Emas Jadi Alarm, Sistem Moneter Syariah Solusi Krisis Kepercayaan

0
193
Ilustrasi

OPINI | EKONOMI | POLITIK

“Dalam kondisi ini, uang kehilangan daya beli, serta rakyat menjadi korban. Kenaikan harga emas mencerminkan pelaku pasar global sedang berupaya menyelamatkan nilai kekayaan mereka ke dalam bentuk “nilai riil” yang lebih stabil,”

Oleh : Amrullah Andi Faisal

Latar Kejadian
Pada tanggal 8 Oktober 2025, harga emas dunia menembus angka US$4.000 per ons troy, sebuah rekor tertinggi yang menandai pergeseran struktural dalam kepercayaan terhadap sistem moneter dan ekonomi global.[1] Hingga opini ini ditulis, 22 Oktober 2025 pukul 21.03 WITA, harga emas bahkan mencapai US$4.059 per ons.[2] Satu ons troy setara dengan 31,1035 gram.

Di Indonesia, harga emas melonjak menjadi sekitar Rp66,56 juta per ons, naik drastis dari Rp60,60 juta pada bulan sebelumnya, serta sekitar 54% lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.[3][4] Lonjakan ini bukan sekadar fenomena pasar. Ia adalah indikator serius bahwa kepercayaan terhadap uang fiat dan sistem moneter global semakin melemah.

Amrullah Andi Faisal/Foto : Ist.

Kritik Terhadap Sistem Moneter Fiat
Masyarakat dunia saat ini hidup di bawah sistem uang fiat, yaitu mata uang yang tidak berbasis aset riil seperti emas atau perak, melainkan hanya bergantung pada kepercayaan terhadap pemerintah dan bank sentral.

Sistem ini memiliki berbagai kelemahan fundamental:

  1. Uang Fiat Mudah Terdepresiasi
    Uang fiat tidak memiliki nilai intrinsik. Nilainya sangat dipengaruhi oleh kebijakan moneter dan fiskal, seperti inflasi, defisit anggaran dan pencetakan uang berlebihan (quantitative easing). Dalam kondisi ini, uang kehilangan daya beli, serta rakyat menjadi korban. Kenaikan harga emas mencerminkan pelaku pasar global sedang berupaya menyelamatkan nilai kekayaan mereka ke dalam bentuk “nilai riil” yang lebih stabil.
  2. Inflasi dan Volatilitas sebagai Gejala Runtuhnya Kepercayaan
    Ketika harga emas melesat tajam, ini menandakan ekspektasi pasar terhadap debasement mata uang, yaitu penurunan nilai uang secara sistemik. Ini bukan sekadar fluktuasi biasa, tapi gejala ketidakstabilan struktural dalam sistem moneter fiat. Ketika bank sentral kehilangan kendali, masyarakat kehilangan pegangan.
  3. Kesenjangan antara Sistem Moneter dan Kehidupan Umat
    Dalam ekonomi Islam, uang bukan hanya alat tukar, tapi juga sarana mewujudkan keadilan dan distribusi kekayaan. Sistem fiat saat ini cenderung melayani elit finansial dan spekulan, sementara rakyat menanggung beban inflasi, pajak tinggi, dan krisis ekonomi berulang.

Islam mengajarkan agar sistem ekonomi tidak mengandung riba, penimbunan (ihtikar) dan ketidakpastian (gharar). Sayangnya, semua itu justru melekat pada sistem moneter kapitalistik saat ini.

“Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS Al-Baqarah: 275)
“Jangan kalian menjual emas dengan emas kecuali seimbang dan langsung…” (HR Muslim)

Solusi Islam Terhadap Krisis Moneter
Islam memberikan nilai moral, juga solusi sistemik untuk permasalahan ekonomi. Dalam sistem Islam, Khilafah memegang peranan penting dalam menjamin keadilan moneter, kestabilan nilai, dan kesejahteraan umat.

Berikut prinsip-prinsip solusinya:

  1. Mengembalikan Standar Moneter kepada Aset Riil
    Uang dalam Islam harus memiliki nilai intrinsik. Sejak masa Rasulullah ﷺ, umat Islam menggunakan emas dan perak sebagai mata uang sah. Ini memberikan stabilitas nilai dan menghindari manipulasi kebijakan moneter.
    “Timbangan (standar) adalah timbangan penduduk Makkah, dan takaran adalah takaran penduduk Madinah.” (HR Abu Dawud)
    Hadis ini mengisyaratkan standarisasi mata uang dan sistem perdagangan yang adil dan berbasis realitas fisik.
    Dengan standar emas dan perak, maka sistem moneter tidak bisa dimanipulasi melalui pencetakan uang berlebih. Masyarakat terlindungi dari inflasi buatan.
  2. Negara sebagai Penjamin Keadilan Nilai dan Distribusi Kekayaan
    Dalam Islam, Daulah bukan hanya pengatur pasar, tetapi pelindung nilai tukar dan penegak keadilan distribusi. Negara wajib memastikan:
    Pencetakan uang sesuai nilai fisiknya,
    Distribusi merata,
    Transaksi bebas riba dan spekulasi.
    Sistem moneter Islam tidak mengenal bank sentral dalam bentuk kapitalistik. Fungsi moneter dijalankan dalam koridor syariah, bukan pasar modal dan bunga.
  3. Memperkuat Tanggung Jawab Sosial
    Dalam sistem Islam, uang bukan alat eksploitasi, melainkan sarana pemerataan. Dinar dan dirham beredar bersama instrumen distribusi seperti:
    Zakat,
    Wakaf produktif,
    Kepemilikan umum atas sumber daya penting.
    Dengan ini, nilai uang diukur bukan hanya dari kurs terhadap dolar atau inflasi, tetapi dari kemampuannya memenuhi kebutuhan dasar umat secara merata dan stabil.
  4. Transisi Bertahap dari Sistem Fiat Menuju Sistem Berbasis Aset Riil
    Perubahan ke sistem moneter Islam tidak bisa instan. Namun, langkah-langkah strategis bisa dimulai, antara lain:
    Regulasi penggunaan dinar-dirham dalam transaksi pilihan,
    Pendirian Baitul Mal dan lembaga penyimpan emas yang amanah,
    Edukasi masyarakat terhadap konsep uang riil dan ekonomi syariah,
    Kampanye politik menuju penerapan syariah secara kaffah di bawah naungan institusi Islam.

Penutup
Lonjakan harga emas bukan hanya alarm ekonomi, tetapi sinyal kehancuran sistem moneter fiat yang dibangun atas ilusi kepercayaan, bukan nilai riil. Dalam perspektif Islam, kedaulatan ekonomi tidak bisa dicapai tanpa kedaulatan ideologi.

Solusi tidak cukup hanya dengan intervensi pasar atau kebijakan moneter jangka pendek. Umat membutuhkan sistem moneter Islam yang kokoh, adil dan transparan. Berdasarkan aset riil dan syariah yang kaffah.

Jika sistem uang hanya bertumpu pada kepercayaan terhadap bank sentral, bukan pada nilai hakiki seperti emas dan perak, maka itu ibarat membangun kastil di atas pasir waktu. Tampak megah tapi mudah runtuh.

Saatnya umat kembali pada fondasi ekonomi Islam. Dinar dan dirham. Keadilan dan kepemilikan. Syariah dan tanggung jawab bersama.

Catatan Kaki:
“The gold price has broken US$4,000/oz – what does it mean for the market?”, CRU Group, 21 Oktober 2025.
https://id.tradingview.com/symbols/XAUUSD/ 22 Oktober 2025
“Gold Price in Indonesian Rupiah” (Sep 2025), YCharts.
https://lacakharga.com/emas 22 Oktober 2025
“Gold prices continue to break records. How much higher can they climb?”, Investopedia, 4 Oktober 2025. (**)

*Penulis Adalah Kolumnis Publik di Sinjai)