Kisah Pilu Pak Musa di Pamboang : Puluhan Tahun Menanti Kedatangan Anak di Atas Bangku Bambu

0
5
Pak Musa (67), Warga Lingkungan Tadzuang Teppo, Kelurahan Lalampanua, Kecamatan Pamboang, Kabupaten Majene
EKONOMI
“Raut wajah sedih dan kerinduan akan kasih sayang keluarga sangat terpancar jelas di wajah beliau. Beliau hanya ingin melihat anak-anaknya kembali sebelum menutup mata,”
Pamboang | Majene | SULBAR | Lapan6Online : Di sebuah sudut Lingkungan Tadzuang Teppo, Kelurahan Lalampanua, Kecamatan Pamboang, Kabupaten Majene, waktu seolah berhenti bagi Pak Musa. Di usianya yang kini menginjak 67 tahun, pria lansia asal Takalar ini menghabiskan hari-harinya dengan tatapan kosong, duduk di atas bangku bambu sederhana sambil menanti sesuatu yang tak kunjung datang: kehadiran anak-anaknya.
Kondisi Pak Musa saat ini sangat memprihatinkan. Tanpa pekerjaan dan fisik yang tak lagi prima, ia hanya bisa berharap pada uluran tangan para dermawan (“Hamba Allah”) untuk menyambung hidup sehari-hari apatah lagi bansos pkhnya tiba tiba terputus. Namun, di balik kesulitan ekonomi tersebut, ada luka batin yang jauh lebih dalam yang terpancar jelas dari raut wajahnya yang layu.
Rindu yang Tak Terbalas Selama Puluhan Tahun
Pak Musa bukanlah warga asli Majene. Dahulu, ia merantau dari Takalar untuk bekerja sebagai pengaspal jalan di wilayah Pamboang. Di tanah mandar ini, ia kemudian menemukan tambatan hati, menikahi seorang wanita setempat, dan membangun keluarga.
Namun, kebahagiaan itu kini tinggal kenangan. Menurut pengakuan Pak Musa, sejak puluhan tahun lalu—tepatnya setelah ia menikahi wanita Pamboang tersebut—anak-anaknya seolah memutus tali silaturahmi. Hingga detik ini, tak satu pun dari darah dagingnya yang datang berkunjung atau sekadar menanyakan kabarnya.
“Raut wajah sedih dan kerinduan akan kasih sayang keluarga sangat terpancar jelas di wajah beliau. Beliau hanya ingin melihat anak-anaknya kembali sebelum menutup mata,” ujar salah satu warga yang prihatin melihat kondisi Pak Musa, pada Senin (20/4/2026).
Menanti Uluran Tangan dan Keajaiban
Saat ini, Pak Musa hanya bisa berserah diri. Duduk diam di bangku bambu menjadi rutinitas wajibnya setiap hari, berharap ada keajaiban yang membawa anak-anaknya melintasi jalanan Pamboang menuju rumahnya.
Kisah Pak Musa menjadi pengingat pilu tentang fenomena lansia yang terlupakan di masa tua. Selain membutuhkan bantuan materi berupa sembako dan layanan kesehatan, Pak Musa sangat membutuhkan dukungan psikologis dan mediasi agar bisa terhubung kembali dengan keluarganya di Takalar maupun yang berada di perantauan.
Bagi masyarakat atau pihak keluarga yang mengenali sosok Pak Musa, diharapkan dapat membuka hati untuk kembali menjalin silaturahmi dan memberikan perhatian yang sangat dibutuhkannya di masa senja ini. (*HGDP/Lpn6)