OPINI | POLITIK | HUKUM
“Selama 5 tahun terakhir, hampir semua kritik dan aspirasi terhadap pemerintah diwujudkan lewat simbol tertentu, seperti Garuda biru saat aksi Indonesia darurat dan Garuda hitam saat aksi Indonesia gelap,”
Oleh : Rima
FENOMENA pengibaran bendera bergambar tengkorak khas bajak laut dari serial anime One Piece kian marak di Indonesia. Seruan tersebut cermin ekspresi kekecewaan rakyat terhadap ketidakadilan, dan bentuk perlawanan atas kondisi sosial dan politik saat ini.
Gerakan ini bukanlah bentuk makar melainkan simbol rakyat mencintai negeri ini, karena tidak rela negerinya terus didera penderitaan akibat ulah oligarki.
Cerita One Piece mencerminkan kondisi di Indonesia, yakni segelintir pejabat menikmati kekuasaan, sementara rakyat tertindas. Meski secara formal merdeka, rakyat belum merasakan kemerdekaan sejati dalam kehidupan mereka karena kebijakan yang condong ke kalangan elite.
Sebagaimana yang dikatakan perwakilan komunitas One Piece kolektor Indonesia (KOPKI) Surabaya Rio Nafta, pengibaran bendera dari serial anime tersebut hanyalah aksi simbolis bentuk kekecewaan masyarakat terhadap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah bukan ajakan pemberontakan (tempo, 3/8/2025).
Oleh karena itu, dilaman yang sama, Akademi sosiolog Universitas Negeri Jakarta, Ubedilah Badrun menyampaikan pengibaran bendera One Piece yang dilakukan sejumlah warga seharusnya tidak direspon berlebihan oleh pemerintah. Apalagi dimaknai sebagai upaya makar dan sebagainya.
Pengibaran bendera One Piece menurutnya, sebagai bentuk ekspresi politik dan sosial khususnya bagi generasi muda yang cenderung menggunakan simbol budaya populer untuk menyuarakan keresahan mereka. Selama 5 tahun terakhir, hampir semua kritik dan aspirasi terhadap pemerintah diwujudkan lewat simbol tertentu, seperti Garuda biru saat aksi Indonesia darurat dan Garuda hitam saat aksi Indonesia gelap.
Itulah yang terjadi di sistem kapitalis. Tentunya, akar masalah negeri ini sejatinya adalah penerapan sistem kapitalisme. Dengan fokus pada kebebasan Individu, sistem kapitalisme telah melahirkan kesenjangan sosial yang tajam antara si kaya dan si miskin. Pasalnya, keuntungan ekonomi mengalir ke tangan orang kaya dan debijakan dibuat demi kepentingan mereka, sedangkan rakyat terus tercekik oleh kezaliman struktural yang dibuat oleh mereka (orang kaya dan penguasa).
Itu semua mirip dengan sistem dunia dalam cerita One Piece yang penuh korupsi dan penindasan. Sistem kapitalisme dianggap masyarakat sebagai sistem yang mengentaskan kemiskinan karena sifatnya adil padahal sejatinya sistem yang memperburuk keadaan ekonomi masyarakat dan memperlebar kesenjangan sosial saja.
Para petinggi negara walaupun dari luar terlihat seperti sosok pemimpin tapi mereka tidak ubahnya hanya seonggok boneka yang dikendalikan oleh golongan super kaya. Mereka abai akan kepentingan rakyat kecil.
Umat harus disadarkan, problem mendasar yang dihadapi adalah penerapan sistem kapitalis buatan manusia, bukan dari Allah. Dan sistem ini terbukti gagal. Hanya dengan menerapkan sistem Islam secara kaffah, umat akan terbebas dari kemudharatan sistem kapitalisme.
Negara yang diatur oleh sistem Islam tidak akan membiarkan rakyatnya miskin, karena tugas negara mengatur urusan umat berdasarkan syariat bukan untung rugi.
Dalam hadits pun disebutkan, “Masing-masing dari kalian adalah pemimpin, dan masing-masing dari kalian akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang dipimpin” (HR. Al-Bukhâri, 893, Muslim, 1829)
Islam pun diturunkan bukan sekadar ajaran spiritual, tapi sistem hidup yang menjadikan umat Islam sebagai khairu ummah (umat terbaik) yang menegakkan keadilan dan menolak segala bentuk penindasan. Negara yang menerapkan aturan Islam (khilafah) berkewajiban menjamin keadilan memenuhi kebutuhan rakyat menjaga akidah maupun memberantas kemungkaran.
Kesadaran rakyat yang mulai muncul harus diarahkan kepada perjuangan hakiki. Umat harus disadarkan, penerapan sistem buatan Allah lah yang bisa menyelamatkan umat dan bumi dari kemudharatan. Mengubah sistem kapitalisme menuju penerapan sistem Islam di bawah naungan Khilafah. Bukan sekadar simbolik, tetapi perlawanan yang terarah dan terukur melalui dakwah dan perubahan sistem. (**)
*Penulis Adalah Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok


















