Ibu dan Bayi Meninggal Akibat Bobroknya Pelayanan Kesehatan

0
24
Foto : Ist.

OPINI | POLITIK | HUKUM | EKONOMI

“Bila yang sakit orang dengan strata sosial atas, maka pelayanan kesehatan akan disegerakan dan ditindak oleh tenaga kesehatan dengan kualiatas dunia, sedangkan bila yang sakit justru sebaliknya, sudah dipastikan akan sulit secara keseluruhan,”

Oleh : Huda Reema Naayla

NEGERI ini kembali digemparkan dengan kabar tragis kematian seorang ibu beserta bayi dalam kandungan akibat kegagalan negara dalam menyelenggarakan fasilitas kesehatan yang layak.

Pengabaian serta penelantaran pasien gawat darurat baru-baru ini terjadi di wilayah timur negeri ini, Papua. Kawasan yang dikenal sebagai Bumi Cendrawasih, kaya akan sumber daya alam berupa emas dan mineral lainnya. Ironisnya, di tengah kekayaan alam itu, masyarakat justru sangat sulit memperoleh layanan kesehatan yang memadai.

Sebagaimana diberitakan news.detik.com, (28/11/2025), seorang wanita bernama Irene Sokoy dan bayi dalam kandungannya meninggal dunia setelah ditolak oleh empat rumah sakit di Kabupaten dan Kota Jayapura, Papua. Irene, warga Kampung Hobong, Distrik Sentani, Jayapura, menghembuskan napas terakhir bersama bayinya dalam perjalanan bolak-balik menuju RSUD Dok II Jayapura pada Senin (17/11), sekitar pukul 05.00 WIT, setelah sebelumnya ditolak sejumlah rumah sakit. Tragedi ini terjadi pada Minggu (23/11/2025).

Penolakan rumah sakit terhadap pasien merupakan bukti bobroknya sistem pelayanan kesehatan di negeri ini. Hadirnya BPJS Kesehatan sebagai bentuk uluran tangan penguasa dalam menjamin hak dasar rakyat berupa kesehatan nyatanya masih digunakan sebagai motif bisnis materialistik.

Tidak bisa terelakkan, negeri yang menerapkan sistem sekuler kapitalis tidak akan pernah membiarkan rakyat hidup dalam ketenangan. Sebagaimana yang terjadi pada Irene, saat sudah mengalami gawat darurat apabila ingin mendapatkan tindakan maka harus merogoh kocek yang tidak sedikit. Alasan tidak diterima karena ruangan yang akan digunakan sudah penuh dan bila ingin mendapatkan ruangan lain harus membayar uang muka terlebih dahulu.

Kalau dilihat, ada yang dilupakan oleh penguasa negeri ini, pelayanan kesehatan yang memadai sepenuhnya tanggung jawab negara. Oleh karena itu, pengabaian yang dilakukan oleh penguasa termasuk kezaliman. Kezaliman secara nyata ini sudah banyak merenggut nyawa rakyat, baik laki laki maupun perempuan dari usia anak-anak hingga lansia.

Adanya kesenjangan sosial turut meramaikan bobroknya pelayanan kesehatan yang dihadirkan oleh negara. Bagaimana tidak, bila yang sakit orang dengan strata sosial atas, maka pelayanan kesehatan akan disegerakan dan ditindak oleh tenaga kesehatan dengan kualiatas dunia, sedangkan bila yang sakit justru sebaliknya, sudah dipastikan akan sulit secara keseluruhan.

Padahal semua rakyat berhak mendapatkan pelayanan kesehatan secara gratis diikuti dengan akses yang mudah dan berkualitas, tanpa memandang strata sosial. Seperti sebuah khayalan yang tidak mungkin terjadi saat ini. Nyatanya hal seperti ini akan terjadi apabila Islam diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan.

Sebagaimana yang terjadi di negara yang menerapkan sistem Islam kaffah, yakni Khilafah Islam. Perhatian Khilafah Islam sepanjang peradaban Islam diterapkan dalam mewujudkan sistem pelayanan kesehatan. Hal tersebut bukan sekadar omong kosong belaka saat kampanye dilangsungkan melainkan aksi nyata dalam kehidupan. (**)

*Penulis Adalah Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok