EKONOMI
“Data SP2K menunjukkan pergerakan harga pangan yang berbeda antarwilayah, namun secara umum cabai rawit masih menjadi komoditas paling bergejolak,”
Sinjai | SULSEL | Lapan6Online : Indeks Perubahan Harga (IPH) Sulawesi Selatan pada pekan pertama Desember mencatat kenaikan di semua kabupaten. Hal itu disampaikan Kepala BPS Sinjai, berdasarkan data BPS RI yang diolah dari Sistem Pemantauan Pasar Komoditi Kebutuhan Pokok (SP2K) Kemendag.
Syamsuddin menjelaskan beberapa daerah mengalami kenaikan IPH cukup signifikan akibat fluktuasi komoditas pangan, terutama cabai rawit dan daging ayam ras.
“Data SP2K menunjukkan pergerakan harga pangan yang berbeda antarwilayah, namun secara umum cabai rawit masih menjadi komoditas paling bergejolak,” ujarnya.

Kabupaten Luwu memiliki kenaikan IPH tertinggi, yakni 5,91. Komoditas penyumbangnya meliputi daging ayam ras, cabai merah dan cabai rawit. Takalar menyusul dengan IPH 5,36, dimana cabai rawit menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 2,6739.
Kenaikan juga tampak di Maros (4,93), Pinrang (4,83), serta Pangkajene dan Kepulauan (3,81). Pada daerah-daerah tersebut, daging ayam ras dan cabai rawit mendominasi tekanan harga. Di Pinrang misalnya, cabai rawit mencatat kontribusi kenaikan hingga 0,2766.
Sementara Toraja Utara dan Luwu Utara masing-masing mencatat IPH 3,71 dan 2,99, masih dipengaruhi komoditas serupa. Untuk Sinjai, IPH naik 2,66, dengan penyumbang utama daging ayam ras (2,2206), cabai rawit dan bawang merah.
Beberapa wilayah lain mengalami kenaikan yang lebih moderat. Jeneponto mencatat IPH 2,48, Enrekang 1,83 dan Bantaeng 1,76. Fluktuasi di wilayah tersebut berasal dari komoditas seperti ikan kembung, bawang merah, hingga udang basah.
Di sisi lain, kenaikan IPH terendah tercatat di Soppeng, yakni 0,50. Komoditas penyumbang berupa cabai rawit, daging ayam ras dan bawang merah.
Syamsuddin menambahkan bahwa nilai Coefficient of Variation (CV) atau tingkat fluktuasi harga tertinggi pekan ini, juga didominasi cabai rawit di sebagian besar daerah.
“Tingginya CV cabai rawit menunjukkan konsistensi komoditas ini sebagai pendorong gejolak harga,” katanya.
Ia menekankan pentingnya kewaspadaan pemerintah daerah terhadap pola musiman yang memengaruhi pasokan, terutama menjelang periode akhir tahun ketika konsumsi masyarakat meningkat.
Menurutnya, pemantauan pasar yang lebih intensif dapat membantu meredam lonjakan harga mendadak.
“BPS akan terus menyampaikan perkembangan IPH secara berkala sebagai dasar pengambilan kebijakan stabilisasi pangan,” ujar Syamsuddin. (**)
*Pewarta : Nafsul Muthmainnah
*Editor : Amrullah Andi Faisal


















