Dari HOTS ke “Hot Sambel”: Rapat LCC PAI yang Bikin Otak Ngebul, Perut Ikut Kumpul

0
0

Garut, I Jawa Barat I Lapan6Online :  Hari libur biasanya jadi momen sakral untuk rebahan, ngopi, dan berdamai dengan kasur. Tapi tidak bagi para guru PAI SD ini. Saat sebagian orang masih tarik selimut, mereka justru sudah “tarik kursi” dan siap berperang, bukan dengan senjata, tapi dengan soal LCC PAI yang levelnya bisa bikin dahi berkerut sampai menyerupai peta topografi.

Bertempat di kediaman Guru PAI SDN 2 Binakarya, Deden Jaja Sukria, S.Pd.I, di Kampung Sarlega, Desa Binakarya, Kecamatan Banyuresmi, Sabtu (18/4/2026), kegiatan pembinaan materi LCC PAI berlangsung penuh semangat. Suasananya serius, namun tetap cair. Lebih tepatnya: tegang sedikit, lapar banyak.

Panitia LCC dari Kecamatan Wanaraja, Karangpawitan, Banyuresmi, dan Tarogong Kidul hadir lengkap. Misinya satu: menyusun soal yang tidak hanya menguji kecerdasan peserta, tetapi juga membuat juri mantap mengangguk, bukan malah garuk-garuk kepala sambil berbisik, “Ini soal atau teka-teki silang versi ekstrem?”

Ketika suasana mulai “memanas”, Pengawas Kementerian Agama Kabupaten Garut, Deden Ridwan, S.Ag., M.Ag., tampil memberikan arahan dengan penuh energi.
“Soal LCC harus berbasis Kurikulum Merdeka dan mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi. Harus HOTS!” tegasnya.

Seluruh peserta mengangguk serius. Namun, di balik keseriusan itu, ada “gangguan fokus” yang cukup menggoda. Bukan pada konsep HOTS (Higher Order Thinking Skills), melainkan pada “hots” versi dapur: sambel yang sejak awal sudah menguji keimanan dan ketahanan lidah.

Benar saja, di sela diskusi yang berat, tersaji hidangan khas Sunda yang tak kalah “berat pengaruhnya”: nasi liwet hangat, ayam kampung, olahan entog, sambel pedas level “insaf”, serta pete dengan aroma khas yang, jika dikirim ke luar negeri, mungkin perlu izin khusus.

Suasana pun menjadi kontras yang menggelitik.
Di satu sisi terdengar,
“Pendekatan soal ini harus berbasis analisis kontekstual…”
Di sisi lain muncul bisikan,
“Ini sambelnya pakai cabe berapa kilo? Kok bisa bikin mata berair tanpa konflik batin?”

Diskusi berjalan dinamis, kadang serius layaknya forum akademik, kadang santai seperti obrolan warung kopi. Bahkan sesekali muncul perdebatan ringan yang terdengar seperti ini:
“Ini soal terlalu sulit.”
“Atau kita yang kurang asupan?”

Meski dibalut suasana penuh canda, standar kualitas tetap dijaga. Para guru memastikan setiap soal bersifat adil, tidak menjebak secara tidak sehat, dan benar-benar mencerminkan capaian pembelajaran. Sebab jika soal keliru, bukan hanya peserta yang kebingungan—panitia pun bisa ikut “remedial perasaan”.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Pentas PAI 2026 yang dilaksanakan secara berjenjang. Artinya, soal-soal yang lahir dari tim LCC PAI ini bukan sekadar soal biasa, melainkan penentu langkah peserta menuju level berikutnya. Maka, prinsip utama yang dipegang teguh adalah: soal harus masuk logika, bukan sekadar urusan logistik.

Menjelang akhir kegiatan, suasana mulai melandai. Perut yang kenyang perlahan “menggeser” fokus. Ada yang tetap konsentrasi, ada pula yang mulai menatap tembok dengan tatapan filosofis, antara merenungi kehidupan atau sekadar menghitung berapa piring nasi liwet yang telah “berjasa”.

Namun satu hal yang pasti, dari pertemuan ini lahir soal-soal LCC yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga sarat “bumbu”: bumbu kebersamaan, bumbu tawa, dan tentu saja bumbu sambel yang meninggalkan jejak mendalam, baik di ingatan maupun di lidah.

Pada akhirnya, kegiatan ini membuktikan bahwa profesionalitas tidak selalu harus hadir dalam suasana kaku. Justru dari ruang yang hangat, santai, dan penuh kebersamaan, lahir karya terbaik.

Dari TIM LCC PAI untuk Indonesia, semoga soal-soal ini mampu melahirkan generasi yang cerdas, kritis, dan tetap mampu tersenyum, meski harus menghadapi soal HOTS dan sambel dengan level keberanian tinggi. (*Deden JS/Lpn6)