EDUKASI
“Harapan kami ke depan, pemerintah bisa melengkapi bangunan dan fasilitas kami. Tanpa dukungan infrastruktur, sulit bagi siswa dan guru kami untuk berdaya saing dengan sekolah-sekolah lain yang fasilitasnya jauh lebih lengkap,”
Pamboang | Majene | SULBAR | Lapan6Online : Kondisi infrastruktur pendidikan di SDN No. 02 Babbanulo, Kecamatan Pamboang, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat, kian memprihatinkan.
Keterbatasan ruang fungsional memaksa pihak sekolah menyatukan berbagai unit penting dalam satu ruangan, yang kini berdampak pada daya saing sekolah dalam ajang perlombaan tingkat kecamatan maupun kabupaten.
Hingga saat ini, SDN 02 Babbanulo belum memiliki gedung permanen yang terpisah untuk Ruang Kepala Sekolah, Ruang Guru, Perpustakaan, hingga Ruang Unit Kesehatan Sekolah (UKS). Seluruh aktivitas administrasi, koordinasi guru, layanan kesehatan siswa, hingga literasi perpustakaan terpaksa menumpuk di satu ruangan yang sama.
Kepala Sekolah SDN No. 02 Babbanulo, Hj. Ramlia, S.Pd., SD., mengungkapkan bahwa kondisi ini menjadi kendala utama saat sekolah harus mengikuti lomba atau penilaian yang diadakan oleh UPTD Pendidikan Kecamatan Pamboang dan Dinas Pendidikan Kabupaten Majene.
“Kami sangat mengeluhkan keterbatasan ini. Ruang guru, perpustakaan, UKS, dan kantor kepala sekolah semuanya bergabung. Hal ini menjadi ganjalan besar dalam penilaian lomba, karena banyak kriteria penunjang yang tidak mampu kami penuhi, salah satunya ketersediaan fasilitas yang representatif dan lingkungan fisik seperti pepohonan yang rindang,” ujar Hj. Ramlia saat dikonfirmasi, pada Sabtu (25/4/2026).
Lebih lanjut, Hj. Ramlia menjelaskan bahwa dalam berbagai kompetisi, sekolahnya sulit untuk mencapai skor maksimal karena acuan penilaian dari UPTD Pendidikan sangat bergantung pada kelengkapan fasilitas penunjang.
“Saat ini, kami hanya mampu mengikuti kegiatan untuk sekadar memenuhi partisipasi. Untuk mencapai target juara atau capaian tinggi rasanya mustahil karena kriteria persyaratan nilai banyak yang tidak ada di sekolah kami. Kami hanya bisa memastikan aspek kebersihan saja yang terjaga,” tambahnya.
Pihak sekolah berharap adanya perhatian khusus dari Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pendidikan maupun Pemerintah Daerah untuk memberikan kebijakan afirmatif atau bantuan pembangunan fasilitas umum sekolah.
“Harapan kami ke depan, pemerintah bisa melengkapi bangunan dan fasilitas kami. Tanpa dukungan infrastruktur, sulit bagi siswa dan guru kami untuk berdaya saing dengan sekolah-sekolah lain yang fasilitasnya jauh lebih lengkap,” tutup Hj. Ramlia.
Kondisi ini menjadi potret nyata tantangan pendidikan di wilayah Sulawesi Barat, di mana semangat belajar siswa dan dedikasi guru harus berbenturan dengan keterbatasan sarana dan prasarana yang belum memadai. (*HGDP/Lpn6)










