EKONOMI
“Kenaikan IPH di Sulsel, tertinggi di Kabupaten Barru sebesar 4,58, dipicu daging ayam ras, cabai rawit, dan daging sapi. Disusul Jeneponto (2,39) dengan penyumbang pisang, telur ayam ras dan cabai merah,”
Makassar | SULSEL | Lapan6Online :Indeks Perkembangan Harga (IPH) gabungan Sulawesi Selatan pada pekan pertama Maret 2026 tercatat naik 0,61. Kenaikan terutama dipicu cabai rawit, daging sapi dan telur ayam ras.
Data tersebut disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) RI dalam Rapat Koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Indonesia yang digelar secara langsung di Jakarta dan dalam jaringan di seluruh daerah, pada Senin (9/3/2026).
“Pada M1 Maret 2026, tercatat sebanyak 23 provinsi mengalami kenaikan IPH dan 15 provinsi mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya. Komoditas penyumbang andil kenaikan IPH di 23 provinsi yang mengalami kenaikan IPH adalah cabai rawit, daging ayam ras, dan daging sapi,” kata Amalia Adininggar Widyasanti.
Informasi yang diterima Redaksi Lapan6Online.com menyebutkan data tersebut berasal dari BPS RI, yang bersumber dari Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan.
Kenaikan IPH di Sulsel, tertinggi di Kabupaten Barru sebesar 4,58, dipicu daging ayam ras, cabai rawit, dan daging sapi. Disusul Jeneponto (2,39) dengan penyumbang pisang, telur ayam ras dan cabai merah. Kemudian Takalar (1,77) yang didorong daging sapi, cabai merah, dan beras.
Kenaikan juga terjadi di Bantaeng (1,27), Toraja Utara (1,07), Luwu Utara (0,89), Pangkajene Kepulauan (0,78), Maros (0,65), Soppeng (0,65), Pinrang (0,54), Kepulauan Selayar (0,37) dan Enrekang (0,24).
Sebaliknya, IPH menurun di Luwu (-0,04), Sinjai (-0,44), Gowa (-0,57) dan Tana Toraja (-1,25) terutama dipengaruhi penurunan harga beras, cabai merah dan daging ayam ras.
Data ini menunjukkan komoditas pangan, terutama cabai dan protein hewani, masih menjadi faktor utama pergerakan harga di daerah.
*Pewarta : Nafsul Muthmainnah
*Editor : Amrullah Andi Faisal


















