Edukasi Pagi yang Menggetarkan Hati : SDN 2 Binakarya Menanam Harapan di Tengah Ancaman Kenakalan Remaja dan Narkoba

0
0

PRESISI

“Yang terlihat sepele bisa menjadi awal kehancuran. Zat berbahaya itu tidak hanya merusak pikiran, tetapi juga menggerogoti tubuh sedikit demi sedikit,”

Banyuresmi I Garut I JAWA BARAT   Pagi itu, embun masih setia menggantung di dedaunan halaman SDN 2 Binakarya, Kecamatan Banyuresmi, Jawa Barat.

Udara sejuk yang biasanya mengiringi tawa ringan anak-anak, berubah menjadi suasana yang lebih hening, sarat makna, dan menyentuh relung hati. Pada Rabu (29/4/2026) bukan sekadar awal kegiatan belajar, melainkan momentum penting untuk menyelamatkan masa depan generasi muda dari ancaman yang kian nyata: kenakalan remaja dan bahaya narkoba.

Babinsa Sertu Hedi Hambali dan Bhabinkamtibmas Bripka Rifki ZF

Sejak pukul 07.00 WIB hingga 09.00 WIB, lapangan sederhana sekolah itu menjadi saksi pertemuan antara kepolosan anak-anak dengan realitas keras kehidupan. Melalui kolaborasi antara pihak sekolah dan aparat kewilayahan, kegiatan sosialisasi digelar bukan hanya sebagai rutinitas edukasi, tetapi sebagai upaya nyata menanamkan benteng moral sejak dini—benteng yang kelak akan menjadi pelindung di tengah derasnya godaan zaman.

Hadir sebagai narasumber, Babinsa Desa Binakarya, Sertu Hedi Hambali, dan Bhabinkamtibmas, Bripka Rifki ZF, membawa lebih dari sekadar materi penyuluhan. Mereka membawa kegelisahan, pengalaman lapangan, dan harapan besar—yang disampaikan dengan bahasa sederhana agar dapat dipahami oleh hati-hati kecil yang masih bersih dari hiruk-pikuk dunia dewasa.

Dengan nada yang tenang namun penuh keprihatinan, Sertu Hedi mengingatkan bahwa bahaya tidak selalu datang dalam bentuk yang menakutkan. Ia bisa hadir dalam hal-hal yang tampak biasa—dalam pergaulan yang salah, dalam ajakan yang tampak menyenangkan, bahkan dalam sesuatu yang terlihat sepele namun menyimpan ancaman besar.

Kegiatan sosialisasi

“Yang terlihat sepele bisa menjadi awal kehancuran. Zat berbahaya itu tidak hanya merusak pikiran, tetapi juga menggerogoti tubuh sedikit demi sedikit,” tuturnya lirih, seolah tak ingin satu pun anak di lapangan itu kelak merasakan pahitnya akibat penyalahgunaan.

Sementara itu, Bripka Rifki menyampaikan pesan dengan ketegasan yang mengandung kepedulian mendalam. Ia menegaskan bahwa hukum akan selalu berdiri tegak, namun di balik itu tersimpan doa dan harapan agar tidak ada generasi muda yang harus berhadapan dengannya.

“Kami tidak ingin anak-anak di sini tumbuh dengan bayang-bayang pelanggaran. Kami ingin kalian tumbuh menjadi kebanggaan keluarga, agama, dan bangsa,” ucapnya, dengan suara yang menggetarkan, menanamkan kesadaran bahwa setiap langkah hari ini adalah penentu arah kehidupan esok.

Di antara deretan para siswa, kesunyian seolah berbicara. Mereka menyimak dengan penuh perhatian. Mata-mata kecil itu tak lagi sekadar memandang, tetapi mulai memahami—bahwa dunia di luar sana tidak selalu ramah, dan mereka harus dipersiapkan menjadi pribadi yang kuat, bijak, dan berakhlak.

Momentum pagi itu bukan sekadar kegiatan seremonial. Ia adalah peringatan halus sekaligus panggilan nurani bagi semua pihak—bahwa menjaga anak-anak bukan hanya tugas sekolah, tetapi tanggung jawab bersama: orang tua, masyarakat, dan negara.

Di tengah derasnya arus zaman yang kerap menyeret tanpa ampun, sinergi antara sekolah, aparat, dan masyarakat menjadi cahaya yang tak boleh padam. Dari lapangan sederhana itu, suara kepedulian menggema, menembus batas ruang dan waktu, mengingatkan bahwa masa depan bangsa sedang tumbuh di hadapan mata.

Sebab pada akhirnya, menyelamatkan satu anak hari ini bukan hanya tentang satu kehidupan—melainkan tentang menjaga harapan, merawat cita-cita, dan memastikan bahwa masa depan Indonesia tetap berdiri di atas generasi yang sehat, kuat, dan bermartabat. (*Deden JS/Lpn6)