Konflik AS-Iran : Rapuhnya Adidaya, Urgensi Persatuan Umat

0
6
Ilustrasi

OPINI | MANCANEGARA

“Ini menjadi bukti konkret bahwa kekuatan global tidaklah absolut. Jika satu negeri saja bisa memberikan perlawanan signifikan, maka potensi kekuatan umat Islam sejatinya jauh lebih besar ketika disatukan,”

Oleh : Retno Purwaningtias, S.IP

LANGIT konflik itu tak pernah benar-benar senyap. Di tengah narasi besar tentang kekuatan adidaya, dunia kembali disuguhkan ironi bahwa Amerika Serikat dan Israel yang selama ini digambarkan tak terkalahkan, justru harus berhadapan alot dengan Iran, satu negeri muslim yang berdiri sendiri.

Riuh klaim kemenangan dari kedua pihak justru memperlihatkan satu hal, bahwa tidak ada dominasi yang benar-benar absolut.

Dalam dinamika konflik terbaru, Iran mengklaim berhasil menekan Amerika Serikat hingga menerima rencana 10 poin sebagai dasar gencatan senjata. Di sisi lain, Amerika Serikat juga mengklaim kemenangan penuh pasca kesepakatan tersebut.

Namun yang menarik, AS tidak mampu memobilisasi sekutu-sekutunya untuk terlibat langsung dalam perang terbuka melawan Iran. Bahkan, konflik ini berlangsung tanpa eskalasi besar yang melibatkan koalisi global seperti yang kerap terjadi sebelumnya.

Fakta ini menegaskan bahwa menghadapi satu negara saja, kekuatan besar dunia tidak bisa bertindak semaunya tanpa perhitungan serius (news.detik.com, 08/04/2026).

Perang ini membongkar ilusi besar yang selama ini ditanamkan kepada dunia bahwa kekuatan Barat adalah kekuatan mutlak. Faktanya, menghadapi Iran saja, mereka tidak mampu meraih kemenangan mutlak. Ini menunjukkan bahwa kekuatan yang selama ini tampak kokoh sejatinya rapuh dan sangat bergantung pada kepentingan.

Lebih jauh, realitas ini menegaskan satu hukum politik global, tidak ada kawan atau lawan yang abadi. Yang ada hanyalah kepentingan. Hari ini bersekutu, esok bisa berbalik arah. Dalam konteks ini, sebagian penguasa negeri muslim justru terjebak dalam pusaran kepentingan sempit, memilih berdiri di barisan kekuatan asing, bahkan ketika kepentingan umat jelas dirugikan. Inilah bentuk pengkhianatan politik yang nyata, yang bukan hanya melemahkan posisi umat, tetapi juga memperpanjang penderitaan negeri-negeri muslim.

Namun di tengah realitas pahit itu, ada pelajaran besar yang tak boleh diabaikan. Iran dengan segala keterbatasannya ternyata mampu menunjukkan bahwa keberanian melawan hegemoni bukanlah hal mustahil. Ini menjadi bukti konkret bahwa kekuatan global tidaklah absolut. Jika satu negeri saja bisa memberikan perlawanan signifikan, maka potensi kekuatan umat Islam sejatinya jauh lebih besar ketika disatukan.

Lebih dalam lagi, konflik ini juga menunjukkan bahwa yang selama ini dipersepsikan sebagai “keseimbangan kekuatan global” sejatinya hanyalah konstruksi narasi yang dijaga melalui propaganda, aliansi semu, dan tekanan politik.

Ketika satu negara mampu bertahan tanpa dukungan blok besar, maka runtuhlah asumsi bahwa dominasi dunia hanya dimonopoli segelintir kekuatan. Artinya, problem utama umat bukan ketiadaan sumber daya atau kemampuan, melainkan ketiadaan kesatuan arah dan kepemimpinan yang mampu mengonsolidasikan potensi tersebut menjadi kekuatan riil yang disegani.

Allah Swt. telah mengingatkan pentingnya persatuan umat dalam firman-Nya:
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai…” (QS. Ali Imran [3]: 103).

Sayangnya, potensi ini masih tercerai-berai. Negeri-negeri muslim hari ini berdiri sendiri-sendiri, terkotak oleh batas nasionalisme yang diwariskan penjajah. Padahal, sumber daya alam melimpah, jumlah populasi yang besar, serta posisi geografis yang strategis merupakan modal besar untuk menjadi kekuatan global yang mandiri.

Karena itu, yang paling mendesak saat ini bukan sekadar simpati atau reaksi emosional terhadap konflik, melainkan membangun kesadaran ideologis umat. Umat harus memahami bahwa akar kelemahan ini adalah ketiadaan persatuan politik yang hakiki. Persatuan yang bukan sekadar slogan, tetapi terikat dalam satu kepemimpinan dan satu sistem yang menyatukan visi serta arah perjuangan.

Di sinilah urgensi menghadirkan kembali institusi pemersatu umat dalam sebuah kepemimpinan global yang mampu mengonsolidasikan seluruh potensi negeri-negeri muslim dalam satu kekuatan. Dengan persatuan semacam ini, dominasi negara-negara adidaya bukan hanya bisa ditandingi, tetapi juga dikalahkan.

Lebih dari itu, kepemimpinan ini bukan hanya akan mengakhiri penjajahan di negeri-negeri muslim, tetapi juga membawa misi yang lebih besar: menghadirkan keadilan dan rahmat bagi seluruh dunia. Sebab, ketika kekuatan dibangun di atas nilai kebenaran, bukan kepentingan, maka yang lahir bukanlah penindasan baru, melainkan peradaban yang memuliakan manusia.

Perang AS-Iran hari ini seharusnya menjadi cermin. Bukan sekadar tentang siapa menang dan siapa kalah, tetapi tentang siapa yang mampu mengambil pelajaran. Satu negeri saja mampu mengguncang dunia. Maka bayangkan, apa yang akan terjadi jika seluruh negeri-negeri muslim benar-benar bersatu. Wallahualam Bissawwab. (**)

*Penulis Adalah Aktivis Muslimah