EKONOMI | POLITIK
“Pada Minggu ketiga Januari 2026, terdapat 88 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga beras medium dibandingkan Desember 2025. Dari jumlah tersebut, 48 kabupaten/kota berada di atas HET,”
Jakarta | Lapan6Online : Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) mencatat masih terdapat sejumlah daerah yang mengalami harga beras medium di atas Harga Eceran Tertinggi (HET), pada akhir Januari 2026.
Berdasarkan evaluasi penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), terdapat empat kabupaten yang harga berasnya berada lebih dari 15 persen di atas HET.
Topan Ruspayandi,Kepala Pusat Riset dan Perencana Strategis Perum BULOG, menyampaikan hal tersebut dalam rapat koordinasi nasional Tim Pengendali Inflasi Daerah, yang dilaksanakan dalam jaringan baru-baru ini.
“Pada Minggu ketiga Januari 2026, terdapat 88 kabupaten/kota yang mengalami kenaikan harga beras medium dibandingkan Desember 2025. Dari jumlah tersebut, 48 kabupaten/kota berada di atas HET,” ujar Topan Ruspayandi.
Empat kabupaten dengan selisih harga lebih dari 15 persen terhadap HET adalah Teluk Wondama, Maluku Barat Daya, Limapuluh Kota dan Deiyai. Selisih harga terhadap HET di keempat wilayah tersebut berkisar 15,14 persen hingga 16,13 persen.
Sebagai upaya menekan laju kenaikan harga, Bulog telah menyalurkan beras SPHP ke wilayah-wilayah tersebut. Penyaluran dilakukan dengan volume berbeda-beda, yakni 84.000 kilogram di Teluk Wondama, 37.570 kilogram di Maluku Barat Daya, 342.700 kilogram di Limappuluh Kota, serta 51.675 kilogram di Deiyai.
Namun demikian, Topan menjelaskan penyaluran SPHP masih menghadapi sejumlah kendala. Di antaranya keterbatasan akses ke wilayah tertinggal, terdepan, terluar, serta perbedaan selera konsumsi masyarakat di masing-masing daerah.
Bulog terus mengevaluasi dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah, agar penyaluran SPHP lebih efektif dalam menjaga stabilitas harga beras di tingkat konsumen.
Pewarta : Nafsul Muthmainnah
Editor : Amrullah Andi Faisal


















