full screen background image


Sulawesi Rentan Penyelundupan BBM Ilegal, Polisi “Tidak Berani” Tahan 300 MT Solar Ilegal

Lapan6online – Luwuk Banggai : Penyelundupan Bahan Bakar Minyak (BBM) di wilayah Indonesia Tengah semakin berani saja. Umumnya, penyelundupan BBM ini terjadi karena adanya koordinasi antara pihak pengusaha dengan oknum anggota penegak hukum setempat. Karena secara administrasi, penyelundupan ini tidak dilengkapi oleh dokumen yang dipersyaratkan.

Seperti yang terjadi di pelabuhan Tilong, Luwuk Banggai, Sulawesi Tengah, sejak 13 Oktober 2015 sebuah kapal tanker SPOB Dana Mandiri 468 sandar di dermaga pelabuhan Tilong. Berdasarkan informasi yang diterima dari masyarakat sekitar pelabuhan, media ini satu hari kemudian (14/10) pukul 08.30 WITA langsung turun ke lapangan guna memastikan informasi tersebut.

Ternyata informasi yang diterima tidak salah, di tempat kejadian perkara (TKP) sudah ada Sembilan truk tanki yang siap memuat BBM dari kapal. Truk tanki itu sendiri ketika dikonfirmasi milik pengusaha bernama Lupi dari PT Sinar Pagi Mandiri. Karena ada kegiatan bongkar muat BBM solar yang mencurigakan, media ini mencoba mendekati Lupi dan menyampaikan beberapa pertanyaan.

Menurut Lupi, pihaknya menerima email dari PT Macindo yang beralamat di Palu. “Berdasarkan informasi dari PT Macindo, mereka membeli BBM/HDS Solar dari Pertamina Depo Luwuk Banggai sebanyak 300 metrik ton (MT). Selanjutnya BBM dimaksud akan dibawa ke Toili yang berjarak lebih kurang 100 km dari Luwuk Banggai,” kata Lupi menjawab pertanyaan Lapan6.

Ditambahkan Lupi, pihak PT Macindo meminta dirinya yang melakukan pengiriman, karena perusahaan Lupi antara lain memang memiliki truk tanki BBM. “Berdasarkan itu, saya menyuratiKasat Reskrim Polres Luwuk Banggai apakah pihaknya diberi izin untuk mengirim BBM tersebut ke Toili. Saya mendapat jawaban tidak masalah, tapi yang terpenting adalah bahwa BBM tersebut tidak illegal,” jelas Lupi.

Lalu Lupi meyakinkan pihak Kasat Reskrim bahwa BBM tersebut, sehingga Lupi akhirnya bisa jalan. Tidak puas dengan jawaban Lupi, Lapan6 berusaha naik ke kapal untuk mendapatkan informasi lainnya. Antara lain pertanyaan yang disampaikan adalah soal kelengkapan dokumen pengiriman BBM solar itu sendiri.

Dari mana solar itu dibawa, dibeli dari siapa dan dijual kemana. Pertanyaan sederhana ini sesuai dengan persyaratan prosedur yang harus diikuti dan dipatuhi pihak pembeli dan penjual. Jika tidak dapat memperlihatkan bukti-bukti dokumen dimaksud, bisa jadi soal BBM itu berstatus illegal atau diselundupkan.

Pihak kapal yang diwakili Iwan meyakinkan bahwa dokumen lengkap, sambil mengeluarkan secarik kertas berkop surat Pertamina. Tapi anehnya isi surat tersebut tidak ada menyebutkan adanya transaksi jual beli antara pihak Pertamina dengan pembeli. “Semua itu akan dilengkapi setelah BBM solar semuanya sudah terisi, baru kemudian ditandatangani,” kata Iwan menjawab pertanyaan Lapan6.

Masih tidak puas dengan jawaban Iwan, media ini mencoba memotret kapal jenis tanker tersebut. Tapi lagi-lagi Iwan menjawab bahwa tidak ada yang boleh melakukan pemotretan di atas kapal. “Saya yang tidak membolehkan memotret kapal dan juga truk tanki,” kata Iwan mencoba mengalihkan pembicaraan.

Usai mengambil foto-foto yang diperlukan, muncul beberapa pertanyaan yang harusnya dijawab pihak kapal maupun Lupi yang akan bertanggungjawab sebagai petugas transportasi pengiriman barang. Pertama, ternyata di dalam dokumen tidak ada tercantum kalau bongkar muat solar dimaksud berlangsung di pelabuhan Tilong.

Pertanyaan kedua yang menjadi ganjalan adalah, Toili sebagai daerah tujuan pengiriman BBM solar bisa dilaksanakan ataupun dijangkau lewat darat (truk tangki). Meski demikian , di tempat tujuan akhir tersebut, dengan jumlah solar sebanyak 300 MT dipastikan tidak tertampung di Toili, karena tidak ada penampungan solar sebesar itu.

Akhirnya Lapan6 mencoba menghubungi pihak kepolisian bersama Kasat Binmas, Akp A. Aziz. Namun dari pihak kepolisian Luwuk Banggai tidak ada yang berani melakukan penahanan. Tapi pihak Migas yang ada di provinsi Sulawesi Tengah menyampaikan hasil yang didapatkan.

Salim selaku inspektur Migas di Palu setelah mendapat laporan yang diperoleh menegaskan, “Segera laporkan ke pihak berwajib dan yang terlibat segera ditahan, karena sesuai informasi yang diperoleh di TKP menyebutkan dokumen yang dimiliki tidak sesuai. Hal ini kemudian disampaikan ke pihak polisi. Ternyata pihak polisi tidak ada yang berani untuk melakukan penahanan.

Lalu kepada pihak Kodim tim Lapas6 juga menyampaikan hal sama yaitu minta dicek dokumen mereka. Setelah dicek oleh Kapten Din Tambalong selaku Pasi Intel Kodim 1308 menegaskan bahwa para anak buah kapal serta pengusaha BBM illegal tersebut segera ditangkap. Karena kegiatan yang dilakukan sudah tidak sesuai dengan apa yang tertulis di dokumen.

Tapi sangat disayangkan, pihak polisi yang ada di Polres, Kasat Sabhara AKP Hengki serta Kasat Binmas beserta 10 anggotanya sudah balik kanan duluan. (Drai).




One thought on “Sulawesi Rentan Penyelundupan BBM Ilegal, Polisi “Tidak Berani” Tahan 300 MT Solar Ilegal

  1. Daniel Rendy Raintung

    sangat disaygkan hal yg sdh di serakan ke pihak yang berwajib ,BBM /HDS SOLAR ini tidak juga ada proses selanjutnya.///( terdiam dan BBM itu tdak tau di mana dan di kemanakan…saat ini blum ada info sebab lenyab begitu saja baik bahannya, juga pemain nya.

Comments are closed.