Generasi yang Lemah Akibat Ruang Digital Tak Terarah

0
21
Bella Lutfiyya/Foto : Ist.

OPINI | POLITIK

“Input-input yang dikonsumsi akan melahirkan output yang serupa. Konten yang rusak akan mempengaruhi cara seseorang berpikir, bersikap, bahkan bisa mempengaruhi cara beragamanya,”

Oleh : Bella Lutfiyya

TAK bisa dipungkiri bahwa semakin majunya teknologi, semakin banyak asupan konten yang dikonsumsi. Terlebih, minimnya batasan penggunaan ponsel atau media sosial pada beberapa orang.

Saat luang, sosial media menyediakan hiburan di tengah hiruk-pikuk kehidupan. Video-video receh menularkan dopamin yang membuat pengguna sosial media betah berlama-lama menatap layar ponsel.

Beragamnya konten di ruang digital yang tidak tersaring menyebabkan berbagai jenis konten masuk dalam media sosial setiap individu. Hal ini sangat mengkhawatirkan, karena banyak konten tidak bermutu yang dapat merusak generasi muda. Input-input yang dikonsumsi akan melahirkan output yang serupa. Konten yang rusak akan mempengaruhi cara seseorang berpikir, bersikap, bahkan bisa mempengaruhi cara beragamanya.

Kaum muslim juga tidak terhindarkan dari konten-konten yang tak bermutu dan rusak di media sosial, bahkan menjadi sasaran empuk penjajahan pemikiran oleh sistem saat ini. Hal tersebut menyebabkan lahirnya generasi muslim yang memiliki split personality, rapuh, dan sekuler yang bertentangan dengan kepribadian islam atau Syakhsiyah Islamiyah, yaitu kepribadian yang terbentuk antara perpaduan akidah, ibadah, dan akhlak Islam dalam kehidupannya.

Seorang muslim yang memiliki Syakhsiyah Islamiyah akan terjaga secara pola pikirnya, sikap, dan perilakunya karena bersandar pada syariat Allah SWT, sehingga tidak mudah terbawa arus yang tak sejalan dengan Islam, memiliki pendirian yang kuat terhadap prinsip yang diyakini, serta cara bertindak dan bersikap terhadap suatu hal sesuai dengan ajaran Islam.

Kemajuan teknologi dan sains memang tidak bisa dihindari, ditambah lagi di era yang serba digital saat ini, sangat mustahil jika tidak berinteraksi dengan teknologi. Namun, kemajuan teknologi ini bisa menjadi sumber bencana bagi generasi.

Banyak sekali paparan konten-konten negatif, seperti pornografi, judi online (judol), pinjaman online (pinjol), cyberbulliying, moderasi, dan sebagainya yang menyebabkan kerusakan pada generasi. Pembunuhan merajalela, zina tak terhindarkan, tindakan kriminal terus bertambah, bahkan angka bunuh diri yang tak kunjung surut.

Negara gagal untuk menjamin keamanan masyarakat dalam mengakses teknologi dan internet. Pemisahan antara kehidupan dan agama yang diterapkan oleh negara akhirnya menjerumuskan umat pada kelalaian dan ancaman pemikiran asing yang tidak sesuai dengan Islam. Lemahnya akidah umat ditambah paparan rusak di ruang digital menjadi kombinasi akibat ditinggalkannya peran Islam dalam kehidupan.

Lain halnya apabila Islam diterapkan dalam kehidupan bernegara. Islam hadir membawa solusi bagi setiap gerak-gerik kehidupan manusia. Dalam Islam, negara berfungsi sebagai pelayan umat yang memiliki visi untuk menyelamatkan generasi. Oleh karenanya, setiap kebijakan dipastikan dapat melindungi umat baik di dunia nyata maupun di dunia digital.

Negara yang menerapkan Islam dengan ketat akan menyaring konten-konten yang dapat merusak pemikiran umat dan menjadikan kemajuan teknologi sebagai wadah pendidikan dan dakwah. Negara juga akan memastikan keamanan data umat saat mengakses ruang digital. Selain itu, negara juga akan mengedukasi umat dengan akidah Islam, sehingga umat memiliki kepribadian yang kokoh dan menjadi seorang muslim yang tangguh dalam segi keimanan dan mentalitas.

Penegakkan syariat Islam secara kaffah (menyeluruh) oleh negara akan mengeliminasi berkembangnya praktik-praktik rusak di ruang digital.

Oleh karena itu, penting untuk memperjuangkan tegaknya syariat Islam oleh kaum muslim. Banyak sekali hal yang dapat dilakukan, diantaranya perbanyak belajar mengenai Islam, mencari circle positif yang membawa pada kebenaran, mencari guru atau sahabat yang dapat meningkatkan keimanan, karena memperjuangkan tegaknya Islam adalah suatu kewajiban dan urgensi karena kita mengimani bahwa Islam adalah solusi. (**)

*Penulis Adalah Alumnus Universitas Gunadarma