EKONOMI
“Kami ingin anggota DWP mengambil pelajaran dari agribisnis ini. Media tanam ini jauh lebih ekonomis, tidak membutuhkan lahan luas, dan bisa dilakukan langsung di halaman rumah, untuk mendukung ketahanan pangan yang dikampanyekan pemerintah,”
Sinjai | SULSEL | Lapan6Online : Budidaya sayur hidroponik kini menjadi primadona baru agribisnis di Kabupaten Sinjai. Selain efektif memanfaatkan lahan sempit di pekarangan rumah, komoditas ini terbukti memiliki pasar potensial seiring meningkatnya permintaan, untuk mendukung pasokan pangan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah tersebut.
Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Badan Pusat Statistik Sinjai, mengidentifikasi metode hidroponik sebagai solusi strategis untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga, sekaligus sumber pendapatan tambahan. Dalam kunjungannya ke kebun hidroponik di Kelurahan Biringere, Andi Hasmia menegaskan efisiensi biaya, serta kemudahan perawatan menjadi keunggulan utama model tanam ini.
“Kami ingin anggota DWP mengambil pelajaran dari agribisnis ini. Media tanam ini jauh lebih ekonomis, tidak membutuhkan lahan luas, dan bisa dilakukan langsung di halaman rumah, untuk mendukung ketahanan pangan yang dikampanyekan pemerintah,” ujar Hasmia.
Pengelola kebun hidroponik di Kecamatan Sinjai Utara, Lukman mengungkap bisnis yang ditekuni sejak 2017 ini, kebanjiran pesanan. Salah satu penyerap pasar terbesar sekarang adalah pengelola program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurutnya, sayuran hidroponik diminati karena kualitasnya yang lebih alami dan sehat.
• Tanpa Pestisida: Hanya menggunakan air sungai alami tanpa tambahan pupuk kimia atau obat-obatan.
• Masa Panen Cepat: Tanaman selada sudah dapat dipanen pada usia 25 hingga 35 hari.
• Nilai Jual: Setiap pohon dijual seharga Rp5.000, yang memberikan margin keuntungan stabil untuk menopang kebutuhan rumah tangga.
Kunjungan ini menegaskan sektor pertanian perkotaan bukan lagi sekadar hobi, melainkan sektor riil yang mampu menjaga stabilitas pasokan pangan di tingkat mikro. DWP BPS Sinjai berharap praktik ini dapat direplikasi masyarakat luas, guna menciptakan kemandirian pangan di tingkat kelurahan. (*Nafsul Muthmainnah/Lpn6)
















