Acara Adat Tradisi Budaya Pellattiqiang Bentuk Upaya Mengangkat Pamor Kerajaan Pamboang

0
372

BUDAYA

“Pelantikan Pemangku adat acara perkawinan acara kunjungan keluarga atau sebagai penyemangat disaat ingin pergi berperang dimasanya namun dimensi modernisasi musik kekinian kepunahan budaya, hilangnya identitas daerah, tergerusnya warisan leluhur,”

Majene | SULBAR | Lapan6Online : Pada Sabtu 11 Oktober 2025, Bertempat Di Kediaman Cucu Aco pocer Daenna Maniara Perangkat Adat Pe,Indoang Manyamba, Arayang Balanipa Towaine/Mosso, Dan Cucu Maradia Pamboang Hadir Memberikan Doa Restu Serta Support Kepada Sanak Family Keluarga Adat Pitu Ulumna Salu Pitu babana Binanga karua tiparittiqna uhaii.

Perangkat Pe,indoang adat manyamba yang membuka acara tersebut mengatakan Tradisi Me,manna, adalah sebuah adat budaya dahulu kala yang hingga kini terus dilestarikan secara turun temurun oleh keturunan To, Manurung talolo dilangi Kapala birre,Allo.

Menurut sumber memanna sendiri ini dilakukan pada saat acara-acara khusus seperti pelantikan Pemangku adat acara perkawinan acara kunjungan keluarga atau sebagai penyemangat disaat ingin pergi berperang dimasanya namun dimensi modernisasi musik kekinian kepunahan budaya, hilangnya identitas daerah, tergerusnya warisan leluhur, atau dominasi budaya global.

Salasatu kerabat atau cucu maradia Pamboang Aco Saparuddin, Nurdin mengatakan kepada Tim Media Lapan6Online kami sebagai tuan rumah sangat mengapresiasi dengan adanya acara yang mungkin bagi generasi kurang mengerti atau kurang paham beberapa rangkaian acara malam seni budaya tradisi yang dulu dilakukan para moyang dan leluhur kita raja pamboang di setiap acara acara penting yang sacral.

Ia sangat mengapresiasi terhadap kedatangan keluarga hadat Bulo bulo keluarga hadat pe,Indoang Adat Manyamba Arayang towaine Balanipa Mosso, terkhusus para yang terlibat dalam kegiatan malam Pellattiqiang ponakan kami Irsyad mahmudin cucu salasatu kakek kami almarhum Aco Pocer Daenna Maniara Kapala paropo matua.

Arayang Towaine Mandar Balanipa dan Mosso yang mewakili empat Banua hadat besar Bau Mujibah S.Sos. Kami berharap kegiatan adat istiadat serta prinsip Sipakatau Sipakalabbi terus di pupuk dan dikembangkan khususnya Balanipa dengan gelar sebagai bapak di persekutuan Pitu babana Binanga kerajaan Sendana sebagai ibu dan kerajaan kerajaan lainnya patut dan sangat layak di kembangkan serta dijaga kelestariannya kata pepatah “Adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah” yang berarti aturan harus berdasarkan adat dan agama, “hidup dikandung adat, mati dikandung tanah” yang menunjukkan pentingnya mematuhi adat selama hidup,

AMAN (aliansi masyarakat adat Nusantara) DAN GPASRI(gerakan pemerhati adat istiadat budaya tradisi sejarah Republik Indonesia) Kaloborasi LP3KRI Andil Dalam Pelestarian adat budaya tradisi taroala,Keke,tari pattu,du, tomuane,rebana khas mandar lagu sayang sayang oleh gorcar(gondrong carepa) Sanggar teater Ampat (ammana Pattola wali) serta sanggar seni Keke M.yasin kabupaten Majene membuka peluang kerajaan Pamboang Kabupaten Majene mengembalikan identitas kemandaran sebagai salasatu pilar kerajaan babana Binanga dimasa pemerintahan Lokal di jamannya.

Sepenggal kisah tentang berdirinya kerajaan Pamboang menurut artikel Kerajaan Pamboang didirikan sekitar tahun 1540-an ketika tiga komunitas masyarakat Mandar (Pakbicara Adolang, Pakbicara Bonde di B Buul, dan Pakbicara Lalampanua) bersatu membentuk sebuah kerajaan monarki.

Sejarah ini juga memiliki versi cerita rakyat yang mengisahkan bagaimana wilayah tersebut dinamai Pamboang setelah sebuah peristiwa terkait pengungsi yang datang, meskipun ada berbagai pendapat mengenai asal-usul nama ini.

Pembentukan berdasarkan integrasi komunitas: Kerajaan Pamboang terbentuk dari tiga komunitas besar di suku Mandar, yaitu Pakbicara Adlang, Pakbicara Bonde di B Buul, dan Pakbicara Lalampanua. Ketiga komunitas ini berintegrasi sekitar tahun 1540-an untuk membentuk sebuah kerajaan.

Versi cerita rakyat: Menurut cerita rakyat, wilayah ini awalnya bernama Palayarang Talu. Penamaan ulang menjadi Pamboang berasal dari kata “tambo” yang sering diucapkan oleh masyarakat ketika menghadapi kedatangan pengungsi dari Kerajaan Pasokorang.

Tiga pemuda dari Kampung Benua ingin memperluas wilayah perladangan dan permukiman, serta membangun pelabuhan. Mereka berhasil membangun wilayah tersebut dan menggabungkannya menjadi satu kesatuan bernama Palayarang Talu.

Suatu hari, sekitar 7000 pengungsi dari Kerajaan Pasokorang mengungsi ke wilayah mereka.

Kedatangan pengungsi ini menjadi awal mula pengucapan kata “tambo” yang kemudian berubah menjadi Tamboang, lalu Pamboang, seperti yang digunakan hingga kini. (*HGDP)