OPINI | EKONOMI | POLITIK
“Pasar saham sejak awal berdiri di atas logika spekulasi. Uang berpindah tangan dalam hitungan detik tanpa menciptakan barang, jasa atau nilai riil secara langsung. Namun justru arena inilah yang dijaga mati-matian oleh rezim,”
Oleh : Amrullah Andi Faisal
TURUNNYA Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali diperlakukan sebagai ancaman serius bagi eksistensi ekonomi nasional. Data menunjukkan tekanan jual oleh investor asing kian masif; dalam periode singkat, dana asing keluar hingga mencapai triliunan rupiah di pasar reguler.
Penurunan ini segera direspons dengan kepanikan otoritas keuangan. Bursa Efek Indonesia (BEI), Otoritas jasa Keuangan, hingga para analis pasar serempak menyampaikan pesan yang sama. Negara harus segera hadir untuk menjaga kepercayaan investor.
Di titik inilah watak asli negara kapitalistik tampil tanpa topeng. Negara berdiri paling depan menyelamatkan kenyamanan modal, bukan melindungi hajat hidup rakyat.
Indikator Semu Kepentingan Global
IHSG sejatinya bukan indikator kesejahteraan umat. Ia hanyalah indikator kesehatan modal. Namun dalam sistem ekonomi kapitalisme, kesehatan modal disamakan dengan kepentingan nasional. Ketika indeks menguat, elite bersorak dan mengklaim ekonomi tumbuh.
Namun ketika indeks melemah karena dana asing hengkang, negara panik dan segera menenangkan pemilik uang dengan berbagai stimulus. Sementara itu, buruh, petani, nelayan dan pelaku usaha kecil tetap menjadi pihak yang paling rentan menanggung dampak inflasi dan kenaikan biaya hidup di sektor riil.
Pasar saham sejak awal berdiri di atas logika spekulasi. Uang berpindah tangan dalam hitungan detik tanpa menciptakan barang, jasa atau nilai riil secara langsung. Namun justru arena inilah yang dijaga mati-matian oleh rezim.
Negara membuka kran selebar-lebarnya bagi arus modal asing, membebaskan keluar-masuk dana spekulatif , serta menjadikan perekonomian nasional rapuh di bawah kendali sentimen global. Ketika dana asing pulang ke negara asalnya, IHSG jatuh dan negara kembali berlindung di balik alasan klise. Faktor eksternal.
Kezaliman Struktural Yang Haram
Islam memandang realitas ini sebagai kezaliman struktural yang disengaja. Kapitalisme gagal tidak secara kebetulan. Ia memang dirancang untuk menguntungkan segelintir pemilik modal dan mengorbankan mayoritas rakyat. Al Qur’an Surah Al Hasy ayat ke-7, tegas melarang harta hanya beredar di kalangan orang-orang kaya saja. Namun pasar saham modern justru menjadi mesin utama konsentrasi kekayaan, sementara negara berfungsi sebagai satpam kepentingan korporasi global.
Lebih jauh, pasar saham sarat dengan keharaman sistemik. Riba menjadi fondasi pembiayaan emiten. Gharar (ketidakpastian) melekat karena harga saham sering kali terlepas dari nilai aset dan kinerja riil. Maisir (judi) menjelma dalam bentuk spekulasi berbasis sentimen, rumor dan permainan bandar besar. Klaim saham syariah, tidak mengubah fakta bahwa sistem induknya tetap kapitalisme liberal yang bertentangan secara prinsipil dengan Islam.
Solusi Sistemik, Bukan Tambal Sulam
Sikap negara setiap kali IHSG bergejolak menunjukkan keberpihakan yang nyata sebagai pelayan pasar. Islam tidak menawarkan solusi tambal sulam, melainkan perubahan sistem secara menyeluruh melalui empat pilar utama.
Pertama, berbasis sektor riil. Islam menolak ekonomi spekulasi. Aktivitas ekonomi harus bertumpu pada pertanian, industri, serta perdagangan nyata yang menyerap tenaga kerja serta memproduksi barang kebutuhan rakyat.
Kedua, negara sebagai raa’in. Negara wajib menjamin kebutuhan pokok tiap individu, bukan sekadar menjamin dividen investor. Ketergantungan pada modal asing adalah bentuk penjajahan ekonomi yang harus diputus.
Ketiga, sistem moneter berbasis emas dan perak. Sistem ini menghilangkan inflasi struktural dan mencegah manipulasi nilai mata uang oleh spekulan global.
Keempat, penghapusan riba dan penerapan syirkah syar’iyyah. Bunga diganti mekanisme bagi hasil yang adil, sehingga risiko dan keuntungan ditanggung bersama secara proporsional.
Lebih dari itu, perubahan sistemik ini tidak akan terwujud tanpa kesadaran politik umat. Islam lebih sekedar menuntut kesalehan individual, tetapi juga kesadaran kolektif untuk memperjuangkan penerapan sistem Islam dalam kehidupan bernegara. Selama umat apatis terhadap politik dan membiarkan arah ekonomi ditentukan oleh kepentingan kapital, maka kapitalisme akan terus bercokol dan menzalimi rakyat atas nama stabilitas pasar.
Khatimah
Turunnya IHSG bukan sekadar peristiwa ekonomi, melainkan peringatan ideologis bagi umat. Mengharap keadilan dari sistem yang sejak lahir menzalimi rakyat adalah ilusi. Sudah saatnya umat menghentikan ketergantungan pada indeks, pasar dan investor.
Perjuangan harus diarahkan pada perubahan sistemik: mengganti kapitalisme dengan sistem Islam secara kaffah. Hanya dengan itulah negara kembali pada fungsi asalnya sebagai pengurus umat, serta ekonomi benar-benar diabdikan untuk kemaslahatan, bukan untuk menyelamatkan kapital.
Diam di hadapan sistem yang zalim bukanlah sikap netral, melainkan keberpihakan. Bagi umat Islam, keberpihakan itu hanya boleh satu. Berpihak pada perjuangan menegakkan sistem Islam secara kaffah sebagai satu-satunya jalan pembebasan umat dari cengkeraman kapitalisme.
Referensi
• QS Al Hasyr: 7; QS Al-Baqarah: 275–279.
• Taqiyuddin An Nabhani, An-Nizham al-Iqtishadi fil Islam.
• Data Arus Modal Asing (Net Sell) BEI, 2024–2026.
• Berita LKBN Antara 2 Februari 202
*Penulis Adalah Kolumnis Publik Sinjai


















