ISLAM MENANGKAL TAWURAN

0
159

OPINI | POLITIK

“Karena ruang kota membiarkan “hiburan kekerasan”. Titik rawan dibiarkan gelap, anak nongkrong tanpa arah. Akun anonim panen sensasi, algoritma menang dan akhlak kalah,”

Oleh : Amrullah Andi Faisal

MANGGARAI terbakar lagi. Malam Jumat 14 Agustus 2025, Jakarta Selatan berubah jadi arena perang jalanan. Dua kelompok saling serang. Batu melayang, petasan meledak dan senjata tajam terhunus. Polisi datang, massa bubar. Besok atau lusa, kisahnya berulang. Ini bukan sekadar kejadian, tapi pola.

Manggarai bukan satu-satunya kasus. Matraman panas, Tebet ribut, serta Pancoran bergolak. Nyawa melayang dan anak-anak luka. Remaja ditangkap dengan narkotika, obat terlarang dan senjata di tangan. Malam berganti, kelompok baru tumbuh. Depok, Bekasi, Bandung, Surabaya, Medan dan Makassar turut terbakar. Ini epidemi sosial, bukan insiden sporadis.

Amrullah Andi Faisal/Foto : Ist.

Luka Lama, Sejarah Hitam
Akar masalahnya sudah tua. Sejak akhir 1980-an, Jakarta menyimpan dendam. Rival sekolah, geng kampung, warisan antar-angkatan. Identitas palsu lahir: dianggap jago kalau melukai, dipuja kalau menakutkan. Kekerasan kemudian direkam, videonya viral. Ditonton, disoraki dan ditiru. Normal baru yang rusak. Budaya yang menyimpang, diwariskan turun-temurun.

Sebab Negara Sering Gagal
Karena resepnya reaktif, razia malam, patroli singkat dan seremonial damai. Sesudah itu, senyap. Lalu meledak lagi. Karena fokus pada hukuman, bukan pemulihan. Anak ditangkap, difoto dan dilepas. Nilai tak berubah, lingkar pertemanan tetap sama. Konten tetap liar, penjual minuman beralkohol dan senjata rakitan lolos. Karena program terpisah. Sekolah, pemerintah daerah, polisi dan tokoh warga dan masjid berjalan sendiri-sendiri. Tiada orkestrasi dan ekosistem. Karena ruang kota membiarkan “hiburan kekerasan”. Titik rawan dibiarkan gelap, anak nongkrong tanpa arah. Akun anonim panen sensasi, algoritma menang dan akhlak kalah.

Islam Memberi Jalan Sistemik
Islam bukan sekadar nasihat tanpa gigi. Islam membangun individu, keluarga, komunitas, hingga negara. Selaras, menyatu dan efektif.

Individu: akidah yang menumbuhkan rasa malu dan takwa tauhid tertanam sejak dini. Darah muslim haram ditumpahkan. Akhlak praktis dilatih setiap hari, seperti minta maaf, tahan amarah, berani damai. Pemicu dibatasi, seperti gawai terkontrol, jam malam pribadi, janji teman sebaya anti-kekerasan. Targetnya malu berbuat dosa, bukan sekadar takut razia.

Keluarga : Orang Tua sebagai pembina majelis. Orang tua di Rukun Tetangga/Warga membahas pengasuhan islami, komunikasi tanpa kekerasan. Perjanjian keluarga: gawai bersyarat, shalat jamaah, aktivitas produktif. Jaring keselamatan, yaitu paman, bibi, tetangga ikut mengawasi. Anak tak dibiarkan sendirian. Targetnya, rumah jadi benteng, bukan penonton.

Komunitas: pengawasan masyarakat yang terorganisasi. Dewan Remaja Masjid di tiap RW bertugas jelas menciptakan nol tawuran, nol sajam, nol minol dan narkoba. Program alternatif berupa studio konten dakwah. Juga kelas kerja nyata, semisal servis telepon seluler, sablon dan koding. Piagam Damai antar-kampung menggunakan isntrumen ganti rugi, permintaan maaf terbuka, kerja sosial di masjid. Ronda nilai dilakukan ustaz, ibu-ibu, pemuda menyapa titik rawan, hidupkan tahajjud pekanan, kajian akhlak. Targetnya, kekerasan jadi aib sosial, bukan gengsi.

4) Negara: siyasah syar’iyah dari hulu ke hilir. Pendidikan karakter berbasis syariah, bukan tempelan jam pelajaran. Budaya sekolah menerapkan ibadah, akhlak, fikih muamalah dan resolusi konflik islami. Hukum memutuskan pasokan miras, narkoba dan sajam di hulu. Untuk pelaku di bawah umur, dilakukan restorative justice syariah, yakni taubat terbuka, ganti rugi, dan kerja sosial. Untuk residivis dewasa, dikenai sanksi tegas dan konsisten. Tata kota mengubah titik rawan menjadi pusat aktivitas halal. Balai remaja masjid 24 jam, lapangan gratis, bimbingan kerja. Dana dialihkan dari seremoni ke zona aman selepas sekolah. Komunikasi publik menghentikan glorifikasi tawuran, mengangkat teladan damai, memviralkan mediasi, bukan duel. Targetnya, kebijakan menyatu. Keluarga, masjid,sekolah dan negara bergerak seirama.

Pendekatan Syariah Ampuh
Syariah menutup pintu maksiat, membuka jalan prestasi halal. Mengaktifkan rem moral, yakni rasa malu dan menahan tangan sebelum melukai. Menciptakan tekanan teman sebaya yang benar, yakni amar makruf nahi mungkar dilakukan bersama. Mengakhiri silo kebijakan dalam ekosistem, bukan proyek.

Khatimah
Manggarai hanya cermin. Kota-kota besar kita sedang demam kekerasan. Resep lama gagal, sehingga butuh arus baru. Terapkan syariah secara utuh. Bangun akidah individu, kokohkan keluarga, hidupkan hisbah komunitas, tegakkan kebijakan negara yang adil. Dengan itu, tawuran bubar dan tak akan lahir kembali. (**)

*Penulis Adalah Kolumnis Publik di Sinjai