OPINI | HUKUM | POLITIK
“Rakyat dipaksa bertahan dalam pusaran utang. Ketika tak sanggup membayar, bunga berjalan. Ketika bunga menumpuk, tekanan meningkat. Lingkaran setan ini terus berulang,”
Oleh : Retno Purwaningtias, S.IP
LAGIi-lagi keluarga hancur…. Lagi-lagi darah tertumpah…. Dan lagi-lagi, akar persoalannya tak jauh dari tekanan ekonomi dalam sistem yang rusak.
Di Pengadilan Negeri Mataram terungkap fakta memilukan. Brigadir Rizka Sintiani didakwa menganiaya suaminya, Brigadir Esco Faska Rely, hingga tewas. Motifnya emosi karena permintaan Rp2,7 juta untuk membayar bunga pegadaian tidak dipenuhi (antaramews.com, 10/2/2026).
Rp2,7 juta. Angka yang mungkin terlihat kecil. Namun dalam sistem kapitalisme hari ini, angka kecil bisa berubah menjadi tekanan besar. Tekanan yang mencekik. Tekanan yang menggerus akal sehat. Tekanan yang akhirnya meledak menjadi tragedi.
Ini bukan sekadar konflik rumah tangga. Ini bukan hanya persoalan emosi sesaat. Ini adalah potret nyata bagaimana sistem yang menormalisasi riba perlahan menghancurkan ketahanan keluarga.
Riba Dilegalkan, Kerusakan Dibiarkan
Dalam sistem kapitalistik sekuler, utang berbunga dianggap wajar. Pegadaian berbasis bunga disebut solusi. Kredit berbunga disebut kemudahan. Pinjaman dengan tambahan dianggap bantuan. Semua dilegalkan. Semua dipromosikan.
Padahal Allah Swt. telah memperingatkan dengan tegas:
“Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275)
Riba bukan sekadar transaksi finansial. Ia adalah bentuk kezaliman. Ia menekan yang lemah. Ia menambah beban di atas beban. Ia menciptakan kecemasan yang terus menumpuk.
Ketika bunga berjalan dan kebutuhan mendesak, emosi menjadi rapuh. Pertengkaran mudah terjadi. Dan ketika akal kalah oleh tekanan, kehancuran tinggal menunggu waktu. Na’udzubillah.
Lebih menyayat hati lagi, anak pasangan tersebut yang masih berusia enam tahun disebut sempat melihat ayahnya terkapar. Trauma itu bukan sekadar peristiwa sesaat. Ia bisa menjadi luka batin seumur hidup. Siapa yang akan bertanggung jawab atas generasi yang tumbuh dalam bayang-bayang tragedi seperti ini?
Negara Hanya Datang Setelah Tragedi
Inilah wajah sistem sekuler. Negara hadir setelah darah tertumpah. Negara mengadili, memvonis, lalu selesai. Tetapi akar persoalan, riba, tekanan ekonomi, ketidakpastian hidup tetap dibiarkan.
Rakyat dipaksa bertahan dalam pusaran utang. Ketika tak sanggup membayar, bunga berjalan. Ketika bunga menumpuk, tekanan meningkat. Lingkaran setan ini terus berulang.
Mengapa? Karena dalam sistem kapitalisme, riba adalah instrumen ekonomi. Ia dianggap penopang pertumbuhan. Ia menjadi fondasi industri keuangan. Maka mustahil sistem ini sungguh-sungguh memberantasnya.
Selama agama dipisahkan dari pengaturan kehidupan, selama hukum Allah dianggap sekadar urusan pribadi, kerusakan akan terus meluas. Bukan hanya pada harta, tetapi juga pada jiwa dan keluarga.
Islam Menutup Pintu Kerusakan, Bukan Sekadar Menghukum
Islam tidak menunggu tragedi untuk bertindak. Islam menutup pintu-pintu yang mengantarkan pada tragedi. Riba diharamkan secara total, tanpa kompromi. Negara wajib menjamin kebutuhan pokok rakyatnya. Sistem ekonomi dibangun di atas keadilan dan distribusi yang benar, bukan eksploitasi berbasis bunga.
Dalam Islam, menjaga jiwa (hifzh an-nafs) adalah kewajiban. Menjaga harta (hifzh al-maal) juga kewajiban. Maka sistem yang justru menjerat rakyat dalam bunga yang mencekik jelas bertentangan dengan prinsip tersebut.
Tentu, pembunuhan adalah dosa besar dan pelakunya harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Namun berhenti pada penghukuman individu tanpa membenahi sistem adalah bentuk kelalaian yang lebih besar.
Sekali lagi, ini bukan sekadar berita kriminal. Ini adalah alarm keras bagi umat. Selama kapitalisme dengan riba sebagai jantungnya tetap dipertahankan, tragedi serupa hanya tinggal menunggu momentum berikutnya.
Kita tidak butuh sekadar sidang dan vonis. Kita butuh perubahan sistemik. Kita butuh aturan hidup yang menjaga akal, jiwa, dan keluarga, aturan yang datang dari Allah Swt., bukan dari sistem batil yang kering nilai dan sarat kezaliman. Wallahualam Bissawwab. (**)
*Penulis Adalah Aktivis Muslimah


















