OPINI | POLITIK
“Karena memang demikianlah dorongan dalam diri seseorang saat dia diberikan kebebasan, yakni cenderung memikirkan kepentingan pribadi daripada kepentingan orang lain,”
Oleh : Eva Arlini, SE
KEBEBASAN berpendapat yang menjadi bagian dari demokrasi kini dipertanyakan. Pasalnya sejumlah konten kreator yang secara aktif terus menerus memperhatikan pemasalahan banjir bandang dan longsor di Sumatera serta mengkiritik kinerja pemerintah yang lambat dalam menangani masalah tersebut mendapatkan teror.
Teror yang dialami para konten kreator sekaligus relawan bencana Sumatera tersebut beragam bentuk. Mulai dari ancaman fisik, pengrusakan fasilitas milik korban, peretasan digital, hingga intimidasi yang dialami oleh keluarga korban. Diduga kuat bahwa teror tersebut berkaitan dengan suara – suara kritikan para konten kreator tersebut di media sosial terhadap pemerintah.
Sebut saja Sherly Navita. Gen Z satu ini dikenal publik sebagai konten kreator dan influencer yang konsisten memperhatikan urusan politik. Dalam video unggahannya di TikTok Sherly mengaku mendapatkan surat ancaman, vandalisme dan rumahnya dilempar telur.
Ada juga aktifis Greenpeace yang mengaku mendapatkan secarik kertas berisi tulisan bernada ancaman.
Cara Pandang Terhadap Kritik
Jika berkomitmen terhadap demokrasi, seharusnya seseorang terbuka terhadap kritik. Tentu yang dimaksud adalah kritik yang membangun, kritik yang memperbaiki, kritik yang berarti mengingatkan seseorang untuk bersikap sebagaimana mestinya.
Pemerintah sebagai pihak yang perannya paling besar dalam mengurusi rakyat sangat layak mendapakan kritikan ketika dinilai rakyat lalai. Hal itu berfungsi sebagai alat kontrol dari kelalaian.
Seharusnya kita berterima kasih ada yang mengingatkan kita untuk menjalankan tugas. Artinya kita diperhatikan, kita diinginkan agar berbuat yang benar. Jika ditanggapi secara positif, maka kritikan menjadi pelecut bagi seseorang untuk melakukan tugasnya lebih baik lagi. Namun begitulah, dalam teorinya sistem demokrasi kapitalis bukan hanya mengakui kebebasan berpendapat, namun juga kebebasan berprilaku dan berekonomi.
Kebebasan berprilaku dan berekonomi justru paling menonjol dalam kehidupan kita hari ini. Cara pandang kebebasan mendorong manusia mengejar apa yang dianggapnya sebagai kebahagian, yakni kekayaan. Muncullah orang – orang yang memiliki kemampuan mengumpulkan uang.
Mereka menginginkan harta yang lebih banyak. Mereka tertarik mengelola kekayaan alam. Lalu mereka melobi pihak berwenang untuk mendapatkan izin pengelolaan Sumber Daya Alam yang mereka inginkan.
Dalam mempertimbangkan izin tersebut, pihak berwenang menghitung untung rugi, bukan memikirkan nasib orang – orang yang bersangkut paut dengan SDA tersebut. Karena memang demikianlah dorongan dalam diri seseorang saat dia diberikan kebebasan, yakni cenderung memikirkan kepentingan pribadi daripada kepentingan orang lain. Alhasil terjadilah apa yang marak saat ini yakni pengelolaan SDA oleh pihak swasta yang dilegalkan oleh negara.
Begitulah cara pandang kehidupan yang diajarkan sistem demokrasi kapitalis. Uang adalah segalanya. Uang adalah sumber kebahagiaan. Tak heran jabatan dianggap sebagai sarana memperkaya diri. Tak peduli merusak alam dan membahayakan orang banyak, yang penting bisa mendapatkan uang dan kenikmatan dunia.
Dengan cara pandang demikian, kritikan pun akan dianggap sebagai ancaman, bukan perbaikan. Lalu teror diciptakan untuk menimbulkan rasa takut rakyat kepada rezim yang sedang berkuasa. Di tengah kezhaliman yang nyata terjadi di depan mata, rakyat diminta diam. Akan seperti apa negeri ini ke depan?
Islam Memandang Kritik
Baiknya kita tinggalkan demokrasi dan sekulerisme sebagai sistem kehidupan individu, bermasyarakat dan bernegara. Kebebasan berprilaku hanya akan membentuk manusia – manusia egois. Manusia hanrus diatur oleh Pencipta, Allah swt. Dengan aturan hidup dari Allah swt, manusia bisa hidup lebih tertib, tidak saling menyakiti, tidak saling menzhalimi.
Dalam Islam ada satu ajaran yang sangat penting, yakni amar ma’ruf nahi munkar (mengajak pada kebaikan dan mencegah dari keburukan). Kritik terhadap penguasa adalah bagian darinya. Kritik bukan sebuah kebolehan tapi kewajiban.
Bahkan mengkritik penguasa disetarakan pahalanya dengan jihad. Rasulullah saw bersabda: “Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.” (HR Abu Dawud, At Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Islam pun mengajarkan bahwa hidup ini tujuannya ibadah. Kebahagian terletak pada ridha Allah swt. Kekuasaan merupakan salah satu sarana ibadah bagi seorang muslim. Dengan diberikan kekuasaan artinya ia berkesempatan untuk mendapatkan pahala besar dari Allah swt.
Dengan catatan ia menjalankan tugas pemerintahan sesuai perintah dan larangan Allah swt, Pahala dari Allah swt itulah yang membuat seorang muslim bahagia. Tak heran, sejarah mengisahkan, ketika dikritik Khalifah Umar bin Khattab justru merasa senang. Karena dengan kritik ia terhindar dari dosa.
Suatu kali Khalifah Umar dikritik oleh seorang perempuan mengenai kebijakannya dalam hal mahar atau mas kawin. Perempuan tersebut menyampaikan kritiknya dengan argumen atau dalil yang kuat. Alhasil Umar menerima kritikan tersebut serta mengubah kebijakan yang dianggap rakyatnya keliru tersebut. Begitu indah hubungan antara pemimpin dan rakyat yang diatur oleh Islam.
Pemimpinnya memandang rakyatnya adalah amanah dari Allah swt untuk diurus secara benar. Berharap selalu diingatkan rakyatnya, agar dirinya terhindar dari dosa. Rakyatpun melaksanakan kewajibannya mengkritik penguasa atas dasar rasa sayangnya pada pemimpin serta kepatuhan pada Allah swt. Bukankah sebaiknya kita berpindah kepada sistm Islam untuk menggantikan sistem demokrasi kapitalis ini? (**)
*Penulis Adalah Guru Tahsin Al Qur’an


















