Sudan Berdarah, Dunia Butuh Sistem yang Menyelamatkan

0
103
Selvi Safitri/Foto : Ist.

OPINI | POLITIK

“Sudan punya Emas, tapi rakyatnya kelaparan. Sudan punya sumber daya, tapi rakyatnya tak punya air bersih. Sementara penguasanya hidup dalam istana, dijaga tentara asing, dan menjual negeri mereka dengan harga dolar,”

Oleh : Selvi Safitri

BELUM terhenti darah tertumpah di Gaza, dunia dikejutkan oleh berita genosida di Sudan. Pada 26 Oktober 2025, Al-Fasher, ibu kota negara bagian Darfour Utara daerah barat Sudan, menjadi saksi pembantaian 2.227 rakyat sipil tidak berdosa dan pengusiran 393 ribu warganya oleh Pasukan Dukungan Cepat (RFS,red).

Pasukan yang dikomandoi Jenderal Mohamed Hamdan Dagalo ini berhasil memukul mundur tentara Sudan dan merebut ibu kota setelah pengepungan selama lebih 18 bulan.

Peristiwa ini adalah puncak krisis yang sudah berlangsung lama. Beritanya baru viral karena tertutup izi Gaza, padahal situasinya tidak kalah mengerikan. Cara – cara yang dilakukan RFS dalam upaya genosida bahkan lebih brutal. Selama pengepungan, 1,2 juta penduduk kota dibiarkan lapar dan bertahan hanya dengan memakan pakan hewan.

Tidak sedikit kaum perempuan yang dirudapaksa sebelum dibunuh bersama anak – anak mereka. Kaum laki – lakinya, tua maupun muda, disiksa dengan kejam, digantung ditempat – tempat umum, ditembak secara massal. Semua itu sengaja mereka rekam dan videonya disebar ke seluruh dunia. ( Mnews, 5 – 11- 2025 )

Semua ini dilakukan oleh sesama manusia. Dan dunia hanya diam, media hanya menjadikannya berita lewat satu pragraf pendek “ Konflik di Sudan kembali memanas.” Seolah ribuan nyawa itu hanya angka. seolah darah mereka bukan darah manusia. Padahal tragedi ini bukan “ perang saudara. “ ini adalah perang proyek, perang kepentingan, dan perang kapitalisme global.

Dibalik jendral yang saling bunuh, berdiri negara – negara besar seperti Amerika Serikat, Inggris, Uni Emirat Arab, Mesir, dan Israel. Mereka menyuplai senjata, menyokong satu pihak, lalu menjarah emas, minyak, dan sumber daya Sudan. Sudan yang dulu kaya, kini miskin. Sudan yang dulu damai, kini jadi kuburan terbuka.

Tragedi ini bukan cuma soal senjata dan darah. Ini tentang sistem. Sistem yang dibangun atas dasar sekularisme, yang memisahkan agama dari kehidupan. Sistem yang melahirkan penguasa korup, tentara haus kuasa, dan masyarakat yang kehilangan arah moral.

Sejak Khilafah Islamiyah diruntuhkan, negeri – negeri muslim dijadikan pecahan lemah yang mudah diatur. Sudan, Suriah, Palestina, Yaman, Afghanistan, semuanya diatur oleh peta yang digambar penjajah. Mereka menanamkan benih perpecahan lewat ide nasionalisme, lalu menancapkan kuku kapitalisme dalam kalimat “ kami bantu kalian membangun, tapi kalian serahkan tambang, minyak, dan kebijakan kepada kami.”

Lihat hasilnya sekarang, Sudan punya Emas, tapi rakyatnya kelaparan. Sudan punya sumber daya, tapi rakyatnya tak punya air bersih. Sementara penguasanya hidup dalam istana, dijaga tentara asing, dan menjual negeri mereka dengan harga dolar.

Inilah wajah asli sistem sekuler kapitalis dimana sistem ini memuja keuntungan, bukan kemanusiaan. Sistem yang melahirkan manusia tanpa nurani, yang menjadikan darah sebagai komoditas dan perang sebagai bisnis. Dan yang lebih menyakitkan negara – negara muslim hanya diam.

Tidak ada satu pun yang mengirim pasukan untuk melindungi rakyat Sudan. Tidak ada satu pun yang menegakkan keadilan atas darah saudara seimannya. Karena masing – masing sibuk menjaga kursi, dan takut kehilangan dukungan Barat.

Sementara umat islam yang lemah hanya bisa menonton dari layar, menangis tanpa daya. Seolah mereka lupa bahwa umat ini dulu satu tubuh, satu pemimpin, satu bendera yaitu bendera bertuliskan “ La ilaha illallah Muhammadur Rasuluallah. “

Islam tidak menutup mata terhadap kezaliman. Islam datang untuk menghancurkannya. Ketika sistem islam tegak, keamanan dan kehormatan manusia bukan hanya slogan tapi kenyataan hidup.

Dalam islam, nyawa satu manusia lebih berharga dari seluruh dunia dan isinya. Rasuluallah SAW bersabda “ Hancurnya dunia lebih ringan bagi Allah dibanding terbunuhnya satu jiwa tanpa hak.” Maka, sistem islam membangun keamanan dari tiga pilar besar, pertama negara menjamin kebutuhan dasar rakyatnya, tidak ada rakyat yang lapar karena miskin, tidak ada pemuda yang mencuri karena putus asa. Islam menetapkan bahwa negara wajib menjamin sandang, pangan, dan tempat tinggal setiap warganya. Karena kemiskinan adalah akar kejahatan, dan islam memotong akar itu, bukan hanya rantingnya.

Kedua, sistem pendidikan yang menanamkan takwa, bukan sekedar ilmu dunia. Sejak kecil, umat diajarkan takut kepada Allah, cinta kebenaran, dan menghormati sesame. Pendidikan islam membentuk karakter, bukan sekedar menghasilkan pekerja. Karena manusia tanpa iman akan kehilangan arah, seperti yang terjadi hari ini.

Ketiga, hukum islam ditegakkan dengan adil dan tegas. Tidak ada suap, tidak ada celah bagi pelaku kejahatan untuk lolos. Dalam sistem islam, pelakuk kezaliman, pembunuh, perampok mendapat hukuman yang sesuai syariat, bukan karena dendam, tapi karena keadilan. Hukum ditegakkan untuk menjaga masyarakat dari kejahatan, bukan untuk menakut – nakuti rakyat kecil.

Islam menjadikan pemimpin sebagai pelindung bukan penguasa. Rasuluallah SAW bersabda “ Imam ( khilafah ) adalah perisai. Dibelakang umat berperang dan dengannya mereka berlindung.” Artinya, dalam sistem islam, rakyat tidak perlu takut pada aparat, justru aparat lah yang takut jika ada satu rakyat dizalimi.

Khilafah Islamiyah dulu menjaga wilayah yang luas dari Andalusia sampai Samarkand. Tidak ada perampasan, tidak ada penjajahan, tidak ada darah yang tumpah karena kerakusan. Jika kita bandingkan dengan hari ini dunia dipenuhi darah karena islam dijauhkan dari sistem kehidupan.

Sudan bukan hanya tragedi, tapi peringatan keras bagi kita semua. Selama sistem ini berdiri yaitu sistem sekuler kapitalis yang busuk maka darah umat manusia akan terus mengalir.

Hari ini Sudan, kemarin Gaza, besok mungkin kita. Tapi sejarah selalu berputar, kegelapan ini akan berakhir, dari darah dan penderitaan umat, akan lahir kesadaran baru bahwa hanya sistem islam yang bisa menyembuhkan luka dunia ini. Bukan PBB, bukan demokrasi, bukan gencatan senjata palsu, yang dibutuhkan umat bukan sekedar belas kasihan, tapi kembalinya sistem yang melindungi, menegakkan keadilan, dan mempersatukan manusia dibawah panji tauhid.

Dan itu hanya bisa terwujud dengan tegaknya Khilafah Islamiyah ‘ala Minhaj An-nubuwwah. Sistem yang sekali lagi akan berdiri bukan untuk menaklukan dunia, tapi menyelamatkannya. (**)

*Penulis Adalah Mahasiswa Sastra Jepang USU