Buah Penerapan Sekulerisme : Interaksi Lawan Jenis yang Salah Kaprah

0
20
Bella Lutfiyya/Foto : Ist.

OPINI | POLITIK

“Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu yang telah mampu berkeluarga hendaknya ia menikah, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Namun, siapa saja yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa, sebab hal itu dapat meredakan nafsunya.”
Oleh : Bella Lutfiyya
DIGITALISASI membawa pengaruh besar pada kehidupan masyarakat saat ini. Tergantung pada konten apa yang tersaji dan siapa yang mengonsumsinya, digitalisasi membawa dampak yang beragam pada tiap-tiap individu.

Belakangan ini, konten muda-mudi yang menyiratkan makna pertemanan antara laki-laki dan perempuan adalah hal yang harus dinormalisasi kerap muncul di beranda media sosial. Masalahnya, konten tersebut dibalut dengan perilaku antar lawan jenis yang melakukan kontak fisik yang tidak patut.

Hal tersebut akhirnya menjadi topik diskusi -atau lebih tepatnya perdebatan- yang memunculkan pro dan kontra. Sebetulnya, topik ini sudah ramai diperbincangkan, namun seiring berjalannya waktu, konten-konten receh dan tidak bermutu kian cepat naik ke permukaan sehingga kembali menjadi sorotan.

Saat ini, muslim semakin jauh dari Islam. Kondisi muslim saat ini terjajah secara pemikiran yang akhirnya mendewakan pemikiran Barat ketimbang ilmu Islam. Ketika seseorang terpengaruh oleh suatu pemikiran, maka hal tersebut akan mempengaruhi perilakunya dalam berkehidupan. Seperti itulah penjajahan pemikiran merusak pemahaman dan mengaburkan pandangan Muslim terhadap Islam.

Penjajahan pemikiran Barat bekerja melalui media dan digitalisasi untuk menggeser standar “benar-salah” dari “halal-haram” menjadi “suka-tidak suka”. Konten media sosial yang mempromosikan kedekatan fisik dan relasi tanpa batas antar lawan jenis bukan fenomena netral, melainkan bagian dari budaya Barat yang menjauhkan agama dari pengaturan kehidupan.

Aturan mengenai interaksi antar lawan jenis akhirnya terasa asing dan pertemanan antar lawan jenis bukan lagi menjadi hal yang tabu.

Normalisasi interaksi yang salah kaprah pada laki-laki dan perempuan merupakan buah dari pemikiran sekuler yang menjadikan kebebasan individu sebagai nilai utama, bukan ketaatan pada syariat. Negara yang menerapkan sistem sekuler membiarkan ruang digital dan media massa menjadi sarana penyebaran nilai liberal tanpa filter syar’i. Tidak adanya regulasi berbasis Islam terhadap konten media menunjukkan kelalaian negara dalam menjaga akhlak dan pemikiran generasi muda.

Para pemangku kepentingan juga hanya fokus menjaga kebebasan berekspresi dan industri konten ketimbang melindungi masyarakat dari budaya Barat. Ketika negara tidak hadir sebagai pelindung akidah dan akhlak, masyarakat dipaksa menghadapi arus sekularisasi sendirian tanpa perlindungan sistemik.

Islam adalah agama yang sempurna. Islam mengatur segala aspek kehidupan manusia. Dalam Islam, terdapat 3 jenis hubungan, yaitu hubungan manusia dengan Allah SWT, hubungan manusia dengan dirinya sendiri, dan hubungan manusia dengan sesamanya. Poin ketiga inilah yang mengatur tentang interaksi.

Dalam Islam, laki-laki dan perempuan hidup secara terpisah, kecuali dalam hal-hal syar’i yang diperbolehkan, seperti saat kegiatan muamalah -jual beli, pekerjaan, pendidikan-, keperluan persaksian, khitbah, dan pengobatan. Selain daripada keperluan tersebut, maka tidak diperbolehkan.

Pertemanan antar lawan jenis tanpa melibatkan perasaan juga rancu, karena manusia memiliki Gharizah Nau atau naluri seksual, sehingga fitrah laki-laki untuk tertarik pada perempuan dan fitrah perempuan untuk tertarik pada laki-laki.

Walaupun memiliki ketertarikan secara alami pada lawan jenis, bukan berarti harus dipenuhi. Pemenuhan naluri ini hanya dapat dilakukan dengan pernikahan bagi yang sudah mampu dan berpuasa bagi yang belum.

Naluri seksual yang tidak tersalurkan tidak akan membuat individu tersebut meninggal atau terancam layaknya kebutuhan jasmani, seperti makan dan minum. Namun, naluri yang tidak terpenuhi hanya akan menimbulkan kegelisahan. Oleh karenanya, Allah SWT memberikan solusi baik laki-laki maupun perempuan.

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman hendaklah mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya. Demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang mereka perbuat”. (Q.S An-Nur Ayat 30)

Dan ayat berikutnya, “Katakanlah kepada para perempuan yang beriman hendaklah mereka menjaga pandangannya, memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (bagian tubuhnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya. Hendaklah pula mereka tidak menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, ayah mereka, ayah suami mereka, putra-putra mereka, putra-putra suami mereka, saudara-saudara laki-laki mereka, putra-putra saudara laki-laki mereka, putra-putra saudara perempuan mereka, para perempuan (sesama muslim), hamba sahaya yang mereka miliki, para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Hendaklah pula mereka tidak mengentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung” (Q.S. An-Nur Ayat 31)

Sebaik-baiknya solusi adalah solusi Islam yang datang dari Allah SWT sebagai pencipta manusia, setiap aturannya diperuntukkan untuk kebaikkan manusia juga, bukan sebuah kekangan. Pertemanan sejati antara laki-laki dan perempuan adalah pernikahan, jika belum mampu menikah maka puasa adalah solusinya.

Dari Abdullah ibnu Mas’ud Radiyallahuanhu berkata: Rasulullah SAW bersabda kepada kami: “Wahai generasi muda, barangsiapa di antara kamu yang telah mampu berkeluarga hendaknya ia menikah, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Namun, siapa saja yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa, sebab hal itu dapat meredakan nafsunya.”

Merebaknya konten sekuler akan mudah mempengaruhi individu yang kurang pemahamannya terhadap Islam, sehingga cenderung mudah terbawa arus dan cepat memvalidasi hal-hal yang sebenarnya terlarang. Hilangnya peran negara dalam kehidupan masyarakat juga mengantarkan rakyat pada kondisi yang membuat mereka terombang-ambing arus Barat.

Menuntut ilmu agama, mencari teman-teman yang sholeh/sholehah, dan mendekatkan diri dengan Allah SWT adalah sebaik-baik pelindung seorang muslim di tengah kondisi saat ini. (**)

*Penulis Adalah Alumnus Universitas Gunadarma