EKONOMI | POLITIK
“Menjadi pengangguran bukanlah aib. Justru di tengah ketidakpastian sering lahir ide-ide kreatif. HIPMI bisa menjadi ladang pembibitan subur bagi mereka yang mau berproses,”
Batam | KEPRI | Lapan6Online : Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) selama ini dikenal sebagai organisasi prestisius yang menjadi wadah lahirnya para pengusaha muda di Tanah Air.
Namun, belakangan muncul fenomena menarik. Semakin banyak sosok non-pengusaha, bahkan pengangguran, yang tertarik masuk ke tubuh HIPMI.
Fenomena ini menuai pro dan kontra. Di satu sisi, ada yang menilai keterlibatan mereka bisa menjadi peluang positif, selama mereka datang dengan semangat belajar, berkembang, dan benar-benar berkontribusi.
“Menjadi pengangguran bukanlah aib. Justru di tengah ketidakpastian sering lahir ide-ide kreatif. HIPMI bisa menjadi ladang pembibitan subur bagi mereka yang mau berproses,” ujar Fitrahadi, seorang aktivis yang vokal mengkritisi fenomena ini, kepada Lapan6online, Sabtu (12/7/2025) melalui WhatsApp.
Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran organisasi ini disusupi kepentingan politik praktis. Bukannya melahirkan pengusaha muda tangguh, HIPMI justru dikhawatirkan berubah menjadi batu loncatan bagi para pemburu panggung kekuasaan.
“Ada gejala yang harus diwaspadai. HIPMI jangan sampai jadi ajang ‘cari muka’ politik. Kita butuh lebih banyak pengangguran idealis, bukan pengangguran oportunis yang hanya mengusung ambisi politik tanpa kontribusi nyata,”tegas Fitrahadi.
Ia menambahkan, jika HIPMI ingin menjaga khitahnya sebagai rumah kolaborasi dan inovasi, organisasi ini harus bersih dari agenda pragmatis.
“Pengangguran yang datang untuk tumbuh layak disambut. Tapi yang datang untuk menunggangi harus ditolak,” ujarnya menegaskan.
Meski demikian, publik berharap organisasi yang telah berdiri sejak 1972 ini tetap menjadi wadah murni untuk regenerasi pengusaha muda Indonesia.
*Yulizar | Lapan6Online


















