OPINI | POLITIK | HUKUM
“Seperti mengobati suatu penyakit, dokter akan mencari akar masalah dari penyakit tersebut supaya pengobatan bisa tepat dan bukan hanya mengurangi gejala dan sumber penyakit masih ada maka akan terus kambuh bukan?,”
Oleh : Syiria Sholikhah
KORUPSI dana haji yang baru-baru ini muncul di tengah panasnya demonstrasi kepada DPR membuat situasi semakin panas. Nyatanya, korupsi dana haji bukan yang pertama kali terjadi. Korupsi dana haji pun pernah terkuak pada tahun 2006 dan 2014, sejak era reformasi setidaknya tercatat dua eks-menteri yang menjadi tersangka yang di penjara karena ketidakjujuran dana haji [bbc.com/14.08.25].
Kasus kembali terkuak pada tahun 2025 ini, yakni setelah pemerintah Arab Saudi menambah kuota haji Indonesia karena melihat waktu tunggu yang begitu lama. Kuota haji seharusnya tidak dibagikan rata antara jamaah haji regular dan khusus, melainkan 92 persen seharusnya diberikan untuk jamaah haji regular dan sisanya untuk jamaah haji khusus [tempo.co/26.08.25].
Fakta lain pada tahun 2022, jamaah haji yang keberangkatannya tertunda karena covid, pun harus menerima fakta kenaikan pembayaran pelunasan biaya haji supaya bisa berangkat pada jadwal yang ditentukan atau batal. Penderitaan macam apa ini? Bahkan umat yang merasa mampu dan terpanggil untuk menjalankan rukum Islam ke-lima harus menanggung beban yang begitu berat yang disebabkan oleh pemerintah yang seolah tak becus mengurus rakyatnya.
Tidakkah terpikirkan kenapa korupsi selalu terjadi dan bahkan terulang pada kasus yang sama? Padahal kepengurusan sudah dilakukan penggantian, bisakah kita berpikir bahwa penggantian personil tidak bisa menjadi solusi akan pemberantasan korupsi? Bahkan pada aspek peribadahan sekalipun tidak adanya rasa takut akan Tuhan, atau memang Tuhan mereka adalah money?
Kita buka satu per satu. Pertama, sanksi yang diberikan sudah sangat terang benderang tidak bisa menjadi solusi. Sanksi seharusnya memberikan efek jera kepada pelaku dan menjadi pelajaran dan efek takut kepada orang lain termasuk yang mendapatkan amanah yang sama. Terbukti bahwa penjara tidak bisa menjadi solusi akan masalah korupsi.
Kedua, sekulerisme atau pemisahan agama dari kehidupan telah melahirkan manusia yang tidak takut berbuat dosa dan dzalim. Mereka menganggap Tuhan hanya ada di tempat ibadah dan kehidupan mereka di luar itu tidak ada hubungannya dengan syariat Tuhan dan tidak perlu menggunakan aturan Tuhan, sehingga lahirlah para penjahat yang tidak memiliki rasa empati kepada manusia yang lain bahkan dengan kekuasaan yang memberikannya amanah kepada manusia lain untuk menjalankan ibadahnya.
Ketiga, asas kebebasan dan berlindung dibalik kata HAM membuat sistem kapitalisme tidak mampu memberikan sanksi yang bisa memberikan efek jera dan memberikan rasa takut untuk melakukan kejahatan tersebut. Alasan penjara dan mendapat makanan serta fasilitas lain membuat manusia tidak perlu berpikir untuk melakukan kejahatan seperti korupsi. Nyatanya, HAM banyak melanggar HAM orang lain. Apakah relevan digunakan kebebasan semacam itu? Kejahatan demi kejahatan semakin bebas dan terulang kembali, pernahkan kapitalisme memberikan solusi yang komprehensif? Jawabannya “TIDAK”
Solusinya Begini
Penyelesaikan suatu masalah harus dilihat dari akar masalahnya, sehingga bisa memberikan solusi yang tuntas dan komprehensif. Seperti mengobati suatu penyakit, dokter akan mencari akar masalah dari penyakit tersebut supaya pengobatan bisa tepat dan bukan hanya mengurangi gejala dan sumber penyakit masih ada maka akan terus kambuh bukan?
Permisalan yang lain, akar serabut cenderung merusak tanah karena sifatnya yang rakus air dan makanan sehingga membuat tanah menjadi kering dan tandus. Lantas membuatnya menjadi tanah yang subur kembali apakah cukup dengan menebang merampingkan ranting atau menebang pohonnya saja? Tentu harus mencabut pohon sampai akar dan mengganti dengan pohon dengan akar yang tidak serabut, sehingga bisa menyimpan air dan memberikan kesuburan pada tanah.
Setelah kita merenung, kita pahami bahwa permasalahan korupsi ini terjadi secara sistematis bukan? Cukupkah hanya dengan mengganti personilnya saja? Anggap saja personalia itu seperti ranting pohon atau gejala yang muncul dari suatu penyakit. Tidak akan menyelesaikan masalah korupsi bukan? Karena akar masalahnya pada sistem yang memberikan wadah untuk korupsi.
Personalia memang penting, namun harus dalam wadah yang tepat. Kertas seputih apapun jika dicelupkan ke dalam wadah bertinta hitam tentu akan menjadi hitam pula, ia akan tetap putih hanya jika dicelupkan ke dalam wadah berisi air jernih.
Islam memberikan wadah itu yang akan menjaga bersihnya orang-orang yang jujur dan amanah. Sebelum merekrut Islam akan memastikan personalia yang memang memiliki keahlian dan kemampuan dibidang tersebut dan tentunya memiliki akhlak Islam sudah dibentuk sejak pendidikan usia dini. Pendidikan akidah hingga mewujudkan seorang manusia yang takut berbuat dosa dan maksiat, manusia yang memiliki “idrak sillah billah” yaitu menyadari keterikatan hubungannya dengan Allah, mereka selalu merasa diawasi oleh Allah dan takut melanggar syariat Allah. Tidak seperti manusia sekulerisme, sampai sini sangat jelas perbedaannya.
Lalu jika ada yang melakukan pelanggaran syariat? Tentu hukuman akan diberikan sesuai dengan syariat Islam, tidak terbatasi standar tidak jelas yang diciptakan manusia. Tidak ada belas kasihan kepada penerapan syariat Allah. Hukuman di dalam Islam, bukan hanya menjadi sanksi semata, selain memberikan efek jera dan memberikan pelajaran kepada yang lain, juga sebagai penebusan dosa yang telah ia lakukan atas mendurhakai Allah.
Terakhir, disclaimer, perlu diketahui bahwa dengan sistem ekonomi Islam akan memberikan kesejahteraan bagi semua rakyat tanpa kecuali. Tentu saja dana dan biaya haji tidak akan semahal sekarang yang memicu potensi gelap mata yang melihat dana tersebut dengan diputar dan tercampur riba (na’udzubillah).
Sistem keuangan negara dikelola dalam Baitul Mal, dengan SDA yang melimpah semua keuntungan masuk ke dalam Baitul Mal, pengelolaan diutamakan untuk kebutuhan hajat publik termasuk salah satunya adalah transportasi. Umat tidak lagi menjadikan keuangan menjadi satu-satunya alasan menunda ibadah, siapa yang mampu secara fisik mereka bisa berangkat tanpa menunggu puluhan tahun lamanya.
Sudahkan rindu akan kehadirannya kembali? Rindu akan kesejahteraan yang berpihak kepada rakyat tanpa kecuali, yaitu sistem kepemimpinan Islam yang telah memimpin dunia tidak kurang dari 13 abad dan tidak kurang dari 1/3 dunia mampu dirangkulnya. Sistem yang menciptakan kerukunan dan kesejahteraan seluruh umat beragama. (**)
*Penulis Adalah Mahasiswi Universitas Indonesia


















