OPINI | POLITIK | HUKUM
“Seharusnya bendera One Piece tidak dijadikan simbol perjuangan kebebasan, terutama di kalangan umat Islam. Meskipun makna kebebasan dalam cerita tersebut dapat memotivasi, namun nilai-nilai yang terkandung dalam simbol itu tidak selaras dengan prinsip-prinsip Islam yang mengajarkan umatnya untuk selalu menjunjung tinggi etika, tanggung jawab, dan keadilan,”
Oleh : Zahra Anjani Musa
BEBERAPA minggu terakhir, bendera One Piece menjadi simbol dalam berbagai demonstrasi yang terjadi di beberapa negara. Penggunaan bendera ini muncul sebagai bentuk dukungan terhadap aspirasi kebebasan dan keadilan di kalangan masyarakat yang merasa terpinggirkan. Masyarakat menggunakan bendera yang dikenal dari anime dan manga ini sebagai alat protes, menggambarkan harapan akan perubahan dan kebebasan dari penindasan.
Dalam konteks cerita One Piece, bendera ini melambangkan kebebasan dan petualangan, dipersembahkan oleh karakter utama, Monkey D. Luffy, yang berusaha mencapai impian untuk menjadi Raja Bajak Laut. Bendera tersebut, yang menampilkan tengkorak dengan dua tulang silang di belakangnya, mengandung makna tentang persahabatan, keberanian, dan keberanian dalam menghadapi tantangan. Melalui perjalanan karakter-karakternya, One Piece menekankan pentingnya mengejar cita-cita dan kebebasan individu.
Bendera One Piece dijadikan simbol kebebasan karena dalam cerita tersebut melambangkan perjuangan menghadapi batasan dan melawan penindasan. Karakter-karakter dalam One Piece berjuang melawan berbagai kekuatan otoriter yang berusaha menghalangi mimpi dan kebebasan mereka. Kisah ini menginspirasi banyak orang untuk mencari kebebasan dari belenggu yang mengikat mereka dalam kehidupan nyata, menciptakan rasa solidaritas di antara mereka yang terlibat dalam perjuangan tersebut.
Namun, dalam Islam, makna kebebasan harus ditafsirkan dalam kerangka ajaran dan nilai-nilai yang ada dalam syariat. Kebebasan dalam Islam bukanlah kebebasan tanpa batas, tetapi lebih kepada kebebasan yang bertanggung jawab.
Dalil yang menunjukkan pentingnya kebebasan yang sesuai dengan ajaran Islam dapat ditemukan dalam firman Allah, “Dan janganlah kamu melanggar batas-batas Allah; barang siapa melanggar batas-batas Allah, maka ia telah berbuat zalim kepada dirinya sendiri,” (TQS. al-Baqarah: 229).
Contoh nyata lainnya yakni bagaimana kebebasan beragama diatur dalam Al-Qur’an, menjamin hak setiap individu untuk menjalani keyakinan mereka tanpa paksaan.
Dalam konteks ini, seharusnya bendera One Piece tidak dijadikan simbol perjuangan kebebasan, terutama di kalangan umat Islam. Meskipun makna kebebasan dalam cerita tersebut dapat memotivasi, namun nilai-nilai yang terkandung dalam simbol itu tidak selaras dengan prinsip-prinsip Islam yang mengajarkan umatnya untuk selalu menjunjung tinggi etika, tanggung jawab, dan keadilan.
Sebenarnya, pada hakikatnya, dalam Islam juga diharuskan mengoreksi pemimpin, karena itu semua sebagai bentuk cinta rakyat terhadap pemimpinnya. Para pemimpin Islam pun mendorong umatnya untuk mengawasi kepemimpinannya.
Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq ra. menyatakan, “Jika saya berbuat baik, dukunglah saya dan jika saya salah, perbaikilah saya. Taatlah kepada saya selama saya menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya dalam kepemimpinan ini.” Demikian pula, Umar bin Khaththab ra. mengatakan, “Apabila ada di antara kalian yang melihat saya menyimpang, maka hendaklah ia meluruskan saya.”
Dengan demikian, apabila prinsip-prinsip Islam diterapkan, pemerintahan akan berjalan dengan baik, keadilan akan terwujud, kesejahteraan akan merata, dan penindasan akan lenyap. Oleh karena itu, sangat penting untuk meningkatkan kesadaran politik umat sehingga mereka mampu menyadari ketidakadilan yang ada dan mengarahkan diri mereka dalam perjuangan yang benar, yaitu perjuangan yang mengikuti teladan Rasulullah SAW dalam mengubah masyarakat jahiliah menjadi masyarakat Islam, bukan teladan yang ada dalam cerita One Piece.
Oleh karena itu, bendera One Piece dijadikan sebagai lambang perjuangan menghadapi batasan dan melawan penindasan tidak sesuai maknanya dengan Islam. (**)
*Penulis Adalah Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok


















