OPINI | POLITIK
“Kita bisa lihat bagaimana media mengampanyekan kebebasan tanpa batas, pendidikan yang menjauh dari ruh syariat, hingga budaya populer yang menormalisasi hal-hal yang jelas bertentangan dengan ajaran Islam,”
Oleh : Ardi Juanda
SETIAP perilaku yang tampak dalam diri manusia sejatinya tidak muncul begitu saja. Ia merupakan hasil dari proses panjang cara seseorang berpikir dan menilai hidup.
Dalam pandangan Islam, cara berpikir itu seharusnya tidak bebas nilai, tetapi selalu ditimbang dengan syariat sebagai ukuran benar dan salah. Namun ketika standar ini dipinggirkan—oleh logika untung rugi, keinginan sesaat, atau gaya hidup barat yang liberal—maka tak heran jika perilaku yang muncul pun jadi menyimpang.
Apa yang kita saksikan hari ini, maraknya penyimpangan akhlak dan perilaku di tengah umat Islam, bukan sekadar soal lemahnya iman atau kurangnya adab, tetapi karena tidak terbentuknya kepribadian Islam secara menyeluruh dan konsisten.
Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, seorang ulama pemikir besar, menyampaikan bahwa tindakan seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang ia pahami tentang hidup—yang disebut mafāhīm—dan semua pemahaman itu bersumber dari ideologi yang ia pegang, atau disebut mabda’. Jika seseorang tidak menjadikan Islam sebagai asas berpikir, maka nilai-nilai lain—baik dari budaya sekitar, tekanan sosial, atau pemikiran asing—akan masuk dan memengaruhi.
Maka wajar saja jika kita jumpai orang yang rajin ke pengajian, aktif dalam kegiatan Islam, tapi tetap permisif terhadap hal-hal yang jelas dilarang syariat, seperti ikhtilat, riba, atau gaya hidup konsumtif. Bukan semata karena mereka tidak tahu, tapi karena filter berpikirnya belum dibangun dengan kokoh.

Ada satu hal penting yang sering luput dari perhatian, yaitu adanya tsughūr as-sulūk—celah dalam kepribadian. Istilah ini dipakai Syekh Taqiyuddin untuk menggambarkan bagian dari diri kita yang belum tertutup rapat oleh pemahaman Islam. Di celah itulah masuknya pengaruh luar yang merusak. Seperti air yang masuk melalui retakan kecil di dinding, perlahan tapi pasti merusak struktur dari dalam. Jika pemahaman Islam tidak ditanamkan secara mendalam dan menyeluruh, celah itu akan tetap terbuka, dan lambat laun, kepribadian Islami pun goyah.
Lebih dari itu, celah-celah ini bukan hanya masalah pribadi, tapi juga masalah sistemik. Sistem hidup saat ini—yang berlandaskan kapitalisme sekuler—secara langsung maupun tidak, ikut memperlebar celah itu. Kita bisa lihat bagaimana media mengampanyekan kebebasan tanpa batas, pendidikan yang menjauh dari ruh syariat, hingga budaya populer yang menormalisasi hal-hal yang jelas bertentangan dengan ajaran Islam.
Akibatnya, meski ada semangat hijrah dan kebangkitan Islam, banyak yang tetap tergelincir karena lingkungan yang mereka tempati tidak mendukung lahirnya kepribadian Islami.
Kalau begitu, apa solusinya? Islam tidak mengenal solusi tambal sulam. Perubahan sejati harus dimulai dengan pembentukan kepribadian Islam yang benar-benar kuat. Ini artinya setiap Muslim perlu dibina agar memiliki aqliyyah Islamiyyah, yaitu pola pikir berdasarkan Islam, dan nafsiyyah Islamiyyah, yakni dorongan jiwa yang selaras dengan iman.
Pembinaan ini tidak cukup hanya dari ceramah-ceramah singkat atau konten media sosial, tetapi dari proses pembinaan yang serius dan berkelanjutan—yang menjadikan Islam sebagai fondasi utama dalam memandang hidup.
Namun, membentuk individu yang saleh saja tidak cukup jika mereka tetap hidup dalam lingkungan yang rusak. Karena itu, Islam juga menyerukan pentingnya kehidupan berjamaah dalam dakwah. Komunitas dakwah yang berpikir secara ideologis sangat penting untuk menjaga keteguhan pemikiran, menyebarkan kesadaran, dan membendung masuknya arus pemikiran asing.
Sejarah telah menunjukkan bahwa dakwah yang dilakukan secara kolektif bisa melahirkan kesadaran umum yang berpengaruh luas dalam membentuk masyarakat yang kuat dan tahan terhadap serangan pemikiran luar.
Langkah terakhir yang tak kalah penting adalah perubahan pada tingkat sistem.
Selama kita masih hidup dalam sistem kehidupan yang bertentangan dengan syariat—baik dalam bidang pendidikan, ekonomi, media, maupun politik—maka cacat perilaku akan tetap ada dan bahkan makin parah. Islam memerintahkan penerapan syariat secara menyeluruh, tidak sepotong-sepotong. Dan sistem yang mampu mewujudkannya adalah Khilafah Islamiyah, bukan sekadar simbol pemerintahan, tetapi sebagai pelindung aqidah, penjaga akhlak, dan pelaksana hukum Allah secara nyata.
Jadi jelaslah, bahwa akar dari cacat perilaku bukan hanya pada diri individu, tetapi pada cara berpikir yang salah dan sistem yang rusak.
Karena itu, solusi yang kita butuhkan bukan sekadar pelatihan karakter atau edukasi moral, melainkan perombakan menyeluruh terhadap cara berpikir, cara hidup, dan sistem yang menopangnya. Islam telah menyediakan semua perangkat untuk itu. Sekarang tinggal kita sendiri—apakah akan terus terjebak dalam lingkaran penyimpangan, atau bangkit menjadi pribadi muslim sejati yang berpikir dan hidup dengan panduan wahyu, bukan sekadar selera dunia. (**)
*Penulis Adalah Praktisi SDM


















