Preman Merasahkan Masyarakat

0
16
Eva Arlini SE/Foto : Ist.
OPINI | HUKUM
“Keberadaan preman tidak lepas dari carut marutnya kehidupan bernegara kita. Orang yang memilih menghasilkan uang dengan cara meminta kepada orang lain memakai kekerasan disebabkan dua factor,”
Oleh : Eva Arlini, SE 
NASIB tragis dialami sebuah keluarga. Sedang hajatan pernikahan sang anak, ayah mempelai justru meninggal dunia di tangan preman. Ya, sekelompok orang yang diuga preman meminta sejumlah uang kepada tuan rumah. Tak senang permintaannya ditolak, orang – orang ini menghabisi tuan rumah.
Peristiwa ini kembali mengingatkan kita, salah satu penyakit di masyarakat yang masih lestari adalah keberadaan preman. Preman merupakan sebutan bagi orang yang biasanya suka meminta uang kepada orang yang berdagang, orang yang hendak mendirikan bangunan atau orang yang ingin mengadakan hajatan dan lain – lain. Mereka menyebut uang yang dimintanya sebagai ‘uang keamanan’.
Sebutan ‘uang keamanan’ mengesankan sebuah ancaman. Artinya, jika uang itu tidak diberikan, maka mereka akan melakukan kekerasan yang membahayakan. Sudah banyak kejadian. Semisal warung makan yang menolak memberi uang kepada preman, akhirnya  warungnya dibakar.
Preman umumnya adalah pengangguran, yakni orang – orang yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Bisa juga mereka memang sengaja memilih menjadi preman, karena lebih mudah mendapatkan uang. Bukan sekedar sekelompok orang, bahkan ada orang – orang yang berprilaku layaknya preman, tergabung dalam organisasi kepemudaan.
Sering terlihat pemandangan di jalan tertentu semisal di tiang listrik, ada tulisan nama dari organisasi kepemudaan. Tulisan itu dikenal sebagai simbol bahwa wilayah tersebut adalah daerah kekuasaan si organisasi tersebut.
Hakikatnya, preman ini adalah peminta – minta atau pengemis, tapi berwajah seram, mengancam dengan kekerasaan, mereka ada bersamaan dengan peminta – minta non preman. Tentu keadaan ini meresahkan masyarakat. Masyarakat bertanya – tanya kenapa keberadaan preman mengganggu kenyamanan kita namun tetap ada?
Kemana pihak keamanan?, Kemana negara?, Kenapa seolah lemah dihadapan preman?, Kenapa negara tidak mampu melindungi masyarakat dari preman?
Bila diteliti, keberadaan preman tidak lepas dari carut marutnya kehidupan bernegara kita. Orang yang memilih menghasilkan uang dengan cara meminta kepada orang lain memakai kekerasan disebabkan dua faktor. Pertama, mental buruk dan tidak memiliki keterampilan bekerja. Ini berkaitan dengan dunia pendidikan. Artinya sistem pendidikan gagal mendidik generasi sehingga generasi tidak berilmu dan bermental pengemis.
Kedua, pekerjaan susah didapatkan. Ada juga orang yang memilih jadi preman karena memang pekerjaan susah didapatkan. Saat ini masyarakat terutama kalangan menengah ke bawah memang sedang merasakan kesulitan ekonomi. Hal ini diakibatkan kebijakan pemerintah yang tak berpihak kepada rakyat.
Semisal adanya program Makan Bergizi Gratis (MGB) yang lebih banyak efek negatifnya ketimbang dampak positif. Harga ayam, telur, dan kebutuhan lainnya naik karena peningkatan kebutuhan MBG. Anggaran pendidikan, kesehatan dan lain – lain dilakukan efisiensi demi membiayai program MBG.
Ada juga, semisal pembangunan jalan tol di daerah Bengkel, Perbaungan, Sumatera Utara. Hal itu berpengaruh pada pendapatan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) disana. Dagangan UMKN di Bengkel menjadi sepi sejak ada jalan tol. Sementara UMKM dikenal sebagai sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja. Namun kebijakan pemerintah justru kurang berpihak pada UMKM.
Desakan kebutuhan ekonomi sangat mungkin menjadikan para lelaki mengambil jalan cepat dan mudah yakni menjadi preman. Inilah hasil penerapan sistem kapitalis sekuler. Sekulerisme merupakan pemahaman bahwa hidup tidak perlu.
Sistem Islam Meniadakan Preman
Orang baik tentu malu meminta – minta. Prinsip dalam Islam, lebih baik tangan di atas daripada tangan di bawah. Rasulullah saw pernah mencium tangan seseorang yang telah bekerja keras untuk keluarganya. Inilah hal – hal yang akan dipahamkan dalam pendidikan berbasis akidah Islam dan kurikulum yang sepenuhnya Islam.
Sehingga sesulit apapun kondisi hidupnya, seorang muslim tidak akan menjadi peminta – minta, apalagi melakukan kekerasan dalam meminta minta sampai menghilangkan nyawa orang lain.
Sistem pendidikan Islam tidak berdiri sendiri. Ia membutuhkan sistem ekonomi Islam dan sistem politik Islam. Sebab pendidikan terbaik butuh dana serta pengaturan yang baik. Disitulah peran politik Islam, yang akan mengurusi rakyat dengan cara yang ditetapkan oleh Islam. Ekonomi Islam akan menjamin negara mendapatkan pemasukan sesuai Islam serta menyalurkan anggaran negara untuk pelayanan bagi rakyatnya termasuk pelayanan pendidikan.
Ditambah dengan sistem sanksi Islam yang tegas, akan mengadili orang – orang yang nekat berbuat jahat di tengah sistem yang baik. Maka Islam kaffah akan menjamin terbentuknya pribadi bertakwa, yang selalu melakukan perbuatan baik dan dicegah dari perbuatan buruk. (**)
*Penulis Adalah Pemerhati Masyarakat