listrik PLN, Pipa Gas PGN, Kabel Telkom,Pipa PAM, dan utilitas lainnya.

Diketahui, Kontur Saluran air di wilayah Jakarta pusat selalu beriringan dengan banyaknya utilitas yang tertanam atau berada di saluran air, tampak jelas berantakan dan tidak di tata dengan baik oleh Instansi-instansi tersebut. Dan dengan banyaknya Utilitas yang tertanam, menjadi masalah dan kendala tersendiri bagi Sudin PU Tata Air, dapat mengakibatkan pekerjaan perbaikan saluran menjadi tidak maksimal, menyumbat, bahkan gagal fungsi.

“Utilitas memang bukan bagian dari pekerjaan Kami, tetapi kondisi di Jakarta ya memang seperti ini. Ada kabel telkom, gas, kabel listrik, PAM, dan lain-lain. Ya kita mau ngomong apa? Kita hanya berkirim surat, kita sampaikan ini ada masalah, tapi bila mereka tidak mau perbaiki, ya kita harus bagaimana?” jelas Herning.

Saluran Tumpang Beresiko Tinggi Gagal Fungsi
Dia mengakui, beberapa perbaikan pada saluran-saluran tersebut tentu saja tidak dapat maksimal diperbaiki selama masih berantakannya Instalasi yang dipasang secara sembarangan yang dipasang tepat berada di dalam saluran air, atau berada di atas saluran tumpang.

Saluran air tumpang merupakan saluran air bertumpuk yang berbeda saluran. Saluran paling bawah adalah saluran air sejak zaman Belanda, sementara saluran yang dibangun di atasnya merupakan saluran air periode saat ini. Uniknya, kedua saluran atas bawah itu mempunyai aliran air yang berbeda. Namun begitu akibat sulitnya perbaikan akibat banyaknya utilitas, dan rapuhnya saluran bawah menyebabkan disejumlah tempat saluran menjadi pecah dan menyatu.

Proses pelaksanaan pekerjaan pun menjadi beresiko bagi pekerja-pekerja di lapangan. Seperti yang dijelaskan oleh Koordinator Lapangan Sudin PU Tata Air, Glen. Adanya pekerja yang terluka oleh jaringan kabel yang tertanam di atas saluran hingga harus di bawa ke rumah sakit.

Glen juga pernah berdebat dengan Petugas Telkom saat ada masalah di lapangan. Petugas Telkom tersebut menjelaskan bahwa perusahaannya tidak dapat mengirim orang ke lapangan karena tidak ada anggaran perbaikan. “Yaa, saya mau ngomong apa kalau sudah begitu?” Jelas Glen.

Penampakan kusutnya utilitas yang dipasang di saluran air. (Foto istimewa)

Ketika ditanya apakah ada solusi berkenaan dengan banyaknya utilitas yang berantakan dan semrawut, Herning Wahyuningsih dan Glen menjawab tidak ada solusi untuk pemindahan jaringan-jaringan itu.

Artinya Pemerintah dalam hal ini tidak dapat menekan ataupun mengatur tiap Utilitas yang ditanam oleh Instansi-instansi seperti PAM, PLN, Telkom, Gas Negara, Pemasangan Serat Optik, bahkan tiang listrik, di sepanjang saluran air yang dapat mengakibatkan penyumbatan dan gagal fungsinya saluran air itu.

Bila demikian halnya, pemerintah bisa dianggap gagal memberikan solusi akhir bagi pertanggungjawaban setiap Instansi yang menanam atau membangun utilitas mereka di sepanjang saluran air tersebut. Terlebih setelah saluran itu kini telah tertutup rapih dan sudah selesai pengerjaan.

Melihat fungsinya, maka sudah seharusnya Pemerintah lebih mengatur dan menata setiap Instansi pemerintah atau swasta yang akan memasang instalasi bawah tanah di saluran air atau di atas saluran Tumpang agar setiap perbaikan seperti yang dilaksanakan dapat maksimal dan sesuai harapan. Jadi tidak ada Pekerjaan yang sia-sia.

Namun jika melihat banyaknya utilitas yang berantakan seperti dalam foto di atas, maka proses perbaikan jadi lebih sulit dan banyak makan biaya. Maka dalam hal ini jelas yang dirugikan adalah Masyarakat juga. Jadi Pemerintah harus memberikan sanksi tegas pada setiap instansi yang pada saat penanaman kabel/pipa telah merusak saluran atau menyumbat saluran air. Demikian Sudin PU Tata Air. Mas Hugeng



Owner