
MEGAPOLITAN
“Adapun dampak bagi keluarga dari beban ekonomi yang semakin berat adalah pengangguran meningkat, daya beli menurun, kemiskinan makin bertambah dan banyak keluarga yang harus berhemat habis-habisan. Semua ini bikin kita semakin merasa berat menanggung hidup sehari-hari,”
Depok | JAWA BARAT | Lapan6Online : Menurut Guru di Ma’had Syaraful Haramain, Ustadzah Endah Widyastuti S.P., beban ekonomi di bawah sistem ekonomi kapitalis semakin berat.
Hal tersebut diungkapnya di hadapan sekitar 157 jemaah dalam Kajian Muslimah (Kamus) Shalihah: Islam Mengatasi Beban Ekonomi Keluarga, pada Ahad (26/10/2025) di Depok.
“Akhir-akhir ini, hidup terasa makin berat ya Bu, harga-harga naik terus, gas 3 kg susah dicari. banyak PHK dan keluarga makin kesulitan memenuhi kebutuhan, banyak pabrik besar tutup seperti Sritex dan Sanken. Itu semua terjadi dikarenakan kita yang hidup di bawah sistem ekonomi kapitalis,” jelasnya.
Pasalnya, menurutnya, di dalam sistem ekonomi kapitalis ini pihak yang mempunyai uang besar akan menguasai segalanya, negara hanya menjadi pengatur bukan pelindung rakyat, kebutuhan penting seperti pendidikan dan kesehatan diserahkan ke pasar, yang dapat menyebabkan rakyat kecil semakin terdesak.
“Adapun dampak bagi keluarga dari beban ekonomi yang semakin berat adalah pengangguran meningkat, daya beli menurun, kemiskinan makin bertambah dan banyak keluarga yang harus berhemat habis-habisan. Semua ini bikin kita semakin merasa berat menanggung hidup sehari-hari,” terangnya.
Oleh karena itu, lanjutnya ketika ada narasi terkait uang belanja ‘Sepuluh Ribu di tangan Istri yang tepat’, ‘Tukar peran suami yang mengurus keuangan keluarga’ atau ‘Istri Boros’dalam membelanjakan harta’ semakin hangat dengan respons dan polemik. Rata-rata ibu-ibu merasa kesal dengan narasi uang Rp10 ribu di tangan istri yang tepat.
“Terdapat juga beberapa dampak dari sistem kapitalis dalam kehidupan yaitu yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin sulit, harga layanan pablik serba mahal seperti harga air, listrik serta biaya sekolah yang semakin mahal, ukuran kesejahteraan hanya angka ekonomi bukan kebahagiaan rakyat. Jadi, sistem ekonomi kapitalis ini hanya mengejar untung bukan keadilan bagi masyarakat,” bebernya.
Ia pun menjelaskan adanya renungan bagi kita semua tentang sistem kapitalis yang saat ini diterapkan.
“Kalau sistemnya salah, hasilnya juga salah. Kapitalisme tidak adil dan tidak menyejahterakan. Islam punya aturan ekonomi yang adil, berkah, dan manusiawi. Saatnya kita kembali yakin: aturan Allah pasti lebih baik,” pungkasnya. (*Anisa Salsabila/Lpn6)

















