PERISTIWA | HUKUM | SEHAT
“Bukannya sembuh, pasien justru bisa makin parah. Fasilitas dan pelayanan di sini bukan untuk menyembuhkan, tapi malah memperburuk,”
Ketapang | KALBAR | Lapan6Online : Puskesmas Sandai yang semestinya menjadi garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat di Kecamatan Sandai, Kabupaten Ketapang, kini menuai sorotan tajam dari warga. Kritik keras dilontarkan atas buruknya pelayanan hingga minimnya fasilitas yang dinilai membahayakan keselamatan pasien.
Sapuan (38), warga Sandai Kiri, menyampaikan kekecewaannya usai mendampingi kerabat yang dirawat di Puskesmas tersebut. Ia menuturkan bahwa ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) dalam keadaan kosong saat pasien membutuhkan pertolongan. Lebih miris lagi, menurutnya tidak ada tenaga medis yang berjaga di malam hari.
“IGD kosong saat pasien butuh bantuan. Tenaga medis tak terlihat. Pasien kritis pun seperti diabaikan,” ujar Sapuan saat dihubungi, Sabtu (21/06/2025).
Sapuan juga menggambarkan kondisi ruang rawat inap yang jauh dari kata layak. Ruangan yang kotor, berbau tak sedap, serta minimnya alat medis menjadi pemandangan sehari-hari. Bahkan, keterlambatan pemberian obat kerap terjadi. Keluarga pasien terpaksa mencari obat di luar karena stok di Puskesmas tidak tersedia.
“Bukannya sembuh, pasien justru bisa makin parah. Fasilitas dan pelayanan di sini bukan untuk menyembuhkan, tapi malah memperburuk,” sindirnya.
Tak hanya itu, ketersediaan ambulans pun menjadi persoalan serius. Unit yang seharusnya siaga untuk kondisi darurat diduga tidak tersedia atau dalam kondisi tidak layak jalan. Hal ini memperkuat dugaan adanya kelalaian manajerial dalam pengelolaan Puskesmas Sandai.
Sapuan mendesak Pemerintah Kabupaten Ketapang, khususnya Dinas Kesehatan, agar segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja dan infrastruktur Puskesmas Sandai. Ia juga menyinggung janji politik Bupati Ketapang, Alexander Wilyo, terkait komitmen peningkatan mutu layanan kesehatan di daerah.
“Kalau terus dibiarkan, ini bisa jadi bom waktu. Warga butuh tindakan nyata, bukan sekadar slogan,”tegasnya.
Dukungan terhadap desakan evaluasi juga datang dari Beni Hardian (48), warga Ketapang lainnya. Menurutnya, keluhan masyarakat soal pelayanan Puskesmas bukan hal baru.
“Banyak pasien merasa diperlakukan tidak manusiawi. Harusnya Puskesmas menjadi tempat yang memberi harapan, bukan tempat yang menambah derita,” ujar Beni.
Sesuai Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2019 tentang Puskesmas, setiap unit layanan kesehatan primer wajib menyelenggarakan upaya promotif dan preventif secara optimal. Namun di Puskesmas Sandai, implementasi regulasi tersebut dinilai jauh dari harapan masyarakat.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Puskesmas Sandai dan Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang belum memberikan tanggapan resmi.
*Yulizar | Lapan6online


















