OPINI | POLITIK
“Semua pembatasan tadi didasari oleh masalah keamanan, kata Israel. Namun keamanan macam apa yang mereka maksud sementara merekalah ternyata biang dari segala kerusuhan itu,”
Oleh : Fadhillah Khusnah S.Pd
MASA berganti masa, tujuh puluh tujuh tahun berlangsung penjajahan Israel terhadap Palestina. Imbasnya, Masjid Al-Aqsha, kiblat pertama umat Muslim turut dikuasai zionis.
Adalah sebuah dusta jika ada yang mengatakan Al-Aqsha aman-aman saja. Sebab Israel terus-menerus berulah, membatasi pergerakan kaum Muslim yang hendak beribadah didalamnya, terlebih dibulan suci Ramadhan. Hal demikian terjadi berulang-ulang selama puluhan tahun.
Dilansir dari SindoNews, di Ramadhan 2025 ini, Israel kembali menugaskan personel keamanan untuk menindak tegas para ‘pelanggar’, padahal lagi-lagi, mereka hanya ingin beribadah didalamnya saja. Apalagi bulan Ramadhan tahun ini bertepatan dengan momentum gencatan senjata Gaza, seharusnya tak ada aksi saling serang.
Namun Israel tetaplah Israel. Baru-baru ini saja, ketegangan kembali memuncak manakala zionis menyerbu aula Masjid Al-Qibli di kompleks Masjidil Aqsha, dengan menyita pengeras suara (CNBC Indonesia). Telah menjadi rahasia umum bahwa Israel hanya mengizinkan jama’ah berusia diatas lima puluh tahun dan dibawah dua belas tahun untuk masuk ke dalam masjid.
Sementara di saat yang sama, Masjid suci umat Muslim tersebut terus menghadapi ancaman serius penggalian yang terus berlanjut dan proyek-proyek Yudaisasi yang semakin cepat. Namun, umat Muslim sekitar tak mau menyerah, meski ditengah pembatasan, lebih dari delapan puluh ribu jama’ah padati Al-Aqsha di jumat kedua Ramadhan (VOI.ID).
Bulan Ramadhan seharusnya menjadi waktu untuk bergembira sebagaimana pada masa Rasulullah SAW. Namun saat ini kaum Muslim di Palestina tidak bisa merasakannya disebabkan mereka tidak bisa leluasa beribadah di Masjid Al-Aqsha. Tidak jarang aksi brutal mereka terima dari pihak zionis dalam keadaan ini.
Semua pembatasan tadi didasari oleh masalah keamanan, kata Israel. Namun keamanan macam apa yang mereka maksud sementara merekalah ternyata biang dari segala kerusuhan itu. Fakta diatas juga menunjukkan bahwa hari ini, wilayah Al-Quds atau Baitul Maqdis masih dalam penjajahan, sebab keamanan kaum muslimin berada ditangan orang-orang kafir.
Aksi yang dilakukan oleh zionis menyadarkan kita bahwa bagi mereka tidak rasa segan dan gentar mengusik kaum muslimin bahkan disaat Ramadhan seperti ini. Dalam beberapa pernyataan didepan publik, otoritas Israel sempat mengatakan hal-hal provokatif yang menyudutkan umat ini, khususnya di Gaza dan Palestina seluruhnya.
Mereka membuat seolah dibulan ini umat muslim lebih mungkin melakukan aksi terorisme dan buntutnya mereka harus sering berjaga-jaga. Padahal jelas siapa yang paling teroris. Terlebih lagi, jaminan untuk beribadah di situs suci tersebut sebenarnya telah diatur dalam undang-undang internasional.
Bahwa tidak ada kesepakatan internasional tentang kepemilikan Al-Quds, tidak pula bagi Israel.
UmatIslam Palestina tidak boleh gentar menghadapi kebiadaban zionis yang didukung Amerika Serikat. Dan sesungguhnya mereka telah menunjukkan semangat itu. Sebab mereka menyadari jika mereka tidak mempertahankan Al-Aqsha, maka siapa lagi yang akan melakukannya.
Lebih dari itu, Ramadhan semestinya digunakan untuk menguatkan azzam dalam upaya melenyapkan penjajahan. Umat Islam tidak boleh lagi berharap pada solusi Barat yang direpresentasikan oleh organisasi-organisasinya dan narasi-narasi sesat mereka tentang perdamaian. Entitas zionis adalah muhariban fi’lan (negara yang secara nyata memusuhi Islam) yang wajib dihadapi hanya dengan bahasa perang yang akan efektif dan solutif jika berada di bawah komando seorang khalifah.
Mereka tidak akan bisa lagi dilawan dengan bahasa perdamaian dan negosiasi. Penegakan kembali khilafah adalah qadliyah mashiriyah (problematika utama) yang wajib menjadi agenda utama umat Islam. Untuk itu, dibutuhkan dakwah yang diseru dan dipimpin oleh jama’ah dakwah ideologis untuk membangun kesadaran umat akan wajibnya menegakkan khilafah dan penerapan hukum Islam yang akan membawa umat ini kepada perjuangan dan jhad untuk membebaskan Palestina terkhususnya Masjid Al- Aqsha. Sebagaimana telah dilakukan oleh pendahulu kita. Wallahu’alam bishowwab. (**)
*Penulis Adalah Aktivis Dakwah
Disclaimer :
Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan Lapan6Online.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi Lapan6Online.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.