OPINI
“Hanya dengan kembali kepada syariah kaffah, jiwa manusia benar-benar terlindungi, masjid kembali menjadi pusat cahaya, serta generasi muda tumbuh dalam bimbingan wahyu, bukan ideologi buatan manusia,”
Oleh : Amrullah Andi Faisal
LEDAKAN di masjid SMA Negeri 72 Jakarta, pada Jum’at (07/11/2025) yang melukai puluhan siswa menyayat nurani umat. Rumah Allah yang seharusnya menjadi tempat suci, justru berubah menjadi arena darah dan tangis. Aparat menemukan bubuk peledak dan kini mendalami motif pelaku yang masih berusia 17 tahun.
Namun, tragedi ini lebih dalam dari sekadar kriminalitas remaja. ia adalah cermin retak dari sistem sekuler yang gagal melindungi manusia, bahkan di tempat ibadah.

Sekularisme dan Krisis Nilai
Sekularisme telah memisahkan agama dari kehidupan. Akibatnya, pendidikan hanya memproduksi manusia cerdas akal, tapi miskin ruh. Anak didik dibesarkan dalam lingkungan yang menuhankan kebebasan, namun menelantarkan makna hidup.
Ketika remaja kehilangan arah dan spiritualitas, ruang kosong itu diisi oleh depresi, kekerasan atau ideologi destruktif. Dana Anak Perserikatan Bangsa Bangsa (UNICEF) mencatat 1 dari 3 remaja Indonesia pernah mengalami tekanan psikologis berat, sebagian berujung pada tindak kekerasan terhadap diri dan orang lain.
Dalam sistem pendidikan sekuler, masjid di sekolah hanya dilihat sebagai pelengkap formalitas, bukan pusat pembinaan akidah. Padahal, Rasulullah Sallahu Alaihi Wasallam menjadikan masjid sebagai jantung peradaban. Tempat menuntut ilmu, mengatur urusan masyarakat dan menegakkan hukum Allah. Ketika fungsi ini direduksi, masjid kehilangan wibawa sakralnya, umat pun kehilangan arah.
Kegagalan Negara Melindungi Jiwa
Negara sekuler hanya menilai keselamatan manusia dari aspek material. Keamanan dijaga oleh kamera CCTV, bukan dengan takwa. Padahal Islam menempatkan ḥifẓ an-nafs (perlindungan jiwa) sebagai tujuan utama syariah.
Dalam sistem Islam, pelindung jiwa bukan sekadar aparat, tetapi juga masyarakat yang dibina dengan akidah. Remaja tidak dibiarkan hidup tanpa bimbingan, sebab negara wajib memastikan pendidikan berbasis iman, bukan sekadar kurikulum pasar kerja.
Kegagalan ini berulang. Kekerasan di sekolah, tawuran, hingga kejahatan siber. Semua muncul dari akar yang sama, sistem yang memisahkan manusia dari Rabb-nya. Maka tragedi di masjid sekolah adalah konsekuensi logis dari sistem yang rusak, bukan sekadar oknum.
Islam Kaffah, Penjaga Jiwa dan Kehormatan
Islam datang bukan hanya sebagai agama ritual, tapi sistem hidup menyeluruh (kaffah). Ketika diterapkan dalam pendidikan, keamanan, sosial, pemerintahan dan seluruh aspek kehidupan, maka Islam menutup semua celah kekerasan. Beberapa prinsip Islam dalam menjaga jiwa dan kehormatan ialah pertama, pendidikan berbasis akidah. Kurikulum Islam menumbuhkan kesadaran bahwa hidup dan mati hanyalah untuk Allah, seuai pesan Al Quran Surah VI ayat 162. Pelajar dibina menjadi insan bertakwa, bukan sekadar kompetitif.
Kedua, sistem sosial preventif. Islam mewajibkan masyarakat menegur kemungkaran (amar ma‘ruf nahi munkar), bukan acuh terhadap gejala menyimpang.
Ketiga, hukum yang menegakkan keadilan. Syariah memberi sanksi tegas bagi tindakan yang membahayakan jiwa, sekaligus menjamin keadilan dan rehabilitasi bagi pelaku.
Keempat, khilafah pelindung umat. Negara bertanggung jawab langsung atas keamanan masjid, pendidikan generasi, dan kesejahteraan keluarga, bukan menyerahkan semuanya pada pasar bebas dan birokrasi.
Penutup
Tragedi di masjid sekolah seharusnya menggugah umat untuk berhenti menambal sistem yang bocor. Bukan dengan seminar “moderasi” atau slogan “toleransi”, karena keduanya tak menyentuh akar masalah: hilangnya penerapan Islam sebagai sistem kehidupan. Hanya dengan kembali kepada syariah kaffah, jiwa manusia benar-benar terlindungi, masjid kembali menjadi pusat cahaya, serta generasi muda tumbuh dalam bimbingan wahyu, bukan ideologi buatan manusia.
Inilah solusi sejati: menegakkan Islam secara total, agar keamanan bukan sekadar angka statistik, tapi wujud nyata dari keimanan dan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wa Taala.
Rujukan :
[1] Reuters, “Indonesia Police Find Possible Explosive Powder in Jakarta Mosque Blasts,” 8 Nov 2025.
[2] UNICEF Indonesia, “The State of the World’s Children 2024: Adolescents Mental Health Report,” 2024.
*Penulis Adalah Kolumnis di Sinjai


















