Gagalnya Birrul Walidain, Potret Keluarga Rapuh

0
17
Elviana/Foto : Ist.

OPINI | POLITIK | EKONOMI

“Hal yang tidak kita inginkan sering kali terjadi pada keluarga yang kita lihat. Anak tidak menghargai orang tua, melawan, berkata kasar, mengancam bahkan sampai nekat menghabisi nyawa orang tua sendiri,”

Oleh : Elviana

KELUARGA adalah tempat kita berkumpul bersama antara orang tua dan anak-anak. Ikatan kasih sayang dan cinta terhadap kedua orang tua, saudara dan sesama dengan akidah yang kuat.

Kedua orang tua bertanggungjawab mengajarkan anak-anaknya apa yang dituntut dari mereka setelah mereka mencapai baligh, anak harus diajari apa yang menguatkan akidahnya.

Kita semua tidak ingin anak jauh dari Allah, jauh dari yang namanya taat. Dengan berjalannya waktu dan kecanggihan teknologi semakin banyak anak-anak jauh dari keluarga dan orang tua karena asik dengan dunianya sendiri yaitu gadget.

Hal yang tidak kita inginkan sering kali terjadi pada keluarga yang kita lihat. Anak tidak menghargai orang tua, melawan, berkata kasar, mengancam bahkan sampai nekat menghabisi nyawa orang tua sendiri. Orang tua yang menjadi sasaran anak ketika apa yang diinginkan tak terpenuhi.

Banyaknya kasus-kasus yang kita saksikan dilayar media sosial dan dikehidupan yang nyata seakan tak pernah habis berita yang tidak bermoral dan berita pembunuhan terhadap orang tua sendiri.

Seperti yang terjadi baru-baru ini di Kota Medan, anak yang berusia 12 tahun sudah bisa membunuh ibu kandung sendiri dengan pisau yang dipicu dengan amarah dan kesal terhadap ibunya. Karena sering marah kepada kakaknya, dia juga terobsesi membunuh dan telah menonton Game online Murder Mystery juga serial anime detective conan (DC). Dimana dikabarkan keluarga mereka antara ibu dan ayah sering ribut tidak ada kecocokan lagi dalam keluarga sehingga membuat si anak terkena mental dan berbuat nekat.

Masih terkait dengan pembunuhan di Medan yang tak berselang lama juga terjadi antara anak laki-laki dan ayah ribut, sampai berujung pembunuhan terhadap sang ayah seorang Dosen dibunuh anak kandung yang berusia 18 tahun di rumahnya Jl. Alumanium Minggu 30/11/2025 sekitar jam 09.00 WIB. Pelaku tersulut emosi karena melihat sang ayah bertengkar dan memukul ibunya dia langsung menusuk ayahnya sampai meninggal.

Kenapa bisa terjadi anak bunuh ibu kandung dan anak bunuh bapak kandung? Dikarenakan ketika seorang anak tidak memiliki kehadiran figur ayah dalam hidupnya untuk membentuk karakter dan ketahanan anak yang melengkapi peran ibu baik secara fisik maupun psikologis. Anak akan hilang arah ketika kedua orang tuanya tak lagi peduli dengan konsep birrul walidain (berbakti kepada orang tua).

Serta mengabaikan hak-hak orang tua yang berujung uququl walidain (durhaka). Seperti membentak, menyakiti hati, tidak memenuhi kebutuhan mereka dan ini terjadi karena kurangnya pemahaman agama dan memisahkan agama dari kehidupan dalam keluarga. Kesenjangan generasi atau egoisme sehingga anak tidak merasa wajib memenuhi kewajiban tersebut dan orang tuapun gagal mengajarkan dan mencontohkan.

Bahkan perkembangan teknologi digital alih-alih membawa berkah, melainkan jadi alat baru penjajahan kapitalisme global yang menjerat generasi pada kehidupan serba mahal, fomo, dangkal dan instan. Akal dan jiwa mereka dirusak oleh mesin algoritma kapitalistik yang dibungkus dengan narasi kemajuan dan modernitas.

Aktivitas Birul wallidain akan mendorong pembentukan ikatan yang kuat antara anak dan orang tua. Ikatan ini menjadi dasar bagi perkembangan anak emosional dan sosial anak. Ikatan yang sehat memberikan anak rasa aman dan kepercayaan yang mempengaruhi kesehatan mental dan emosi anak dimasa yang akan datang. Birrul walidain juga mengajarkan anak untuk memahami dan merasakan penderitaan orang lain khususnya orang tua tentang akhlak dan menghormati menghargai serta berbakti.

Untuk membina generasi dengan ideologi Islam tidak bisa dilepaskan dari peran dan tanggung jawab orang tua. Rasulullah telah mengingatkan bahwa corak anak tergantung dari pendidikan yang dilakukan oleh orang tuanya sebagaimana sabdanya : “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, lalu kedua orang tuanyalah yang menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi”. (HR.Muslim)

Syariah telah menjelaskan kewajiban orang tua untuk pendidikan tarbiah yang baik yaitu pendidikan secara Islam yang mengimani Allah dan Rasulnya, serta mengetahui ibadah yang benar, memberikan hak teladan yang mudah menancap jika faktanya hadir diindra anak yang dilakukan bersama orang tua, dan anak juga berhak mendapat pergaulan yang baik penuh rahmah (kasih sayang) serta kelembutan.

Orang tua harus berjuang berkeinginan besar membawa seluruh keluarganya kesurga bersama dan mempersiapkan anak sebagai penerus keturunan pejuang syariah yang jauh lebih baik darinya.

Orang-orang yang berkomitmen dalam pendidikan anaknya, sesibuk apapun mereka selalu hadir membersamai dan menjadi teladan bagi anak-anaknya.

Allah SWT berfirman : ” Wahai orang-orang yang beriman , jagalah diri kalian dan kelyarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah para malaikat yang kasar dan keras . Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang dia perintahkan kepada dirinya dan selalu mengajarkan apa yang dia perintahkan.” (QS at-Tahrim:6)

Jika hak-hak ini semua terpenuhi maka dengan izin Allah akan membaik semuanya terbentuklah generasi pejuang hebat yang berkepribadian Islam. Wallahu a’lam bishawab. (**)

*Penulis Adalah Aktivis Dakwah Muslimah